2 Tahun Rusak, Warga Cisarua Perbaiki Jalan Ekonomi Secara Swadaya

Jalan sepanjang 1.450 meter di Desa Tugumukti, Bandung Barat, rusak parah hampir dua tahun. Warga menambal secara swadaya sambil menunggu anggaran beton Rp1,8

2 Tahun Rusak, Warga Cisarua Perbaiki Jalan Ekonomi Secara Swadaya
Warga Desa Cimeta dan pengusaha tengah melakukan perbaikan sementara jalan penghubung sejumlah desa sepanjang 500 meter.

INILAHKORAN.ID - Hampir dua tahun, jalan penghubung di Kampung Cimeta, Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengalami kerusakan parah. Jalan yang membentang dari RW 09 hingga RW 13 itu menjadi akses penting bagi aktivitas ekonomi warga, terutama petani dan peternak.

Jalan tersebut sebelumnya dibangun menggunakan aspal hotmix dari Dana Desa. Namun, tingginya curah hujan membuat permukaannya kembali rusak. Sementara itu, usulan pembetonan permanen yang telah diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) belum juga terealisasi.

Di tengah kondisi tersebut, warga bersama pengusaha setempat berinisiatif melakukan penambalan sementara secara swadaya. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan sembari menunggu penanganan permanen dari pemerintah daerah.

Kepala Desa Tugumukti, Nandang Suherman, mengatakan jalan sepanjang 1.450 meter dengan lebar 3 meter itu menghubungkan Desa Tugumukti dengan Desa Kertawangi dan Desa Pasirlangu. Jalan tersebut juga menjadi akses bagi tiga dusun dan tiga rukun warga.

"Karena adanya longsor di jalur utama lainnya, jalan ini kini menjadi alternatif yang dilalui bahkan oleh kendaraan berukuran besar. Beban ini jauh melebihi kapasitas awal membuat kerusakan semakin parah," kata Nandang saat ditemui di lokasi, Rabu (28/10/2026).

Menurut Nandang, usulan pembetonan jalan telah disampaikan melalui Musrenbang dengan perkiraan kebutuhan anggaran sekitar Rp1,8 miliar. Namun, hingga kini pembangunan tersebut belum terealisasi.

"Pengajuan juga telah disampaikan kepada fraksi-fraksi di DPRD Kabupaten Bandung Barat, namun belum ada tindak lanjut yang nyata," ujarnya.

Melihat kondisi jalan yang semakin memprihatinkan, pengusaha sekaligus tokoh masyarakat setempat, Deden Arida, berinisiatif menggalang gotong royong bersama warga. Seluruh biaya dan tenaga untuk penambalan berasal dari swadaya masyarakat serta kontribusi pribadi, tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

"Tahap pertama penambalan dilakukan sepanjang sekitar 500 meter menggunakan delapan truk molen material, dikerjakan secara bergotong royong dengan target selesai dalam waktu dua minggu," kata Deden.

Ia menjelaskan, penambalan tersebut merupakan langkah darurat untuk mengurangi risiko kecelakaan. Pasalnya, kerusakan jalan dilaporkan telah memicu sejumlah insiden, mulai dari pengendara terjatuh hingga tabrakan.

Deden berharap pemerintah daerah memprioritaskan perbaikan infrastruktur pedesaan yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Ia juga meminta pemerintah menyampaikan rencana penanganan secara transparan agar warga memperoleh kepastian mengenai tindak lanjut perbaikan jalan tersebut.


Editor : Ahmad Sayuti