22-28 Desember 2025 Cuaca Ekstrem Masih Membayangi Wilayah Jawa Barat

Potensi cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, sepanjang periode 22 hingga 28 Desember 2025.

22-28 Desember 2025 Cuaca Ekstrem Masih Membayangi Wilayah Jawa Barat
Potensi cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, sepanjang periode 22 hingga 28 Desember 2025.

INILAHKORAN.ID – Potensi cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, sepanjang periode 22 hingga 28 Desember 2025.

Sejumlah faktor atmosfer global, regional, hingga lokal dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan kondisi dinamika atmosfer saat ini cukup signifikan memicu pertumbuhan awan hujan di Jawa Barat. Nilai Southern Oscillation Index yang berada pada angka positif, kondisi ENSO di wilayah Nino 3.4 yang cenderung dingin, serta Indian Ocean Dipole yang masih dalam kisaran normal, berperan dalam meningkatkan aktivitas konvektif, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.

“Secara umum, kondisi atmosfer mendukung terbentuknya awan hujan. Beberapa indikator global dan regional menunjukkan peluang hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang hingga malam hari,” ujar Teguh Rahayu.

Ia menjelaskan, anomali suhu permukaan laut yang berkisar antara minus 2 hingga plus 2,9 derajat Celsius turut mendukung pertumbuhan awan hujan. Selain itu, aktivitas gelombang Rossby ekuatorial yang terpantau aktif di wilayah Jawa Barat juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya potensi hujan.

BMKG Bandung juga memantau keberadaan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa yang bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Meski tidak berdampak langsung, sistem ini bersama sirkulasi siklonik di Kalimantan bagian barat berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan angin di Jawa Barat. Pola belokan angin dan konvergensi yang terpantau di wilayah ini semakin memperkuat peluang terjadinya hujan.

“Walaupun pusat siklon bergerak menjauh, dampak tidak langsungnya tetap perlu diwaspadai, terutama peningkatan angin dan hujan di beberapa wilayah Jawa Barat,” kata Teguh.

Pada skala regional, suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat masih cukup hangat sehingga memberi kontribusi terhadap pembentukan awan hujan lokal. Kelembapan udara pada lapisan 850 hingga 700 mb terpantau lembap dengan kisaran 60 hingga 95 persen. Kondisi ini mendukung terjadinya hujan dengan intensitas bervariasi.

Sementara itu, secara lokal di Bandung Raya, kelembapan udara pada lapisan 850 mb dan 700 mb berada pada kisaran 50 hingga 90 persen. Pola angin yang bersifat variabel menunjukkan melemahnya dominasi angin timuran dan mulai masuknya angin baratan, seiring peralihan musim menuju puncak musim hujan.

BMKG Bandung mencatat suhu udara minimum di Bandung Raya berkisar antara 18 hingga 20 derajat Celsius, sementara suhu maksimum berada di rentang 30 hingga 32 derajat Celsius. Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, saat ini telah memasuki musim hujan dengan puncak musim yang bervariasi hingga Maret 2026.

Teguh Rahayu mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, genangan, longsor, dan pohon tumbang akibat hujan lebat dan angin kencang.

“Masyarakat kami minta terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan segera mengambil langkah antisipasi apabila kondisi cuaca memburuk. Kewaspadaan bersama sangat penting untuk meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem,” ujarnya.

BMKG Bandung juga mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas di luar ruangan saat cuaca buruk serta tidak berlindung di bawah pohon atau baliho demi keselamatan.***


Editor : JakaPermana