385 Tahun Kabupaten Bandung, Legislator PAN Soroti Refleksi Pembangunan

Peringatan Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung, Senin (20/4/2026), menjadi momentum refleksi tajam terhadap kondisi pembangunan daerah.

385 Tahun Kabupaten Bandung, Legislator PAN Soroti Refleksi Pembangunan

INILAHKORAN.ID-Peringatan Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung, Senin (20/4/2026), menjadi momentum refleksi tajam terhadap kondisi pembangunan daerah.

Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PAN, Yadi Supriadi, melontarkan kritik keras terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum tertangani secara serius.

Menurut Yadi, di usia yang sudah ratusan tahun, pembangunan di Kabupaten Bandung masih jauh dari kata ideal. Ia menilai kondisi tata ruang hingga infrastruktur cenderung semrawut dan tidak terkelola dengan baik.

“Harus diakui, pembangunan kita masih acak-acakan. Tata ruang tidak tertata, dampaknya banjir terus terjadi bahkan semakin parah, terutama akibat kerusakan lingkungan di dataran tinggi,” kata  Yadi.

Ia menyoroti maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan yang tidak berizin dan tidak memenuhi standar. Lahan resapan air yang sebelumnya berfungsi menahan limpasan air hujan kini berubah menjadi kawasan padat dengan sistem drainase buruk.

“Akibatnya jelas, saat hujan turun, banjir tidak terhindarkan,” ujarnya.

Di sektor lingkungan, Yadi juga menyoroti buruknya pengelolaan sampah. Produksi sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.800 ton per hari, namun yang mampu ditangani hanya sekitar 500 ton. Minimnya Tempat Pembuangan Sementara (TPS) membuat warga kerap membuang sampah sembarangan.

“Kondisi ini memperlihatkan tidak adanya terobosan. Sampah menumpuk di jalan dan permukiman, ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kondisi infrastruktur jalan pun dinilai jauh dari layak. Jalan berlubang yang tergenang air akibat buruknya drainase menjadi pemandangan rutin, terutama saat musim hujan, dan kerap memicu kecelakaan.

Di sisi lain, Yadi menekankan pentingnya perhatian terhadap pembangunan non-fisik. Ia menilai angka kemiskinan masih tinggi dan tidak boleh hanya dilihat dari indikator makro seperti IPM.

“Realitas di lapangan masih banyak masyarakat berpenghasilan rendah yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Di Kecamatan Pangalengan misalnya, indek kemiskinan bahkan disebut lebih dari 25 persen,” kata Yadi yang merupakan putra daerah Pangalengan itu. 

Pada sektor pendidikan, ia mengingatkan potensi praktik kecurangan menjelang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya di tingkat SMP negeri. Dimana setiap pelaksanaan SPMB selalu saja tercium aroma tak sedap berbagai praktik kecurangan ini.

“Praktik titipan dan sogok menyogok harus dihentikan dan ditindak  tegas para oknum pelakunya. Karena hal ini terus terulang setiap tahun, dan ini  mencoreng dunia pendidikan kita,” katanya.

Sementara di bidang kesehatan, Yadi menyoroti pelayanan yang belum optimal di fasilitas milik pemerintah daerah. Ia menyinggung kasus viral terkait kerumunan pasien yang tak kunjung mendapatkan pelayanan  di RSUD Otto Iskandar Dinata Soreang yang memicu kemarahan warga.

“Pelayanan kesehatan tidak boleh asal-asalan. Kejadian viral baru-baru ini di RSUD Otto Iskandar Dinata Soreang belum lama ini  sangat memalukan. Keselamatan dan kemanusiaan harus jadi prioritas,” katanya.

Dengan berbagai persoalan tersebut, Yadi menegaskan bahwa Hari Jadi ke-385 harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh bagi Pemerintah Kabupaten Bandung.

“Usia 385 tahun bukan usia muda. Seharusnya Kabupaten Bandung sudah menjadi daerah yang maju dan menjadi contoh. Ini saatnya berbenah secara serius agar pembangunan di semua sektor bisa lebih baik,”katanya.***


Editor : JakaPermana