5.000 Ton Sehari, Sampah Menanti Solusi

5.000 Ton Sehari, Sampah Menanti Solusi
TANGANI SAMPAH: Sekda Jabar Herman Suryatman melepas 3.000 mahasiswa Telkom University yang akan mengikuti KKN tematik di Kabupaten Bandung untuk menangani masalah sampah.(INILAH/YULIANTONO)

INILAH, Bandung - Setiap hari, ribuan ton sampah mengalir dari aktivitas warga Bandung Raya. Sebagian berakhir di tempat pengolahan, sebagian lainnya masih menunggu penanganan.

Di tengah persoalan yang belum usai, perubahan kini coba ditumbuhkan dari tempat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: rumah tangga.

Persoalan sampah di Bandung Raya masih menjadi pekerjaan besar.

Dari timbulan yang mencapai 5.000 ton per hari, baru sekitar 30 persen yang berhasil dikelola.

Angka itu memperlihatkan besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan, sekaligus pentingnya mengubah cara masyarakat memperlakukan sampah sejak dari sumbernya.

Upaya tersebut kini melibatkan kalangan akademisi. Sebanyak 3.000 mahasiswa Telkom University diterjunkan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.

Program ini menjadi bagian dari Gotong Royong Akademisi Berkolaborasi dan Berinovasi (Gradasi), dengan fokus mengajak masyarakat mengurangi, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah.

Di kampus Telkom University, Sabtu (24/10), Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman melepas para mahasiswa untuk memulai pengabdian mereka.

Tugas yang menanti bukan sekadar menjalankan agenda akademik, melainkan menyelami persoalan lingkungan yang hadir di sekitar masyarakat.“Tema yang kita usung adalah pengelolaan sampah, tentu bukan hanya konsen belajar tapi bagaimana memulai memahami dinamika persoalan di sekeliling kita,” ujar Herman.

Bagi Herman, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan pemerintah atau penambahan kapasitas pengolahan semata.

Perubahan juga perlu tumbuh dari kebiasaan warga, dari cara memilah sisa konsumsi hingga memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

Di titik inilah keterlibatan mahasiswa diharapkan membawa arti.

Mereka hadir bukan hanya sebagai peserta KKN, tetapi juga sebagai penghubung pengetahuan dengan kehidupan seharihari.

Edukasi menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran, sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan tanggung jawab bersama.

“Kami berpandangan persoalan sampah ini harus bahu-membahu antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi dengan sasaran utamanya adalah mengedukasi masyarakat agar mengurangi, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah,” jelas Herman.

Kolaborasi itu sekaligus menempatkan perguruan tinggi lebih dekat dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Ilmu yang dipelajari di ruang kuliah diharapkan tidak berhenti sebagai teori, tetapi menemukan manfaatnya ketika berhadapan dengan tantangan lingkungan.

Herman mengingatkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Melalui KKN Tematik, mahasiswa diajak turun langsung, mengenali persoalan di lapangan, serta membangun pemahaman warga tentang pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Jadi apa yang akan adek-adek lakukan ini adalah bagian dari tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, jadi kita akan sama-sama ke lapangan melakukan edukasi,” tuturnya.

Namun, besarnya persoalan sampah Bandung Raya membuat edukasi menjadi pekerjaan yang tak bisa selesai dalam satu kali kunjungan.

Dengan timbulan mencapai 5.000 ton setiap hari dan tingkat pengelolaan baru sekitar 30 persen, pengurangan sampah dari sumbernya menjadi salah satu langkah penting untuk menekan beban pengolahan.

“Setiap hari sampah di Bandung Raya ada 5.000 ton dan yang terkelola baru 30 persen yang sejatinya bisa dikelola sejak dari rumah tangga dengan mengurangi, memanfaatkan dan mendaur ulang sampah,” pungkas Herman.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran