4 Jenis Gerhana Matahari dan Alasan Fenomena Ini Tak Terjadi Setiap Bulan
Gerhana Matahari merupakan salah satu fenomena astronomi yang terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-gerhana Matahari merupakan salah satu fenomena astronomi yang terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Pada kondisi tersebut, Bulan menghalangi sebagian atau seluruh cahaya Matahari sehingga bayangannya jatuh ke permukaan Bumi.
Meski Bulan Baru terjadi sekitar satu kali setiap bulan, gerhana Matahari tidak selalu terjadi bersamaan dengan fase tersebut. Ada faktor astronomis yang membuat posisi Bulan tidak selalu tepat berada di antara Matahari dan Bumi.
Kenapa gerhana Matahari Tidak Terjadi Setiap Bulan?
Secara astronomis, gerhana Matahari hanya dapat terjadi ketika Bulan berada pada fase Bulan Baru (New Moon). Namun, posisi Bulan tidak selalu berada pada bidang yang sama dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari.
Orbit Bulan diketahui memiliki kemiringan sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi-Matahari atau ekliptika. Akibatnya, pada sebagian besar fase Bulan Baru, posisi Bulan berada terlalu tinggi atau terlalu rendah dari bidang ekliptika.
Kondisi tersebut membuat bayangan Bulan tidak mengenai permukaan Bumi. gerhana Matahari baru dapat terjadi ketika Bulan Baru berada di dekat titik perpotongan orbit Bulan dengan bidang ekliptika.
Periode ketika kondisi tersebut memungkinkan terjadinya gerhana dikenal sebagai musim gerhana. Dalam satu tahun umumnya terdapat dua musim gerhana.
Bayangan Bulan yang jatuh ke Bumi terdiri atas beberapa bagian. Umbra merupakan bagian bayangan paling gelap yang dapat menghasilkan gerhana total, sedangkan penumbra merupakan bayangan yang lebih samar dan menyebabkan terjadinya gerhana sebagian.
1. gerhana Matahari Total
gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan tampak menutupi seluruh piringan Matahari dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Fenomena ini dimungkinkan karena ukuran Matahari secara fisik sekitar 400 kali lebih besar dibandingkan Bulan. Namun, Matahari juga berada sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi dibandingkan jarak Bulan. Akibatnya, ukuran tampak Matahari dan Bulan di langit dapat terlihat hampir sama.
Pengamat yang berada di jalur totalitas, yakni wilayah yang dilintasi umbra Bulan, dapat melihat korona Matahari. Korona merupakan lapisan atmosfer luar Matahari yang biasanya tidak terlihat karena cahaya piringan Matahari jauh lebih terang.
2. gerhana Matahari Cincin
gerhana Matahari Cincin (Annular) terjadi ketika Bulan berada pada jarak yang relatif lebih jauh dari Bumi sehingga ukuran tampaknya lebih kecil dibandingkan piringan Matahari.
Dalam kondisi tersebut, Bulan tidak mampu menutupi seluruh piringan Matahari. Bagian tepi Matahari tetap terlihat mengelilingi Bulan yang berada di tengah.
Fenomena tersebut menghasilkan tampilan menyerupai “cincin api” (ring of fire).
Berbeda dengan gerhana total, wilayah bayangan yang menghasilkan gerhana cincin disebut antumbra.
3. gerhana Matahari Hibrida
gerhana Matahari Hibrida merupakan salah satu jenis gerhana yang relatif langka. Fenomena ini dapat terlihat sebagai gerhana total di sebagian jalur dan gerhana cincin di bagian jalur lainnya.
Perbedaan tersebut terjadi karena kelengkungan permukaan Bumi membuat jarak pengamat terhadap Bulan berbeda-beda di sepanjang jalur gerhana.
Akibat perubahan jarak relatif tersebut, ukuran tampak Bulan dapat berada pada kondisi yang cukup untuk menutupi Matahari secara total di satu wilayah, tetapi hanya menghasilkan gerhana cincin di wilayah lainnya.
4. gerhana Matahari Sebagian
gerhana Matahari Sebagian terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi tidak berada dalam posisi segaris sempurna.
Dalam kondisi ini, hanya sebagian bayangan Bulan atau penumbra yang mengenai permukaan Bumi. Akibatnya, pengamat hanya melihat sebagian piringan Matahari tertutup oleh Bulan.
Dari permukaan Bumi, Matahari akan tampak seperti “tergigit” pada salah satu bagiannya.
gerhana Matahari Merupakan fenomena astronomi yang Teratur
gerhana Matahari bukanlah fenomena yang terjadi secara acak. Peristiwa ini mengikuti pola pergerakan Bumi dan Bulan serta posisi keduanya terhadap Matahari.
Kunci terjadinya gerhana adalah fase Bulan Baru dan posisi Bulan yang berada cukup dekat dengan bidang ekliptika. Karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat, sebagian besar Bulan Baru tidak menghasilkan gerhana.
Dengan memahami posisi ketiga benda langit tersebut, dapat diketahui mengapa gerhana Matahari tidak terjadi setiap bulan dan mengapa fenomena tersebut dapat muncul dalam beberapa bentuk, yakni gerhana total, cincin, hibrida, dan sebagian.***
Editor : JakaPermana

