Viral Karena Sawit, Ini Asal-usul Desa Cigobang dari Perjalanan Pangeran Silih Asih
Desa Cigobang sesungguhnya memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang kuat, yang berakar dari kisah perjalanan Pangeran Silih Asih.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Desa Cigobang, yang berada di Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, belakangan menjadi sorotan publik setelah muncul kabar terbongkarnya kebun sawit di wilayah tersebut. Temuan ini memicu kekecewaan warga, lantaran sebelumnya mereka mengaku dijanjikan penanaman pohon salak, bukan sawit.
Di balik polemik tersebut, Desa Cigobang sesungguhnya memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang kuat, yang berakar dari kisah perjalanan seorang tokoh penyebar Islam di wilayah Cirebon Timur, yakni Pangeran Silih Asih.
Asal-usul Desa Cigobang dari Perjalanan Pangeran Silih Asih
Sejarah Desa Cigobang diyakini bermula sekitar abad ke-18 atau kisaran tahun 1860-an, ketika Pangeran Silih Asih, salah satu santri Kanjeng Sunan Gunung Jati, melakukan pengembaraan dakwah ke berbagai daerah, termasuk wilayah Pasaleman.
Dalam perjalanannya, Pangeran Silih Asih singgah di kawasan sekitar Sungai Cisanggarung. Suatu ketika, demi memenuhi kebutuhan hidup, ia berusaha menangkap seekor ikan gabus putih yang diyakini memiliki makna simbolik. Namun ikan tersebut selalu lolos dari tangkapannya.
Karena rasa kesal, Pangeran Silih Asih akhirnya menebaskan gobang—sebutan untuk pedang panjang—ke arah ikan gabus tersebut hingga terpotong menjadi tiga bagian. Peristiwa inilah yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul penamaan sejumlah wilayah di sekitar Cirebon dan Kuningan.
Jejak Legenda dalam Penamaan Wilayah
Bagian kepala ikan gabus disebut terlempar hingga kawasan Pulau Madenda dan berubah menjadi pohon Lo, yang kini dikenal sebagai Desa Lo. Dari kisah itu pula muncul nama Losari, yang dahulu dikenal sebagai Madenda.
Sementara itu, badan ikan gabus dipercaya berubah menjadi buaya buntung yang menghuni sebuah kedung bernama Kedung Reong di sekitar Sungai Cisanggarung. Adapun ekor ikan gabus terlempar ke wilayah Legok, Kabupaten Kuningan, yang ditandai dengan kondisi jalan berkelok-kelok.
Dalam keadaan marah, Pangeran Silih Asih membuang gobangnya ke sebuah hutan yang kala itu dikenal sebagai Hutan Jumbleng. Kini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi permukiman yang dikenal sebagai Dusun Jumbleng.
Dari Hutan Jumbleng ke Desa Cigobang
Pangeran Silih Asih kemudian memerintahkan dua pengikutnya, Ki Bagus Angke dan Ki Gede Rangga, untuk mencari gobang yang dibuang tersebut. Dalam proses pencarian, mereka membuka hutan Jumbleng hingga akhirnya gobang itu berhasil ditemukan.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, kawasan itu kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang dinamakan Desa Cigobang, yang berarti tempat ditemukannya gobang milik Pangeran Silih Asih.
Polemik Kebun Sawit dan Tantangan Desa Cigobang Masa Kini
Di era modern, Desa Cigobang kembali menjadi perhatian setelah warga mengungkap adanya penanaman sawit yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Warga mengaku merasa ditipu, karena sebelumnya diinformasikan bahwa lahan tersebut akan ditanami salak, bukan sawit.
Bahkan, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mengaku terkejut dengan keberadaan tanaman sawit di wilayah tersebut. Kasus ini membuka diskusi luas mengenai pengelolaan lahan, transparansi program pertanian, serta perlindungan wilayah desa yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Editor : Firda Rachmawati

