Warga Tiga Desa di KBB Gerah dengan Polusi Pabrik Kapur Cipatat

Warga tiga desa di KBB geram dengan pencemaran udara akibat pabrik kapur di Cipatat

Warga Tiga Desa di KBB Gerah dengan Polusi Pabrik Kapur Cipatat
Warga Cipatat ungkap langsung dampak operasional industri batu kapur, perlihatkan debu tebal yang menempel di tanaman. Agus Staia Negara

INILAHKORAN.ID – Keberadaan industri pengolahan kapur di wilayah Kecamatan Cipatat dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini menjadi beban bagi warga sekitar. 

Bukan sekadar isu lingkungan abstrak, dampak operasional pabrik telah merambah ke dalam rumah tangga, mengancam kebersihan hunian, merusak aset pribadi hingga merenggut kenyamanan istirahat malam. 

Warga mulai bersuara lantang menuntut perbaikan sistem pengelolaan pabrik agar tidak terus membebani lingkungan pemukiman yang berdekatan.

Salah satu warga yang terdampak langsung, Jajang Hidayat (64) mengaku rumahnya berada tepat di belakang tembok pembatas perusahaan di Kampung Pamucatan, Desa Ciburuy. 

Ia harus melakukan pembersihan rumah berulang kali setiap hari lantaran debu halus yang terus menerus masuk meski pintu dan jendela sudah ditutup rapat. Gangguan ini tak hanya melelahkan secara fisik, namun juga menimbulkan beban sosial bagi keluarga.

"Tak terhitung berapa kali sehari kami menyapu dan mengelap. Debu itu masuk ke mana-mana, ke lantai, kursi, meja, hingga peralatan elektronik. Istri saya sangat risih dan malu jika ada kerabat atau tamu datang melihat rumah kotor terus-menerus," kata Jajang, Jumat (24/7/2026).

Jajang menyebut, kerusakan yang ditimbulkan ternyata tidak sebatas pada kebersihan rumah. Ia memaparkan karakteristik debu yang dihasilkan pabrik tersebut semakin tajam dan bersifat korosif.

Bukti nyata yang dialaminya, yakni kerusakan pada dua unit kendaraan pribadi miliknya. Cat mobil yang seharusnya awet justru mengalami pemudaran drastis dan mulai mengelupas hanya dalam beberapa tahun, kondisi yang berbeda jauh sebelum pabrik beroperasi dengan teknologi pembakaran batu bara saat ini.

"Belum lagi gangguan sensorik lainnya yang tak kunjung usai. Pabrik yang beroperasi selama 24 jam tanpa henti menciptakan suara bising dan getaran tanah yang terasa hingga ke dalam rumah," sebutnya.

Bahkan, di malam hari ketika suasana sepi suara mesin semakin terdengar jelas dan getaran begitu kuat hingga membuat air di dalam gelas berguncang. 

"Kondisi ini bikin kualitas tidur saya dan keluarga terganggu parah setiap harinya," ucapnya.

Kondisi serupa ternyata dialami secara luas oleh masyarakat dari tiga desa berbeda yang tersebar di lima Rukun Warga (RW), meliputi Desa Ciburuy, Desa Padalarang di Kecamatan Padalarang, hingga Desa Gunungmasigit di Kecamatan Cipatat

Jajang yang telah berkoordinasi dengan perwakilan warga menegaskan tuntutan masyarakat bukanlah penghentian usaha, melainkan jaminan perlindungan lingkungan dan hak hidup yang layak.

"Kami tidak menutup pintu kemajuan dan keberadaan pabrik ini, kami hanya meminta tanggung jawab sosial dan teknis yang nyata," ujarnya.

"Perusahaan harus membenahi sistem operasionalnya agar emisi debu bisa ditekan, getaran dihilangkan, dan kebisingan diredam. Kami mengajak manajemen untuk duduk bersama dalam musyawarah mencari solusi terbaik agar tidak ada pihak yang dirugikan," tandasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti