24 Korban Banjir Bandang Dimakamkan Massal di Padang, 17 Jasad Tak Teridentifikasi Melalui DNA

17 jenazah merupakan korban yang tidak berhasil diidentifikasi maupun diklaim keluarga, meski telah melalui serangkaian tes DNA.

24 Korban Banjir Bandang Dimakamkan Massal di Padang, 17 Jasad Tak Teridentifikasi Melalui DNA

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 24 jenazah korban banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), akan dimakamkan secara massal di TPU Bungus, Kota Padang, pada Rabu (10/12) siang. 

Dari jumlah tersebut, 17 jenazah merupakan korban yang tidak berhasil diidentifikasi maupun diklaim keluarga, meski telah melalui serangkaian tes DNA.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Agam, Villa Erdi, menyampaikan bahwa seluruh jenazah terlebih dahulu akan dishalatkan di Masjid Raya Ahmad Khatib Al Minangkabawi, sebelum diberangkatkan menuju lokasi pemakaman.

“Usai dishalatkan, ke-24 jenazah langsung dibawa ke TPU Bungus untuk dimakamkan secara massal,” ujarnya di Lubuk Basung.

17 Jenazah Tidak Diklaim & DNA Tidak Sesuai

Villa menjelaskan, ke-17 jenazah yang tidak teridentifikasi itu terdiri dari 9 laki-laki, 5 perempuan, serta 3 bagian tubuh yang ditemukan terpisah. Seluruh jasad tersebut disimpan di RS Bhayangkara Padang sebelum keputusan pemakaman massal diambil.

“Tidak ada pihak keluarga yang mengklaim, dan hasil tes DNA tidak cocok dengan data warga yang melaporkan anggota keluarganya hilang. Karena itu, jenazah harus dimakamkan hari ini,” jelasnya.

Sudah 10 Jenazah Dimakamkan Lebih Dulu

Sebelumnya, Dinsos Agam telah memakamkan 10 jenazah korban banjir bandang di TPU Sungai Jariang, Kecamatan Lubuk Basung. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya dimakamkan tanpa keluarga, sementara delapan lainnya merupakan permintaan keluarga korban.

Dampak banjir Bandang Agam Sangat Besar

Bencana banjir bandang, longsor, dan banjir yang melanda Agam menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa dalam jumlah tinggi. Data terbaru mencatat:

188 orang meninggal dunia

72 orang masih hilang

13 orang dirawat

4.117 warga mengungsi

988 orang terisolasi


Editor : Firda Rachmawati