Tekan Risiko Obat Kedaluwarsa, Si Geulis Mulai Diuji di Kota Bandung

Dinkes Kota Bandung mengembangkan aplikasi Si Geulis guna menekan risiko obat kedaluwarsa yang berpotensi merugikan anggaran.

Tekan Risiko Obat Kedaluwarsa, Si Geulis Mulai Diuji di Kota Bandung
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung Detty Kurnia mengatakan, dalam tiga tahun terakhir terdapat obat kedaluwarsa yang harus dimusnahkan termasuk biaya pemusnahannya. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengembangkan aplikasi sistem integrasi digitalisasi perencanaan, pengelolaan dan pengawasan obat (Si Geulis) guna menekan risiko obat kedaluwarsa yang berpotensi merugikan anggaran.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung Detty Kurnia mengatakan, dalam tiga tahun terakhir terdapat obat kedaluwarsa yang harus dimusnahkan termasuk biaya pemusnahannya.

“Dengan permasalahan yang muncul, saya berharap Si Geulis dapat hadir dan memberikan jawaban. Kita ingin pengelolaan obat ini lebih terintegrasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan,” kata Detty, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, persoalan obat kedaluwarsa menjadi salah satu latar belakang pengembangan Si Geulis. Perencanaan kebutuhan dan pencatatan obat, dinilai perlu dibenahi agar persediaan sesuai kebutuhan fasilitas kesehatan.

Si Geulis mulai diluncurkan pada 8 Oktober 2026. Saat ini, aplikasi memasuki tahap uji coba di delapan puskesmas dan sepuluh apotek di Kota Bandung.

"Salah satu fitur utamanya adalah pemantauan stok, dan masa kedaluwarsa obat. Fasilitas kesehatan akan memasukkan data obat yang diterima, digunakan dan dikeluarkan," ucapnya.

Data itu digunakan guna memantau ketersediaan obat, sekaligus mengidentifikasi persediaan yang mendekati masa kedaluwarsa. Sistem juga dilengkapi peringatan dini atau early warning system.

“Ketika obat mendekati masa kedaluwarsa misalnya tiga bulan, kita perlu mengecek kembali apakah obat tersebut bisa diredistribusikan ke fasilitas kesehatan lain,” ujar dia.

Dia menambahkan, sistem akan memberikan peringatan ketika obat masih memiliki masa kedaluwarsa sekitar enam bulan. Dengan begitu, fasilitas kesehatan dapat melakukan antisipasi lebih awal.

Selain pemantauan stok, Dinkes Kota Bandung mendorong puskesmas memperbaiki perencanaan kebutuhan obat melalui analisis kombinasi ABC-VEN. Metode ini membantu menentukan prioritas berdasarkan nilai pemakaian, dan tingkat kepentingan klinis obat.

Detty menegaskan, distribusi obat tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang sama ke setiap puskesmas. Penyalurannya harus mempertimbangkan jumlah pasien, karakteristik pelayanan dan kemampuan anggaran.

"Melalui perencanaan berbasis data, risiko penumpukan persediaan diharapkan dapat ditekan. Langkah ini juga ditujukan meningkatkan efisiensi anggaran dan menjaga ketersediaan obat," jelasnya.

Pihaknya pun menargetkan, penerapan Si Geulis diperluas secara bertahap pada 2027. Sosialisasi dan pendampingan teknis, juga disiapkan guna mendukung penggunaan aplikasi di fasilitas kesehatan.

Foto ilustrasi : Obat-obatan yang masa kedaluwarsanya perlu dipantau untuk mencegah kerugian anggaran


Editor : Doni Ramdhani