Kecewa Janji Tak Kunjung Ditepati, Warga Desa Cigobang Suarakan Cabut Sawit
cabut sawit menggema di area perkebunan kelapa sawit Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon pada hari Jumat kemarin. Ini Bukan sekadar teriakan, melainkan luapan kekecewaan warga yang merasa janji demi janji tak kunjung ditepati.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID -Suara yel-yel “cabut sawit” menggema di area perkebunan kelapa sawit Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon pada hari Jumat kemarin. Ini Bukan sekadar teriakan, melainkan luapan kekecewaan warga yang merasa janji demi janji tak kunjung ditepati.
Saat itu, dengan tekad bulat, warga berbondong-bondong mendatangi lokasi kebun dan memulai aksi pencabutan pohon sawit yang selama ini mereka tolak keberadaannya. Di lahan yang dipenuhi sekitar 400 pohon kelapa sawit itu, warga secara bergantian mencabut batang demi batang.
Meski baru tiga pohon yang berhasil dicabut, aksi tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kebuntuan komunikasi antara warga dan pihak perusahaan. Sebagian warga mencabut, sebagian lainnya menyaksikan sambil terus menyuarakan penolakan.
Aksi itu akhirnya terhenti saat pencabutan pohon ketiga, setelah Kepala Desa Cigobang, M. Abdul Zei, datang langsung ke lokasi. Di hadapan warga, ia meminta agar emosi ditahan dan aksi dihentikan sementara demi menjaga kondusivitas. Penghentian dilakukan karena akan ada koordinasi lanjutan yang direncanakan pada Senin 19 Januari 3026.
“Untuk pencabutan sawit ini, sesuai kesepakatan, dari pihak perusahaan hanya meminta surat pemindahan dari pemilik lahan. Mohon jangan terprovokasi, jangan anarkis,” Abdul Zei.
Zei berjanji, akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait dan meminta warga membubarkan diri secara tertib. Permintaan itu dipenuhi warga sebagai bentuk penghormatan kepada kepala desa yang sejak awal berada di tengah-tengah mereka. warga sepakat menunggu keputusan Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon dan kejelasan sikap perusahaan.
Namun di balik penghentian aksi, keresahan belum sepenuhnya padam. Abdul Zei secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya jika persoalan ini kembali berlarut. Ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan menyelesaikan polemik sawit di desanya.
“Tolong kepada pak bupati untuk terjun langsung menangani masalah ini. Ini karena masyarakat Desa Cigobang menuntut sawit tidak ada di desa kami,” ungkapnya, Minggu 18 Januari 2026.
Kepala Desa Cigobang pun mengakui, pemerintah desa telah berupaya menahan gejolak warga hampir satu bulan terakhir. Namun tanpa kepastian, upaya itu terasa semakin berat.
“Sebenarnya kami dari pemerintahan desa sudah menahan hampir satu bulan. Sudah lelah juga kami. Ini tindak lanjutnya seperti apa, sampai sekarang tidak jelas," ujarnya.
Dia menjelaskan, dalam berita acara musyawarah desa, pihak perusahaan telah menyetujui pemindahan sawit tanpa kompensasi. Bahkan disebutkan, ada janji tindak lanjut pada 15 Januari 2026, yang hingga kini belum terealisasi.
Zei juga memastikan, pemerintah desa akan berdiri di belakang warganya jika muncul potensi intimidasi dari pihak perusahaan. Ia khawatir, tanpa kejelasan sikap dan tindakan nyata, pergerakan warga akan semakin sulit dikendalikan.
Kekecewaan serupa disampaikan Sara, salah seorang warga yang ikut dalam aksi pencabutan. Ia menuturkan, langkah warga diambil karena janji perusahaan yang tak kunjung terealisasi.
“Janjinya perusahaan akan melakukan pencabutan, tapi ternyata tidak. Makanya warga inisiatif melakukan pencabutan. Kalau saja saat itu tidak ada kuwu, sudah habis nih semua sawit kami cabut sendiri," ujarnya.
Menurut Sara, warga tidak berniat bertindak anarkis. Mereka hanya menuntut satu hal sederhana yaitu sawit tidak lagi berada di wilayah mereka.
“Kami tidak akan anarkis kalau permintaan kami ditepati. Pokoknya, jangan ada lagi tanaman sawit di daerah kami,” pintanya.
Sara membeberkan, penolakan warga terhadap perkebunan sawit bukan tanpa alasan. Krisis air bersih yang kerap melanda Desa Cigobang, terutama saat musim kemarau, menjadi latar belakang utama. warga menilai keberadaan sawit justru memperparah kondisi tersebut.
“Kurang air, Pak. Cari air disini itu ngebor sampai 25 meter. Kadang-kadang airnya tidak keluae. Tetangga saya sampai tiga titik ngebor tidak dapat air,” ungkap Sara.
Ia khawatir, jika kebun sawit terus dibiarkan, krisis air akan semakin parah dan mengancam keberlangsungan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di desanya.
Intinya, aksi pencabutan di Cigobang pun menjadi penanda bahwa kesabaran warga ada batasnya. Tiga pohon yang tercabut mungkin belum berarti banyak secara fisik. Namun, cukup kuat menjadi simbol tuntutan yang selama ini mereka suarakan bahwa janji harus ditepati, dan krisis air tak boleh terus diabaikan.***
Editor : JakaPermana


