The Hallway Space Pasar Kosambi Capai Omzet Rp50 Juta Per Hari, Arfi Rafnialdi : Harapan Ekonomi Kreatif Kota Bandung Terus Berputar

Empat tahun lebih berjalan, ruang kreatif di Pasar Tradisional Kosambi, The Hallway Space mulai tenar sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi muda mudi Kota Bandung

The Hallway Space Pasar Kosambi Capai Omzet Rp50 Juta Per Hari, Arfi Rafnialdi : Harapan Ekonomi Kreatif Kota Bandung Terus Berputar

INILAHKORAN, Bandung - Empat tahun lebih berjalan, ruang kreatif di Pasar Tradisional Kosambi, The Hallway Space mulai tenar sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi muda mudi Kota Bandung. 

Founder The Hallway Space, Faizal Budiman (33) mengatakan, awalnya  2019 lalu tempat tersebut merupakan ruang mubazir yang tidak terpakai di Pasar Kosambi. Bermodal uang Rp. 20.000.000 yang digalang patungan bersama rekan-rekannya, mereka akhirnya menyulap lantai terbengkalai ini menjadi sebuah ekosistem ekonomi kreatif yang memiliki daya tarik tersendiri. 

"Ngebangun The Hallway Space itu modalnya cuma patungan Rp 5 juta per orang dari empat orang. Kita izinnya ke Perumda Pasar. Dulu tempat ini sepi, terbengkalai 15 tahun. Awalnya cuma dua toko. Kita punya cita-cita kepingin punya toko yang bagus, tapi enggak kepingin yang sewanya mahal karena di Kota Bandung ini  kan sewa toko mahal. Akhirnya kita tertarik di pasar karena di pasar punya harga sewa yang murah," kata pria yang akrab disapa Bob tersebut, Senin 15 Juli 2024.

Pandemi Covid 19 tidak menyurutkan Bob, dan rekan-rekannya untuk menyulap The Hallway Space menjadi sebuah tempat 'nongkrong' anak muda kreatif Kota Bandung. Hingga pada akhirnya, pada 1 Oktober 2020 setelah satu tahun mengumpulkan tenan-tenan dengan visi misi yang sama serta sedikit sedikit renovasi fisik, The Hallway Space dibuka untuk umum. 

"Soft opening 1 Oktober 2020. Trafiknya udah seribuan orang perhari orang yang datang. Dulu  20 toko pertama isinya teman-teman KOL. 20 toko pertama kita kasih sewa setahun gratis buat ngeboosting hingga sekarang jadi 140 toko yang kita kelola," ucapnya.

Karena dikelola dengan apik dalam segala hal, The Hallway Space hingga saat ini tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, omzet beberapa toko pun terbilang cukup tinggi. 

"Omzet dipukul rata saja. Kalau misalkan dalam satu hari 1.000 orang yang datang dikali satu orang minimal spendmoneynya Rp 50.000 mungkin udah 50 juta perhari untuk keseluruhan. Tahun kemarin pas Ramadan bahkan ada yang sampai Rp 1 miliar per bulan," ujar dia

Bob menjelaskan, The Hallway Space bisa bertahan hingga saat ini karena saling support antar tenant terutama dalam hal promosi media sosial yang dibuat selalu menarik. Tidak hanya promosi, produk-produk yang di jual pun dikurasi secara detil dan tidak sembarangan orang bisa berjualan. 

"Kita ada beberapa tenan yang punya loyal customer sendiri Kurasi tenant biar vibesnya tetap terjaga. Dari proses kurasi itu hasilnya si bentuk toko jadi lebih enak dipandang," ucapnya. 

Kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung di bawah kepemimpinan wali kota yang baru nantinya, harapan pelaku bisnis kreatif di lokasi ini terbilang sederhana. Mereka hanya berharap tetap bisa mengekspresikan kreatifitas mereka di sini. 

"Harapannya atau targetnya, kepingen tempat ini tetap ada, menjadi salah satu wadah atau ekosistem ekonomi kreatif di Bandung. Konsep Ini sudah terduplikasi di kota lain seperti di Surabaya dan Solo. Kalau ini bisa terduplikasi di kota-kota lain jadi banyak aset-aset pasar yang bisa hidup," ujar dia.

Di lain sisi, bakal calon Wali Kota Bandung Arfi Rafnialdi tengah menikmati semangkuk cuanki di sudut The Hallway Space. Selain kuliner, ia juga membeli kaos  di toko Senikanji dengan harga Rp 150.000

"Cuankinya enak pisan, ini juga masih mau cari  tempat ngopi yang enak. Tadi di depan sempat beli kaos Senikanji. Kaosnya unik tulisan pepatah bahasa Indonesia tapi tulisan kanji. Saya penasaran pas di google translate ternyata benar artinya," kata Arfi Rafnialdi. 

Ia mengaku sangat kagum dengan The Hallway Space yang terus bertumbuh menjadi ruang berekspresi anak muda kreatif Kota Bandung. Menurutnya, The Hallway Space berhasil membuat generasi muda mau datang berkunjung ke Pasar Tradisional. 

"Anak muda kan jarang mau ke pasar kalau pasarnya biasa-biasa saja. Tapi ternyata bisa jadi keren banget. Bahkan tadi ngobrol sama Bob, ternyata justru aktivasi di The Hallway Space ini  membuat pasar ini jadi hidup 24 jam. Sore sampai ke malam pada nongkrong, ada yang launching produk, ada yang mini konser yang lebih intimate. Dan malamnya sudah mulai persiapan pasar basah, jadi nyambung terus," ucapnya.

Namun demikian, Arfi menambahkan, dengan karakteristik yang berbeda-beda, tidak semua pasar di Kota Bandung bisa mengusung konsep serupa dengan The Hallway Space.

"Enggak harus semua sama kaya gini. Saya meyakini kreatifnya orang Bandung bisa membuat kekhasan dari satu tempat. Mungkin ada beberapa tempat yang bisa dengan konsep seperti ini, tapi bisa jadi di pasar yang lain perlu kreatifitas yang berbeda. Ini sebetulnya harapan agar ekonomi kreatif berputar terus, karena kita berharap orang-orang yang datang dan hidup di kota ini taraf hidupnya meningkat," ujar dia. *** 


Editor : Ahmad Sayuti