30 Tahun Bermusik, Pas Band Diadili

Pas Band harus diseret ke DCDC Pengadilan Musik. Pasalnya, band rock tanah air ini terus menunjukan eksistensinya di dunia musik.

30 Tahun Bermusik, Pas Band Diadili

INILAHKORAN, Bandung - Pas Band harus diseret ke DCDC Pengadilan Musik. Pasalnya, band rock tanah air ini terus menunjukan eksistensinya di dunia musik.

Lebih dari 30 tahun atau berdiri sejak tahun 1991, Pas Band yang saat ini digawangi Yuki pada vokal, Bengbeng pada gitar, Trisno pada bass, Richard Mutter dan Sandy Andarusman pada drum ini masih melahirkan karya. 

Terbaru, mereka baru saja mengeluarkan sebuah mini album melalui single berjudul "Sesungguhnya". Ini merupakan sebuah pembuktian akan produktivitas dan eksistensi Pas Band dalam berkarya untuk kembali menyapa para penggemarnya. 

Dalam persidangan yang dipimpin Man Jasad sebagai hakim dan Rully Cikapundung sebagai Panitera, Pas Band langsung dicecar banyak pertanyaan dari kedua Jaksa Penuntut yakni Budi Dalton dan Pidi Baiq. 

Di awal-awal pertanyaan, penonton yang hadir langsung dibuat terbahak-bahak. Hal itu terjadi setelah Pidi Baiq mempertanyakan hengkangnya Richard Mutter.

"Gak malu balik lagi," tanya Pidi Baiq di Kantin Nation The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Kamis, 28 Oktober 2022 malam. 

Richard pun tersipu malu sembari menutup wajahnya. Ia mengaku saat itu, masih dalam keadaan 'pusing' luar dalam.

Namun Rully PHB dan Ade Muir Pure Saturday sebagai pembela mengatakan bahwa selama ini Pas Band juga kerap berkumpul di kediamannya Richard. 

"Mungkin mang Sandynya yang malu," seraya tertawa. 

Sandy sendiri merupakan personel baru yang masuk Pas Band. Ia gabung pada tahun 2001 menggantikan Richard yang saat itu memutuskan keluar. 

Bengbeng memastikan bahwa ketika Sandy Andarusman masuk, Pas Band saat itu tidak mengalami vakum. Sebaliknya, band tengah disibukan dengan beberapa undangan untuk tampil.

"Ketika Richard keluar, ada jadwal konser dan Sandy harus ngapalin 20 lagu dalam seminggu," katanya. 

Sandy membenarkan ketika kehadirannya di Pas Band, ia harus bisa menghafal lagu sebanyak dua minggu. Sebab saat itu Pas Band masih harus tampil di 14 titik. 

Tak hanya soal Richard, kedua Jaksa Penuntut juga mempertanyakan nama Pas yang hingga kini melekat hingga lebih dari 30 tahun. Termasuk juga asal muasalnya Pas Band bisa menjadi band Indie pertama di Indonesia. 

Saksi pun didatangkan. Sosok perempuan yang disebut mbak Arin ini menjelaskan dan menceritakan asal muasal Pas Band bisa terkenal di dunia musik hingga saat ini. 

"Pas Band muncul di khalayak tepatnya di Saparua. Karena sebelumnya Band ini hanya dari kampus ke kampus. Dan kebetulan saat itu Saparua sudah menjadi barometer band rock. Dan saya berbangga bahwa Pas Band menjadi band yang dapet atensi dari band luar negeri foo fighter," kata Mba Arin.

Dari hasil persidangan yang sudah berjalan, Man Jasad selaku Hakim DCDC Pengadilan Musik memutuskan bahwa atas dasar konsistensi dalam berkarya, teknologi tidak membuat sebuah band menjadi manja. 

"Mudah-mudahan ke depan Pas Band semakin berjaya dan semoga ini ke depannya berkarya nyata. Tong loba gaya siga tamtamers PHB. Demikian hasil dari DCDC Pengadilan Musik dengan terdakwa Pas Band dinyatakan selesai dan ditutup," kata Man Jasad. 

Pas Band sendiri mengaku terkesima dengan acara DCDC Pengadilan Musik ini. Terbukti, banyak musisi yang sudah diadili di acara ini.

"Seperti yang dibilang para musisi ini udah jadi tempat kita berpromosi yang efektif karena ditonton banyak banget orang dan kita bisa lihat viewers dari episode-episode sebelumnya. Edan memang acara ini dikemas dengan sangat baik, berbeda yah, bukan hanya sekadar tampil tapi dibedah demikian dalam dengan cara yang menurut saya gila, dengan cara yang lepas, dengan cara yang gak basa basi, unik sih," ungkap Sandy. 

"Ini tempat buat acara silaturahmi buat para musisi, gak usah di stage besar, lebih akrab, emang budaya Bandung gitu. Harus tetap dipertahankan," tambah Trisno.

Terkait mengenai banyak pertanyaan, Sandy tak mempermasalahkannya. Sebaliknya, ia merasa durasi yang dilakukan seharusnya bisa lebih panjang. 

"Sebenarnya kalau dikuliti, masih kurang dalam, masih banyak cerita-cerita seru karena saya, Yuki, Bengbeng, Trisno sama Richard punya cerita-cerita seru yang banyak lagi. Karena kita pertama kali manggung di luar negeri, pertama kali manggung yang bukan audiens kita. Saya dan Yuki termasuk orang yang sering eksplorasi yang senang apa yah. Kita pernah ikut fear factor di akhir tahun dan lainnya. Dan kita pernah nyoba ekstrim kuliner dan lainnya, banyak hal-hal seru sebenarnya," tuturnya. 

Sandy pun memastikan bahwa keikatan saudara menjadi resep bagi Pas Band bisa bertahan bermusik lebih dari 30 tahun. Bahkan seperti rumah bagi Yuki. 

"Walaupun petualangannya masing-masing, karir sibuk masing-masing, keluarga masing-masing tapi pas pulang ke Pas Band kayak orang yang bawa oleh-oleh, eh ini, seperti ini, ini, begini begini, dan itu mungkin buat kami saat ini tetap antusias, tetap kumpul. Mudah-mudahan ini terus terjadi bukan hanya hari ini," harapnya. 

"Dan Alhamdulillah kita gak pernah ada konflik yang cukup tajam, jadi Richard juga keluar baik-baik, kemudian akhirnya bisa balik juga. Kalau boleh kita dengar, band-band lain tuh personelnya keluar itu malah jadi musuh, itu yang membuat kita itu gada. Jadi memang ikatan saudara itu yang menguatkan," tambah Bengbeng. 

Sementara itu, Adi Handi selaku Produser DCDC Pengadilan Musik memiliki alasan tersendiri memilih Pas Band sebagai terdakwa kali ini. Menurutnya ini adalah kesempatan besar bagi pihaknya menghadirkan band legendaris. 

"Pas Bandung merupakan legenda hidup yang telah memberikan banyak inspirasi sepak terjang bagi nasional. Kenapa akhirnya pengadilan musik memanggil mereka karena banyak informasi, cerita-cerita yang tidak diungkapkan dalam karier pas sebagai sebuah band," kata Adi Handi.

Terkait mengenai DCDC Passport, portal akses untuk masuk ke program DCDC dengan sistem undangan terbatas, Adi mengakui bahwa tamu yang datang tidak bisa terbendung. 

"Sebetulnya kalau DCDC Passport, kuota 40 orang, cuma tahu sendiri, kita tidak bisa melarang orang datang. Tapi terimakasih kepada fansnya DCDC mau berbagi kebahagiaan di sini," pungkasnya.*** (muhammad ginanjar)


Editor : Doni Ramdhani