Wamendikdasmen Tekankan Pencegahan Bunuh Diri Anak lewat Kebijakan Struktural
Pemerintah menanggapi kasus bunuh diri anak dengan pendekatan jangka panjang dan struktural, bukan hanya respons per kasus.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fazar Riza Ul Haq menganggapi kasus bunuh diri SD di Nusa Tenggara Timur.
Menurut Fazar, pemerintah menanggapi kasus bunuh diri anak dengan pendekatan jangka panjang dan struktural, bukan hanya respons per kasus.
“Tentu kita prihatin dan berharap kejadian semacam ini tidak terjadi lagi. Tetapi yang ingin kami lakukan bukan hanya respons kasuistik, melainkan pendekatan struktural. Dari berbagai studi, kasus bunuh diri anak tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal,” kata Fazar saat kunjungan ke SMPN 70 Kota Bandung, Jumat (6/2/2026).
Menurut dia, keputusan anak bunuh diri biasanya dipengaruhi banyak faktor. Termasuk kondisi keluarga, masalah sosial, tekanan teman sebaya dan faktor ekonomi.
Pemerintah Fokus Bangun Sistem di Sekolah
Karena itu, lanjut dia, pemerintah fokus membangun sistem di sekolah yang mampu mendeteksi dan menangani persoalan anak sejak dini.
Fazar mengatakan, salah satu langkah utama adalah penguatan peran guru wali dan guru bimbingan konseling (BK).
Guru di sekolah, lanjut dia, diharapkan dapat mengenali tanda-tanda anak yang mengalami masalah psikologis karena persoalan yang muncul di keluarga sering dibawa ke sekolah tanpa disadari guru.
“Dengan keberadaan guru wali dan penguatan konseling di sekolah, kita berharap masalah kesehatan mental anak dapat ditangani lebih awal,” ucapnya.
Selain itu, pemerintah merevitalisasi fungsi usaha kesehatan sekolah (UKS). UKS berperan sebagai penghubung antara sekolah dan puskesmas. Anak yang menunjukkan gejala psikologis yang tidak wajar, dapat langsung dikonsultasikan melalui UKS.
"Dan bila perlu, direkomendasikan penanganan lebih lanjut oleh tenaga profesional. Kementerian Kesehatan menempatkan satu psikolog klinis di setiap puskesmas untuk mendukung intervensi ini," ujar dia.
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Menurut Fazar, program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung kesehatan mental anak. Program itu bertujuan membantu anak tumbuh sehat, mandiri dan mampu menghadapi tekanan hidup.
Selain itu, anak yang menjadi korban di NTT tercatat sebagai penerima program Indonesia Pintar (PIP), yang mendukung kebutuhan pendidikan seperti seragam, sepatu, buku dan alat tulis.
“Fokus kami bukan menghakimi satu kasus, tetapi membangun sistem yang mendukung kesehatan mental anak dan mencegah kejadian serupa di masa depan,” jelasnya.
Pendekatan Preventif dan Berlapis
Berdasarkan data Bareskrim Polri, kasus bunuh diri anak di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai sekitar 1.200 kasus. Angka itu menunjukkan pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental anak, dan perlunya intervensi struktural di sekolah dan keluarga.
Fazar menambahkan, pendekatan tersebut bersifat preventif dan berlapis, mulai dari guru wali, guru BK, UKS hingga tenaga psikolog di puskesmas. Tujuannya adalah memastikan anak yang menghadapi tekanan psikologis dan emosional, mendapatkan pendampingan sejak dini.
“Anak usia 10 tahun belum sepenuhnya memahami arti bunuh diri. Dengan pendekatan ini, kita ingin mereka mendapatkan bimbingan yang tepat sehingga tidak sampai mengambil keputusan fatal,” kata dia. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

