TPID Kota Bandung Antisipasi Kenaikan Harga Komoditas dan Cuaca Ekstrem Jelang Nataru

Tim Pengendalian Inflasi Daerah TPID Kota Bandung terus merumuskan strategi lonjakan permintaan baran, dan potensi dampak cuaca ekstrem menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) untuk mengendalikan inflasi daerah.

TPID Kota Bandung Antisipasi Kenaikan Harga Komoditas dan Cuaca Ekstrem Jelang Nataru
Pj Wali Kota Bandung A Koswara menyampaikan, TPID Kota Bandung harus proaktif menghadapi kenaikan permintaan barang konsumsi yang biasanya terjadi pada libur Nataru akhir tahun. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Tim Pengendalian Inflasi Daerah TPID Kota Bandung terus merumuskan strategi lonjakan permintaan baran, dan potensi dampak cuaca ekstrem menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) untuk mengendalikan inflasi daerah.

Pj Wali Kota Bandung A Koswara menyampaikan, TPID Kota Bandung harus proaktif menghadapi kenaikan permintaan barang konsumsi yang biasanya terjadi pada libur Nataru akhir tahun.

“Kita (TPID Kota Bandung) harus memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok tetap aman dan harga terkendali. Selain itu, dampak cuaca ekstrem juga perlu diantisipasi untuk menghindari gangguan distribusi,” kata Koswara, Selasa 3 Desember 2024.

Ia juga menyoroti perlunya koordinasi lintas sektor untuk menjamin keberlanjutan program ekonomi di 2025.

“Sinkronisasi program anggaran harus menjadi prioritas untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kota Bandung,” ucapnya.

Koswara menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat dalam menjaga stabilitas inflasi dan ekonomi Kota Bandung.

Dengan berbagai langkah strategis yang telah disusun, pihaknya optimis mampu menghadapi tantangan ekonomi pada akhir tahun ini.

“Kolaborasi yang kuat menjadi kunci dalam memastikan inflasi tetap terkendali dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, Samiran mengatakan, meski inflasi terkendali, Pemkot Bandung harus tetap mewaspadai potensi kenaikan harga komoditas strategis seperti telur ayam dan daging ayam ras.

“Lonjakan harga pada komoditas ini dapat berdampak signifikan pada daya beli masyarakat dan garis kemiskinan,” kata Samiran.

Sementara itu, Kepala Bulog Cabang Bandung Imam Firdaus Jamal menyatakan, kesiapan dalam mengendalikan inflasi dengan memastikan stok komoditas strategis tersedia. Saat ini, Bulog memiliki 10.500 ton beras medium, 137 ribu liter minyak goreng, dan 125 ribu kilogram gula putih.

"Kami siap mendukung pengendalian inflasi melalui intervensi pasar, terutama menghadapi curah hujan tinggi hingga Februari 2025," kata Imam Firdaus.

Di lain sisi, Kepala BMKG Stasiun Bandung Teguh Rahayu mengingatkan potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, dan kilat, yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2025.

“Kami mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Risiko di sektor pertanian dan distribusi perlu dikelola dengan baik,” katanya.


Editor : Doni Ramdhani