Polisi Sebut Pelaku Aksi Anarkis di Bandung Positif Tramadol dan Eximer
Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Bandung mendeteksi adanya keterkaitan antara maraknya peredaran obat keras ilegal dengan munculnya aksi-aksi anarkis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Bandung mendeteksi adanya keterkaitan antara maraknya peredaran obat keras ilegal dengan munculnya aksi-aksi anarkis di wilayah Bandung.
Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Bandung Kompol Oliesta Ageng Wicaksana mengungkapkan, fakta itu terungkap dari hasil tes urine terhadap sejumlah perusuh yang diamankan polisi pada beberapa kejadian terakhir.
"Dari beberapa kejadian, baik yang baru-baru ini maupun sebelumnya, pelaku-pelaku anarkis sempat dilaksanakan cek urine. Kondisinya memang banyak yang di bawah pengaruh obat-obatan keras tertentu," kata Oliesta di Bandung, Kamis (5/11/2026).
Oliesta menjelaskan, jenis obat keras yang dominan dikonsumsi oleh para pelaku aksi anarkis tersebut adalah Tramadol dan Eximer.
"Dua jenis itu yang paling sering, Tramadol dan Eximer. Tramadol harganya lebih mahal, sekitar Rp500 ribu per pak isi 100 butir. Kalau Eximer lebih murah, di bawahnya, sekitar Rp300 ribuan," terangnya.
Editor : Doni Ramdhani

