Timnas Bisa Gawat, Irak Goda Bintang Muda Barcelona Ini untuk Naturalisasi, Kelasnya Bukan Ecek-ecek

Ancaman buat perjuangan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Irak mulai menggoda bintang muda Barcelona, Noah Darvich, untuk dinaturalisasi.

Timnas Bisa Gawat, Irak Goda Bintang Muda Barcelona Ini untuk Naturalisasi, Kelasnya Bukan Ecek-ecek

INILAHKORAN, Barcelona – Ancaman buat perjuangan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Irak mulai menggoda bintang muda Barcelona, Noah Darvich, untuk dinaturalisasi.

Bersama Arab Saudi, Irak menjadi salah satu rival Timnas Indonesia untuk memperebutkan tiket Piala Dunia 2026 melalui playoff kualifikasi menjelang akhir tahun ini.

Dalam upaya menembus Piala Dunia 2026 itulah, Asosiasi Sepak Bola Irak mengimpikan Noah Darvich untuk membela tim nasionalnya menghadapi Timnas Indonesia dan Arab Saudi.

Noah Darvich dianggap sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Eropa. Dia lahir dari Akademi Barcelona dan kini sudah mulai menembus tim utama.

Asosiasi Sepak Bola Irak sudah berupaya mewujudkan mimpinya jadi kenyataan, yakni menggaet Noah Darvich untuk bergabung dengan Singa Mespotamia dalam waktu dekat ini.

Noah Darvich sendiri sebelumnya sudah pernah bermain untuk Timnas Jerman U19. Dia bahkan menjadi kaptennya. Saat mengalahkan Inggris U19, Noah Darvich bahkan mencetak gol pertamanya di Timnas Jerman U19.

Noah Darvich adalah pemain keturunan Irak. Dalam beberapa waktu terakhir, dia menarik perhatian, terutama dengan kemampuan tekniknya yang tinggi.

Tak hanya itu, dia jga memiliki postur terhitung tinggi dan bisa main di berbagai posisi. Noah Darvich punya kemampuan bermain sebagai gelandang bertahan, playmaker, sayap kanan dan memiliki kemahiran mengolah bola dengan kaki kirinya.

Itu sebabnya, dia menjadi target penting dalam agenda Asosiasi Sepak Bola Irak untuk dinaturalisasi. Mereka memprioritaskan penarikan talenta ekspatriat sebagai salah satu pilihan strategisnya.

Salah satu daya tarik Irak yang paling menonjol dalam karier Darvich terletak pada popularitasnya yang luar biasa di kalangan fans Irak.

Pemain tersebut menikmati interaksi yang luas di platform media sosial dan selalu mendapat dukungan dan cinta dari para fansnya di Irak yang ingin melihatnya mengenakan seragam tim nasional.

Faktor ini bukan hal sepele dalam kasus serupa. Sebelumnya, faktor itu juga memainkan peran krusial dalam meyakinkan bintang Zidane Iqbal, mantan pemain Manchester United, untuk mewakili Irak, alih-alih Inggris.

Karena rasa memiliki dan dukungan penggemar yang luar biasa, yang dapat diulangi dengan Darvich.

Di antara faktor-faktor lain juga dipaparkan adalah situasi terkini rekan setimnya di Stuttgart, Amin Al-Dakhil. Bek Belgia asal Irak itu sebelumnya telah menjadi subjek banyak kontroversi terkait mewakili Irak, sebelum akhirnya memilih bermain untuk tim nasional Belgia.

Meskipun Al-Dakhil memilih tim nasional Eropa yang besar, ia belum mendapat cukup kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Hal ini mengirimkan pesan tersirat kepada Darvich: peluang di tim nasional Irak akan lebih besar, dan posisi awalnya terjamin dalam jangka menengah, tidak seperti tim nasional Jerman yang penuh bakat.

Kasus Darvich juga mengingatkan kita pada pengalaman pemain Youssef Amin, yang sempat ragu untuk bergabung dengan timnas Irak. Tetapi lolosnya ke Piala Dunia U-20 2023 menjadi titik balik yang meyakinkannya untuk mengenakan seragam Irak.

Oleh karena itu, Asosiasi Sepak Bola Irak berharap lolos ke turnamen-turnamen besar, terutama Piala Dunia 2026, akan menjadi daya tarik bagi Darvich dan ekspatriat lainnya untuk membentuk tim yang kuat dengan perpaduan pemain lokal dan profesional berbakat di Eropa.

Darvich baru-baru ini pindah ke Stuttgart dari Akademi Barcelona, dengan aspirasi besar untuk mengukir namanya di Bundesliga. 

Nilai pasar pemain tersebut saat ini diperkirakan mencapai 2 juta euro, dengan potensi peningkatan jika ia terus menunjukkan performa yang diharapkan.

Sementara sang pemain mempersiapkan masa depannya di stadion-stadion Eropa, pintu tetap terbuka bagi tim nasional Irak, yang sedang berupaya keras untuk meyakinkannya mengenakan seragam hijau di tahun-tahun mendatang.

Noah Darvich bukan sekadar pemain berbakat, tetapi calon pemimpin masa depan, dan ia bisa menjadi tambahan yang berkualitas bagi tim nasional Irak jika upaya persuasi berhasil, memperoleh keuntungan dari kecintaan penggemar, nasihat dari mereka yang pernah mengalaminya, dan pelajaran yang dipetik dari kasus serupa. (*)


Editor : Zulfirman