25 Kabupaten/Kota Lain Segera Susul Bogor-Cirebon Gelar Opadi, Redam Gejolak Harga Jelang Lebaran
Sudah menjadi rahasia umum, setiap jelang Ramadan maupun Lebaran, harga kebutuhan pokok mendadak naik seiring turut tingginya permintaan dari masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Sudah menjadi rahasia umum, setiap jelang Ramadan maupun Lebaran, harga kebutuhan pokok mendadak naik seiring turut tingginya permintaan dari masyarakat.
Potensi serupa pun besar terjadi jelang Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijiriah, yang akan dilaksanakan pada akhir Maret ini.
Sehingga kenaikan harga komoditas pangan menjadi tantangan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan yang bergantung pada kestabilan harga bahan pokok.
Guna mengatasi masalah ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sudah mengeluarkan senjata pamungkas, yakni Operasi Pasar Subsidi (Opadi) yang dilaksanakan secara masif di 27 kota dan kabupaten se-Jawa Barat.
Langkah ini diharapkan mampu meredam gejolak harga, mengurangi kesenjangan harga antarwilayah, serta memastikan keterjangkauan kebutuhan pokok bagi masyarakat.
Kenaikan harga bahan pangan menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun. Meningkatnya permintaan karena kebutuhan rumah tangga, sedekah, serta persiapan makanan khas Lebaran menyebabkan harga sejumlah komoditas melonjak.
Beberapa bahan pokok yang mengalami kenaikan signifikan antara lain beras, minyak goreng, tepung terigu dan gula pasir.
Kepala Disperindag Jabar Noneng Komara Nengsih mengungkapkan, pemerintah berupaya keras untuk menekan dampak dari lonjakan harga ini dengan menyalurkan paket sembako bersubsidi kepada masyarakat.
"Kegiatan ini dimulai sejak kemarin di Bogor dan hari ini sudah berlangsung di beberapa daerah. Target kami adalah menyelesaikan pendistribusian dalam waktu satu minggu, hingga Sabtu nanti," ujar Noneng dalam Opadi di Kelurahan Kejaksan, Kota Cirebon, Selasa 18 Maret 2025.
Menurut Noneng, stabilitas harga pangan merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.
"Kami ingin memastikan harga tetap stabil dan masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau," ucapnya.
Sebagai respons terhadap lonjakan harga, Disperindag Jabar menggelar Operasi Pasar Subsidi (Opadi) yang mencakup 27 kabupaten/kota.
Beberapa wilayah yang sudah melaksanakan kegiatan ini antara lain, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon Karawang, Purwakarta, Cianjur, Majalengka, Pangandaran dan Banjar.
Dalam operasi ini, pemerintah menyalurkan sebanyak 143.000 paket sembako bersubsidi dengan harga Rp72.000 per paket. Setiap paket berisi beras 5 kilogram, tepung terigu 1 kilogram, gula pasir 1 kilogram, dan minyak goreng 1 liter.
Paket-paket ini disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai mekanisme, termasuk pendataan oleh pemerintah daerah dan koordinasi dengan perangkat desa.
"Harapannya, stabilitas harga tetap terjaga, perbedaan harga antarwilayah bisa dikendalikan, serta masyarakat tidak panik dalam berbelanja karena stok tersedia dengan cukup," kata Noneng.
"Sudah mendistribusikan sebanyak 13.768 paket. Dari jumlah tersebut, 7.007 paket disalurkan di Kabupaten Bogor, 4.152 paket di Kabupaten Cirebon, dan 2.609 paket di Kota Cirebon," imbuhnya.
Meski upaya stabilisasi harga telah dilakukan, Noneng mengakui ada beberapa tantangan di lapangan, terutama dalam distribusi logistik dan penyesuaian harga di berbagai pasar tradisional.
Selain faktor permintaan yang meningkat, distribusi juga menjadi faktor penentu harga.
"Beberapa daerah mengalami kenaikan harga karena distribusi yang belum merata. Oleh karena itu, kami terus bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan barang sampai ke pasar dengan harga yang terkendali," kata Noneng.
Selain operasi pasar, pemerintah juga mengandalkan stok cadangan pangan untuk mengatasi lonjakan harga.
Langkah pemerintah dalam menggelar operasi pasar mendapat respons positif dari masyarakat. Bagi banyak warga, paket sembako bersubsidi sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.
"Alhamdulillah, dengan adanya pasar subsidi ini, kami bisa mendapatkan beras dan kebutuhan lainnya dengan harga lebih murah. Kalau di pasar biasa, harganya sudah naik cukup tinggi," ujar Yayat, warga Kota Cirebon yang mendapatkan paket sembako.
Namun, beberapa warga berharap program seperti ini dapat diperluas dan diperpanjang, terutama bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Noneng menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengevaluasi efektivitas program ini dan mempertimbangkan kemungkinan perpanjangan atau pengembangan program serupa.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying agar lonjakan harga tidak semakin parah.
“Kami pastikan stok cukup. Jangan sampai ada kepanikan berbelanja yang justru memperparah kondisi pasar. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan harga kebutuhan pokok dapat lebih terkendali dan masyarakat bisa merayakan Idulfitri dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga pangan," kata Noneng.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo menambahkan, operasi pasar bersubsidi terbukti meringankan beban masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga pangan.
"Kami sangat bersyukur karena bantuan ini dapat membantu masyarakat, terutama dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran. Harga sembako yang semula Rp145.800 kini bisa didapatkan dengan harga Rp72.000. Ini tentu sangat berarti bagi masyarakat Kota Cirebon," ujar Wali Kota Effendi Edo.
Menurut Edo, menjelang Lebaran harga bahan pokok di berbagai daerah biasanya mengalami kenaikan. Kota Cirebon tidak terkecuali, dengan beberapa komoditas mulai merangkak naik.
Namun, Effendi Edo optimistis bahwa keberadaan sembako bersubsidi dapat sedikit mengurangi dampak lonjakan harga bagi masyarakat.
"Memang ada kenaikan harga di beberapa komoditas, tetapi dengan adanya program sembako bersubsidi ini, kami berharap masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan mereka tanpa terbebani secara ekonomi," ungkapnya.
Wali Kota Cirebon juga berharap agar program ini dapat terus berlanjut dan cakupannya diperluas di tahun-tahun mendatang. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi agar ke depan bantuan yang diberikan bisa lebih banyak dan menjangkau lebih banyak warga.
"Kami berharap tahun depan jumlah sembako bersubsidi yang diberikan bisa lebih banyak lagi. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan pusat," ujarnya.
Selain program sembako bersubsidi, Pemkot Cirebon juga terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar tradisional guna memastikan tidak ada lonjakan harga yang terlalu signifikan dan menjaga stabilitas pasokan bahan pokok di kota ini.
Dengan adanya langkah-langkah ini, Effendi Edo optimistis warga Kota Cirebon dapat merayakan Lebaran dengan lebih tenang dan tidak terlalu terbebani oleh kenaikan harga bahan pokok.
Editor : Doni Ramdhani
