Uu Ingin Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 Bukan Sekadar Seremoni

Tidak akan ada negara yang ramah lingkung bandai setiap warganya tak peduli terhadap lingkungan.

Uu Ingin Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 Bukan Sekadar Seremoni
Ilustrasi/istimewa

INILAH, Bandung- Tidak akan ada negara yang ramah lingkung bandai setiap warganya tak peduli terhadap lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Plh Gubernur Jawa Barat UU Ruzahnul Ulum saat membuka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 Tingkat Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (25/7/2019).

Uu katakan, kepedulian terhadap lingkungan harus berawal dari diri sendiri. Setelah itu baru dapat ditularkan  kepada masyarkat di daerah tempat tinggal kita. 

"Maka selanjutnya kota kita akan peduli terhadap lingkungan. Dan tidak akan terjadi negara yang baik jika tidak dimulai dari daerah atau kota yang baik. Tidak akan juga terjadi daerah dan kota yang baik bila tidak diawali oleh pribadi yang baik," imbuh Uu.

Uu berharap momentum Hari Lingkungan Hidup sedunia 2019 ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Dia ingin, melakui kegiatan ini dapat disikapi oleh masyarakat dengan ikut andil menjaga dan melestarikan lingkungan.

Sebab, lanjut Uu, permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab dari pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup.

"Tujuannya menguatkan kembali bahwa lingkungan hidup harus dijaga oleh kita semua. Karena lingkungan hidup tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Pada kesempatan ini, turut dihadiri oleh siswa-siswi tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menegah Atas (SMA) di Jabar. Uu sampaikan, para generasi penerus ini perlu mendapatkan pemahaman terkait lingkungan hidup. 

"Mereka adalah sebagai informasi awal tentang perlunya pengetahuan tentang lingkungan hidup," ucapnya.

Uu tak menampik, permasalahan lingkungan dewasa ini kian memprihatinkan. Itu imbas dari tidak terkendalinya polusi yang dihasilkan oleh kendaraan hingga industri yang notabene sebagai penyumbang rusaknya lingkungan hidup di negeri ini.

Bila bicara kendaraan, Uu sampaikan, berdasarkan informasi yang dia terima terdapat 2 juta mobil dan 17 juta motor yang berada di Jabar. Dan itu pun belum termasuk kendaran yang bodong atau tidak terdaftar. Sedangkan penduduk Jabar berjumlah sekitar 50 juta jiwa.

"Juga rumah tangga pun sebagai penyumbang rusaknya lingkungan hidup di negara kita. Termasuk di Jabar," katanya.

Lanjut dia, kehadiran kendaran dan industri memang tidak dapat dihindari, mengingat itu bagian dari pengembangan teknologi. Hanya saja, menurut Uu, perlu ada gerakan yang mensiasati lahirnya teknologi baru demi kemaslahatan dan kemanfaatan. 

"Karena kita tahu rusaknya lingkungan hidup, rusaknya bumi dan laut karena ulah tangan tangan manusia," katanya.

Kendati demikian, Uu menilai, beberapa komunitas atau kelompok yang berada di kota kabupaten mampu menunjukkan kepedulian yang besar mengenai pelestarian lingkungan. Itu tampak dari upaya pengelolaan sampah yang dilakukan oleh mereka.

"Macam-macam yang mereka buat, ada yang dibuat menjadi kerajinan, mainan dan lain-lain," kata UU.

Misalnya saja komunitas bank sampah yang tersebar di seluruh Jabar, menurut UU, mesti dikolaborasikan agar tercipta sebuah kekuatan mengatasi sampah di Jabar. Dengan begitu, lingkungan pun akan lebih sehat. 

"Insya Allah Pemerintah Provinsi akan mengundang semuanya yang mengelola sampah sehingga menjadi kekuatan agar sampah dan lingkungan di Jabar lebih baik," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar Bambang Riyanto mengatakan, memang sejauh ini indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) di Jabar selalu masuk lima besar terbawah. Artinya, perlu peran lebih besar dari seluruh pihak agar dapat lebih baik.

"Tentunya ini tidak mungkin dilakukan oleh semata-mata pemerintah. Karena untuk lingkungan hidup ini cukup dengan  satu saja, kesadaran dari masyarakat," ujar Bambang.

Bila semua pihak memiliki kesadaran besar, dimana aktivitas yang dilakukan industri maupun industri sudah ramah pada lingkungan, maka di Jabar ini tidak akan masalah lagi. Adapun yang dilakukan oleh pemerintah, salah satunya yaitu sosialisasi, penyadaran dan juga kontrol. 

"Sekarang juga kita sedang melakukan proper kepada 200 industri tahun ini. Dari situ kan akan kelihatan yang ketegorinya memenuhi (ramah lingkungan) atau tidak," pungkas dia. (Rianto nurdiansyah) 


Editor : Bsafaat