Warung Berdaya Warga Sejahtera

DARI warung kecil, ekonomi warga terus bergerak. Kebiasaan belanja dekat menjadi cara sederhana memperkuat usaha lokal.

Warung Berdaya Warga Sejahtera
UBAH KEBIASAAN: Anggota DPRD Kota Bogor, Atty Somaddikarya mengajak masyarakat mengubah kebiasaan berbelanja dengan lebih mengutamakan warung kelontong dan pasar tradisional di lingkungan sekitar. Menurut dia, setiap rupiah yang dibelanjakan di warung warga akan berputar kembali di lingkungan sekitar dan membantu menjaga keberlangsungan usaha kecil.

Oleh : Rizki Mauludi 


Warung kelontong di sudut lingkungan bukan sekadar tempat membeli kebutuhan harian. Di balik transaksi kecil yang terjadi setiap hari, ada roda ekonomi keluarga yang terus berputar dan usaha mikro yang berjuang untuk bertahan.

Kesadaran itulah yang ingin dibangun Anggota DPRD Kota Bogor Atty Somaddikarya melalui ajakan agar masyarakat kembali mengutamakan warung tetangga dan pasar tradisional sebagai pilihan berbelanja.

Menurut Atty, kebiasaan sederhana tersebut dapat memberi dampak besar bagi keberlangsungan usaha kecil. Setiap rupiah yang dibelanjakan di warung warga akan kembali menggerakkan perekonomian lingkungan sekitar.

“Jadi, gerakan belanja di warung tetangga merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam memperkuat perekonomian pelaku UMKM dari lini terbawah,” ungkap Atty, Kamis (16/7).

Bagi Atty, memilih berbelanja di warung sekitar bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap warga yang menggantungkan hidup dari usaha kecil.

“Kalau kita ingin ekonomi masyarakat bergerak, mulailah dari hal yang paling sederhana, yaitu belanja di warung tetangga. Uang yang kita keluarkan tidak lari ke mana-mana, tetapi kembali menghidupi keluarga-keluarga yang menggantungkan usahanya dari warung kecil,” ujarnya.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu menekan pedagang kecil dengan menawar harga secara berlebihan. Keuntungan yang diperoleh pedagang, meski tidak besar, menjadi penopang kehidupan sehari-hari.

“Keuntungan mereka tidak besar, tetapi dari situlah mereka menyambung hidup, menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau kita mampu membantu, kenapa tidak?” katanya.

Selain mengajak perubahan kebiasaan belanja, Atty turut mendorong dukungan langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil melalui pembagian bantuan gas LPG 3 kilogram secara cuma-cuma.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban pengeluaran rumah tangga sekaligus membantu pelaku usaha mikro yang membutuhkan LPG untuk menjalankan aktivitas usahanya.

Atty juga mendorong penguatan UMKM, khususnya perempuan pelaku usaha, melalui program pinjaman modal tanpa bunga. Menurutnya, kemudahan akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting agar usaha kecil dapat berkembang.

“Pelaku UMKM, terutama ibu-ibu yang memiliki usaha, harus kita bantu agar bisa berkembang. Dengan adanya pinjaman modal tanpa bunga, mereka bisa mengembangkan usaha tanpa terbebani biaya tambahan,” jelasnya.

Gerakan tersebut mulai diwujudkan bersama komunitas Baraya Ceu Atty dengan mengajak masyarakat berbelanja kebutuhan pokok di warung warga wilayah Katulampa dan Sukasari.

Bagi Atty, gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran bersama untuk mencintai dan mendukung usaha lokal.

“Warung-warung kecil ini adalah fondasi ekonomi masyarakat. Kalau mereka kuat, ekonomi lingkungan juga ikut kuat. Saya mengajak seluruh warga Kota Bogor untuk bersama-sama menghidupkan warung tetangga,” tegasnya. (gin)


Editor : Inilahkoran