Toleransi Tinggi, Kerja Sama Antarumat Beragama di Kota Bogor Masih Perlu Diperkuat

Hasil survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Tahun 2025 menunjukkan Kota Bogor mencatat tingkat toleransi antarumat beragama yang sangat tinggi. Meski begitu, Bogor masih memiliki pekerjaan rumah, khususnya dalam memperkuat kerja sama lintas umat beragama.

Toleransi Tinggi, Kerja Sama Antarumat Beragama di Kota Bogor Masih Perlu Diperkuat
Peneliti FISIB Universitas Pakuan, Toto Sugiarto. (Foto: Rizki Mauludi/InilahKoran)

INILAHKORAN.ID – Meski mencatat tingkat toleransi antarumat beragama yang sangat tinggi, hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Tahun 2025 menunjukkan Kota Bogor masih memiliki pekerjaan rumah, khususnya dalam memperkuat kerja sama lintas umat beragama.

Survei yang dilakukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan ini mengukur tiga dimensi utama kerukunan, yakni toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama.

Peneliti FISIB Universitas Pakuan, Toto Sugiarto, mengatakan secara umum kondisi kerukunan di Kota Bogor berada pada level yang sangat baik. Namun, dimensi kerja sama masih berada di bawah dua dimensi lainnya.

“Dimensi toleransi dan kesetaraan sudah berada pada kategori sangat tinggi. Tantangan yang masih perlu diperkuat di Kota Bogor ada pada dimensi kerja sama antarumat beragama,” kata Toto, Rabu (24/12/2025).

Berdasarkan hasil survei, dimensi toleransi memperoleh skor 84,4 dan kesetaraan 81,4, keduanya masuk kategori sangat tinggi. Sementara dimensi kerja sama mencatat skor 77,4, yang meski tergolong tinggi, masih memiliki ruang peningkatan.

Menurut Toto, kerja sama antarumat beragama tidak cukup hanya berhenti pada sikap saling menghormati, tetapi perlu diwujudkan dalam aktivitas bersama yang melibatkan berbagai kelompok agama secara aktif.

“Kerja sama ini perlu didorong melalui kegiatan konkret, baik dalam bentuk event lintas agama maupun program sosial bersama di tingkat kota,” ujarnya.

Temuan lain dalam survei ini menunjukkan peran generasi muda cukup menonjol. Kelompok usia muda mencatat skor kerukunan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yang dinilai sebagai potensi besar dalam memperkuat kerja sama lintas iman ke depan.

Anggota tim peneliti FISIB Universitas Pakuan, Roni Jayawinangun menjelaskan, toleransi dimaknai sebagai kesediaan menerima dan menghargai perbedaan keyakinan serta pandangan hidup, sementara kesetaraan berkaitan dengan jaminan hak dan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

“Adapun kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang lebih nyata, di mana kelompok-kelompok agama saling berbagi peran, manfaat, dan tanggung jawab dalam kehidupan bersama,” kata Roni.

Dia menambahkan, meski saat ini skor kerja sama sudah berada pada kategori tinggi, pihak peneliti menargetkan peningkatan pada tahun 2026 hingga mencapai kategori sangat tinggi.

“Harapannya, kerja sama antarumat beragama di Kota Bogor bisa terus diperkuat melalui kebijakan dan kegiatan lintas iman yang berkelanjutan,” pungkasnya. ***


Editor : Gin gin T Ginulur