TPPAS Legok Nangka Dibangun, Solusi Sampah Jabar dan Pembangkit Listrik 40 MW

Pembangunan TPPAS Legoknangka resmi dimulai dan jadi solusi masalah sampah di Jabar

TPPAS Legok Nangka Dibangun, Solusi Sampah Jabar dan Pembangkit Listrik 40 MW
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat grounbreaking TPPAS Legoknangka.

INILAHKORAN.ID - Pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung resmi dimulai. 

Proyek yang mengusung konsep pengolahan sampah menjadi energi listrik itu diproyeksikan menjadi solusi permanen persoalan sampah di Bandung Raya, sekaligus memperkuat pasokan energi bersih di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, dimulainya pembangunan TPPAS Legok Nangka menjadi bukti keberhasilan panjang pemerintah daerah dalam mewujudkan proyek yang telah dirancang sejak beberapa periode kepemimpinan sebelumnya.

Menurut Dedi, proyek tersebut kini memasuki tahap nyata setelah seluruh aspek regulasi, investasi dan skema bisnis berhasil diselesaikan.

"Ya, provinsi kan sejak kepemimpinan Pak Ahmad Heryawan, kemudian Pak Bey Machmudin sampai hari ini berhasil mewujudkan seluruh ide gagasan itu dalam langkah yang lebih nyata," kata Dedi di TPPAS Legoknangka, Kabupaten Bandung, Rabu (29/7/2026).

Dedi meyakini, keberadaan TPPAS Legoknangka tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menjadi pendorong lahirnya sistem pengelolaan lingkungan yang lebih modern dan berkelanjutan.

Ia bahkan optimistis, Jawa Barat akan berkembang menjadi provinsi penghasil energi listrik terbesar di Indonesia karena didukung beragam sumber energi mulai dari bendungan, panas bumi, tenaga surya hingga pembangkit listrik berbasis sampah.

"Dan yang berikutnya adalah Jawa Barat itu akan menjadi provinsi penghasil energi listrik terbesar di Indonesia," tegasnya.

Ke depan, konsep pengolahan sampah menjadi energi akan diperluas ke sejumlah kawasan lain seperti Bogor Raya, Depok, Bekasi hingga wilayah Cirebon yang juga menghadapi persoalan sampah dalam skala besar.

Saat disinggung mengenai potensi gangguan premanisme terhadap proyek strategis tersebut, Dedi memberikan respons singkat namun tegas.

"Udah lah, preman apa, kami beresin. Gampang itu," ucapnya.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan, TPPAS Legoknangka merupakan hasil kerja sama perusahaan swasta nasional dengan mitra asal Jepang. Kehadiran fasilitas tersebut diyakini mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi baru terbarukan secara berkelanjutan.

"Adanya groundbreaking untuk TPPAS Legoknangka ini akan memecahkan tumpukan sampah yang ada di Jawa Barat. Ini akan bisa terolah, jadi sehingga nanti menimbulkan dampak lingkungan yang lebih baik, dan juga terhadap kesehatan masyarakat. Dan juga kita akan mendapatkan energi yang secara berkelanjutan, energi bersih dalam bentuk energi baru terbarukan," kata Yuliot.

Menurutnya, proyek tersebut akan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja dan menghasilkan listrik hingga 40 megawatt (MW). Kapasitas itu dinilai mampu memperkuat sistem ketenagalistrikan Jawa Barat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari sektor pengelolaan sampah.

"Untuk kegiatan ini, total tenaga kerja yang akan terserap nanti ada 1.500 tenaga kerja dan akan menghasilkan listrik sekitar 40 Megawatt," ujarnya.

Yuliot menegaskan, pembangunan TPPAS Legoknangka merupakan bagian dari program nasional percepatan pengelolaan sampah yang diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto.

"Yang pertama ini di Jawa Barat dan juga nanti akan kita lakukan juga di beberapa aglomerasi, di antaranya ada Bogor Raya, Bekasi Raya," katanya.

Ia berharap, fasilitas tersebut sudah memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) pada 2029 sehingga dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sampah Diolah Jadi Listrik, BBM hingga Bioenergi

Selain menghasilkan listrik, TPPAS Legoknangka juga dirancang mengintegrasikan berbagai teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi lain yang bernilai ekonomi.

Menurut Yuliot, sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dapat diolah menjadi bahan bakar terbarukan. Teknologi yang diterapkan juga memungkinkan produksi bioenergi dari hasil pengolahan sampah.

"Jadi emini kita nanti akan mengintegrasikan berbagai teknologi jadi sehingga sasaran energi baik listrik, BBM, dan juga ini ada bioenergi yang akan bisa dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ini," ucapnya.

Konsep tersebut dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber energi dan nilai tambah ekonomi.

Teknologi Incinerator Diklaim Aman

Menjawab kekhawatiran mengenai emisi dan dampak kesehatan dari proses pembakaran sampah, Yuliot memastikan TPPAS Legoknangka menggunakan teknologi incinerator modern dengan suhu pembakaran di atas 800 derajat Celsius.

Pada suhu tersebut, material sampah dapat terbakar sempurna sehingga meminimalkan risiko munculnya zat berbahaya seperti dioksin yang selama ini menjadi kekhawatiran dalam sistem pembakaran konvensional.

"Jadi dari seluruh bahan material yang masuk dalam fasilitas itu akan terolah dan terbakar dengan sempurna," katanya.

Ia menambahkan, teknologi serupa telah digunakan di berbagai negara dan terbukti aman bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

"Dengan adanya pengolahan insinerator ini, di beberapa negara ini juga relatif aman, jadi tidak ada dampak terhadap lingkungan dan juga tidak ada dampak terhadap kesehatan masyarakat," ungkapnya.

Jaringan Transmisi Dibangun Paralel

Pemerintah juga memastikan, pembangunan jaringan transmisi listrik akan berjalan beriringan dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah. Langkah tersebut dilakukan agar listrik yang dihasilkan dapat langsung disalurkan ke sistem kelistrikan saat TPPAS mulai beroperasi.

"Jadi saya rasa ini untuk pembangunan transmisi itu bisa kita lakukan secara paralel. Jadi sehingga pada saat beroperasinya TPPAS ini, listrik yang dihasilkan bisa ditransmisikan untuk kebutuhan masyarakat," katanya. 


Editor : Ahmad Sayuti