INILAH, Jakarta- Mereka yang tergabung dalam kajian Tasawuf Underground hampir seluruhnya merupakan anak-anak jalanan. Kehidupannya keras. Cap Urakan tak terhindarkan.
Hari itu, waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, lantunan azan, lirih menggema semesta. Pria berbadan kurus mengingatkan yang lainnya untuk segera bergegas menuju masjid. Dia adalah Apriansyah (21).
Pria yang kedua tangannya dipenuhi rajahan tinta hitam adalah seseorang yang menghabiskan hari-harinya dengan memetik senar gitar kecilnya di kawasan Jakarta dan kolong jembatan depan stasiun Tebet. Tatapan matanya yang tajam, kulit legamnya yang terbakar matahari langsung mengubah pandangan negatif saat mengajak salat.
“Sebelum saya di kolong jembatan ini saya ngamen, nongkrong, ngamen muter nyari duit bolak balik ke Depok, Manggarai nyari duit, akhirnya nongkrong dekat stasiun sini” kenangnya sambil memegang tatonya.
Friansyah bercerita, dulu ia tak pernah tahu akan huruf Hijaiyah atau tata cara menyucikan diri. Situasi berbalik saat ia bertemu dengan seseorang yang baru dikenali melontarkan pertanyaan.
“Dia bertanya, Kamu tahu puluhan lagu, tapi berapa surat Alquran yang kamu hapal?” ucapnya menirukan.
Pertanyaan itu membuat dirinya merasa terpukul bahwa selama ini ia sangat jauh dengan Sang Pencipta. Berjalan jauh hingga ke Tebet, akhirnya ia menemukan wadah yang akan membuat hidupnya berubah dan merasa dekat dengan Tuhan.
Hal serupa dirasakan Irfan Saputra (20). Melawan stigma negatif memerlukan waktu yang panjang. Hidup sebagai anak punk, tidak jarang Irfan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Misalnya, orang-orang yang sedang bermain ponsel di angkot akan tiba-tiba memasukkan ponselnya ke dalam tas jika Irfan dan kawannya ngamen.
“Kadang kalau lewat kemana aja itu diliatin, diomongin dari belakang. Saya mah gak peduli lah orang saya gak ada niat apa-apa. Cuma niat menjemput rezeki,” ujarnya.
Menjadi orang yang tinggal di kolong jembatan dan pengalaman ditangkap satpol PP pun sering ia alami.
Salah satunya adalah ketika dulu ia masih tidur di bawah kolong jembatan Matraman, Jakarta Timur pada tahun 2010. Satpol PP menangkapnya untuk kemudian dikirimkan ke Serpong, Tangerang. Di Serpong terdapat salah satu tempat dikumpulkannya para penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Kini ia menemukan rumah baru dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sedarah. Jika, ada salah satu kawannya mengalami masalah, mereka bahu berupaya untuk membantu dengan catatan tidak melakukan aksi kriminalitas.
“Kami berkumpul tidak hanya mengaji tapi mengadvokasi teman-teman yang terkena masalah,” timpal Halim Ambiya, pendiri Tasawuf Underground.
Stigma negatif perlahan mulai pudar meski perlu waktu panjang untuk benar-benar mengubah pandangan masyarakat. Hal itu tercermin dari berbagai relawan yang juga ikut membantu Halim mengajar. Seperti dilakukan Ahmad, seorang psikolog asal DKI Jakarta. Saat tidak ada pekerjaan menumpuk, ia selalu menyempatkan diri ke kolong jembatan Tebet.
Ia membantu puluhan anak-anak punk dalam hal Trauma Healing. Anak-anak punk diajarkan mengenai konsep hidup dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Para relawan lain pun membuka jalan kepada anak-anak punk untuk bisa meraih hak hidup yang layak. Beberapa orang di antara mereka bahkan telah bekerja sebagai barista di suatu kafe dan menjadi penjaga toko, sementara sisanya berjualan di depan Stasiun Tebet.
“Kami berharap agar mereka tidak bergantung hidup di jalanan tapi memiliki perkerjaan yang lebih menguntungkan bagi kehidupan mereka,” kata Halim.
Perjuangan untuk bisa lepas dari ketergantungan kehidupan jalanan pun secara perlahan hilang. Sebagian dari mereka tidak tidur di kolong jembatan, namun secara patungan untuk menyewa kamar kos di sekitaran Tebet.
Ia berharap, gerakan yang dibangun dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk melakukan hal serupa. Tak hanya di Ibukota saja, namun merambah ke seluruh daerah di Indonesia karena gerakan ini bukan hanya mengejar sisi duniawi semata, namun menjadi bekal di akhirat nanti. (habis)