Tokoh Agama di Korea Selatan Kritik Konser Gratis BTS: Tidak Mengerti Lagu Mereka

Saat ini seorang tokoh agama di Korea Selatan turun untuk memberikan komentar terkait konser gratis BTS.

Tokoh Agama di Korea Selatan Kritik Konser Gratis BTS: Tidak Mengerti Lagu Mereka
Konser gratis BTS.

INILAHKORAN, Bandung - Kini seorang tokoh agama di Korea Selatan juga turun memberi komentar terkait konser grati BTS di pusat Kota Seoul.

Kim Jang Hwan, ketua Far East Broadcasting Company, menyampaikan kritik terhadap BTS selama khotbah baru-baru ini.

Dia mengawali pernyataannya dengan mengatakan, “Kita hidup di zaman di mana bahkan pada usia 90 tahun pun, seseorang harus berhati-hati dengan apa yang mereka katakan." 

Dia menambahkan, “ini adalah tempat untuk khotbah pendidikan, jadi saya akan menyampaikan pendapat saya.”

Menanggapi keputusan BTS untuk menggelar konser comeback mereka di Gwanghwamun, Kim Jang Hwa menyatakan:

“Saya tidak mengerti mengapa mereka memilih Kompleks Pemerintahan Pusat (Gwanghwamun) padahal ada banyak tempat lain yang tersedia,” tuturnya.

“Jika itu saya, saya akan menggelarnya di ruang terbuka yang luas seperti Saemangeum di Provinsi Jeolla Utara," ujarnya 

Dia juga mempertanyakan besarnya sumber daya administratif yang dikerahkan untuk acara tersebut, dengan mengatakan:

“Mereka bilang 6.500 petugas polisi akan dimobilisasi, apakah mereka melindungi enam penyanyi?”

Kim selanjutnya mengkritik musik BTS itu sendiri, dengan berkomentar, “Ini bahkan bukan permainan anak-anak,” dan menambahkan, “Saya tidak mengerti apa lirik mereka atau jenis lagu apa yang mereka nyanyikan.”

Setelah komentar-komentarnya dipublikasikan, reaksi negatif langsung muncul, termasuk dari dalam organisasinya sendiri. 

Pada hari Selasa, 24 Maret 2026, serikat pekerja Far East Broadcasting Company mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam pernyataan tersebut. 

Mereka menggambarkannya sebagai "pertunjukan penghinaan terhadap budaya populer yang gagal mengakui pengaruh global K-Pop dan BTS yang sangat besar di pasar dan industri musik." 

Serikat pekerja tersebut juga menambahkan bahwa "pernyataan-pernyataan seperti itu, yang datang dari seorang tokoh yang memiliki pengaruh publik, kurang memiliki tingkat kehati-hatian yang diperlukan."***


Editor : Irma Nurfajri