Tinggal di Gubuk Reyot, Hujan Turun Dianah dan Dua Anaknya Bersiap Mengungsi
Di sudut Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah rumah kecil berukuran sekitar 3x3 meter.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di sudut Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah rumah kecil berukuran sekitar 3x3 meter.
Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di sana-sini. Sebagian tampak rapuh dimakan usia, sebagian lagi nyaris roboh diterpa angin.
Di rumah itulah Dianah (38) bertahan hidup bersama dua anaknya. Setiap kali langit mulai gelap dan angin bertiup kencang, perasaan cemas langsung menghantui ibu dua anak itu. Bukan takut kehujanan, melainkan takut rumahnya ambruk sewaktu-waktu.
Jika hujan deras datang, Dianah memilih meninggalkan rumahnya. Ia membawa kedua anaknya mengungsi ke rumah saudara yang masih berada di desa yang sama.
“Kalau hujan deras saya ngungsi. Takut rumah roboh,” ucapnya Jumat 15 Mei 2026.
Menurutnya, air hujan kerap masuk menembus celah-celah dinding bambu. Lantai rumah yang masih berupa tanah membuat air mudah menggenang dan berubah menjadi lumpur becek. Rumah itu bukan hanya sempit, tapi juga tak lagi memberi rasa aman.
Dianah mengaku sudah sekitar empat tahun tinggal dalam kondisi tersebut. Selama itu pula ia mencoba bertahan di tengah keterbatasan hidup, sementara suaminya merantau bekerja di Kalimantan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Suami kerja di Kalimantan. Saya di sini sama anak-anak,” katanya.
Di tengah himpitan ekonomi, cobaan Dianah tidak berhenti pada kondisi rumah yang memprihatinkan. Anak pertamanya, Aji (16) kini mengalami perubahan perilaku yang membuatnya sedih setiap hari.
Menurut Dianah, Aji dulunya tumbuh seperti anak-anak lain pada umumnya. Dia sempat bersekolah di SMP Negeri 2 Pangenan. Namun sejak setahun terakhir, Aji berubah menjadi pendiam, sering melamun, bahkan terkadang mengamuk sendiri.
Dianah menduga perubahan itu bermula ketika motor milik anaknya terpaksa dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
“Awalnya karena motor dijual. Mungkin juga karena pergaulan, jadi sering melamun,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Aji akhirnya putus sekolah saat duduk di bangku kelas dua SMP. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sementara adiknya masih duduk di bangku kelas empat SD.
Di tengah segala keterbatasan, Dianah mengaku pernah menerima bantuan kamar mandi dari pemerintah. Namun untuk kondisi rumah, ia hanya bisa berharap suatu hari ada bantuan yang datang agar dirinya dan anak-anak bisa tinggal dengan lebih layak dan aman.
Sebab bagi Dianah, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Rumah adalah harapan agar anak-anaknya bisa tidur tanpa rasa takut saat hujan turun di malam hari.
Editor : Doni Ramdhani

