Waspada, Garut Rawan Longsor dan Banjir
Memasuki musim hujan pada November 2019, Bupati Garut Rudy Gunawan mengimbau masyarakat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap bencana banjir, pergerakan tanah, dan longsor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Garut- Memasuki musim hujan pada November 2019, Bupati Garut Rudy Gunawan mengimbau masyarakat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap bencana banjir, pergerakan tanah, dan longsor.
Masyarakat juga diimbau dapat melakukan evakuasi mandiri bila sewaktu-waktu terdapat potensi ancaman bencana.
Pasalnya, musim hujan dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, dan tanah longsor. Ditambah beberapa faktor seperti lingkungan tidak terawat baik, terjadinya alih fungsi hutan pegunungan, dan budaya membuang sampah sembarangan.
Wilayah Kabupaten Garut sendiri merupakan daerah rawan terjadi bencana longsor, pergerakan tanah, dan banjir.
Himbauan Bupati Rudy disampaikan melalui surat edaran nomor 360/3146/BPBD/2019 tentang Himbauan Menghadapi Musim Penghujan ditujukan kepada para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkab Garut, dan para camat se-Kabupaten Garut.
Secara khusus, Bupati menghimbau para SKPD agar menginventarisasi, menyiapkan sarana prasarana, bertindak cepat, tepat, dan terintegrasi dalam penanggulangan bencana, serta aparatur tingkat kecamatan berikut jajarannya agar melakukan mitigasi menanggapi potensi ancaman bahaya bencana.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut Firman Karyadin, mitigasi sendiri berdasarkan Undang Undang Nomor 24 tahun 2007 merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana pada masyarakat di kawasan bencana. Baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia. Mitigasi dilakukan melalui pembangunan fisik maupun penyadaran serta peningkatan kemampuan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
“Salah satu cara mengurangi resiko bencana antara lain, sebagaimana himbauan Pak Bupati, yakni agar masyarakat dan aparat bergotong royong membersihkan gorong-gorong, dan selokan dari tumpukan sampah di wilayahnya masing-masing,” ujar Firman didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Tubagus Agus Sopyan, Senin (4/11/2019).
Firman meminta masyarakat dapat mendeteksi dini berbagai ancaman potensi bencana yang ada di masing-masing wilayah supaya dapat melakukan pengurangan resiko bencana.
Kewaspadaan juga mesti ditingkatkan terhadap kemungkinan terjadinya pergeseran kerawanan titik potensi bencana. Hal itu terindikasi dari adanya pergerakan tanah terjadi di enam titik di Kecamatan Cikajang, Cigedug, dan Kecamatan Malangbong menjelang masuk musim hujan saat ini.
Kejadian tersebut membuat wilayah ketiga kecamatan menjadi daerah rawan pergerakan tanah berkatagori tinggi dari semula berada pada katagori menengah, sesuai hasil kajian Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Daerah rawan pergerakan tanah/longsor katagori tinggi di Garut pun menjadi bertambah. Daerah serupa antara lain Kecamatan Samarang, Banjarwangi, dan kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah selatan Garut.
Firman menyebutkan, hampir seluruh kecamatan di Garut memiliki potensi terjadi longsor dengan tingkat kerawanan berbeda-beda. Mulati kerawanan rendah, menengah/sedang, hingga tinggi.
Warga yang berada di daerah berpotensi longsor dengan tingkat kerawanan tinggi hendaknya selalu waspada. Kalau turun hujan dengan intensitas tinggi lebih tiga jam, sebaiknya warga mengungsi. Khususnya mereka yang berada sekitar sepuluh meter dari lokasi retakan tanah,” ingat Firman.(zainulmukhtar)
Editor : Bsafaat

