Ketika Jalanan Menjadi Panggung Ingatan
PAWAI Jampana mewarnai HUT ke-216 Kota Bandung. Tradisi dan kebersamaan berpadu dalam pesta rakyat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Pagi itu, Sabtu (24/10), jalanan Bandung bukan sekadar ruang bagi kendaraan yang lalu-lalang. Jalan Diponegoro hingga Merdeka menjelma panggung terbuka, tempat warga berkumpul, tradisi diarak, dan kreativitas menemukan jalannya untuk menyapa siapa saja.
Di antara riuh langkah dan sorak penonton, Pawai Jampana hadir menutup perayaan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung. Bukan dengan gemerlap mobil hias pada malam hari seperti tahuntahun sebelumnya, melainkan melalui arak-arakan tradisional yang membawa semangat kebersamaan, kearifan lokal, dan warna-warni kehidupan masyarakat.
Warga berdiri di sepanjang jalan, menanti rombongan yang bergerak menuju Balai Kota Bandung. Ada yang datang untuk menyaksikan ragam penampilan, ada pula yang sekadar ingin menjadi bagian dari kegembiraan kota yang tengah merayakan hari jadinya.
Kemeriahan berlanjut di halaman Balai Kota. Ega Robot, Kuburan Band, hingga Bungsu Bandung ikut menghidupkan suasana. Musik, tawa, dan tepuk tangan melebur dalam satu perayaan, seolah menegaskan bahwa kota bukan semata bangunan, jalan, atau gedung pemerintahan. Kota juga tumbuh dari orang-orang yang menghidupkannya.Di tengah keramaian itu, Jampana menjadi penanda yang berbeda. Tradisi lama dibawa kembali ke ruang publik, menyusuri jalanan yang setiap hari menjadi saksi kesibukan warga.
Jampana merupakan tandu hias yang dipanggul empat hingga enam orang.
Setiap kelompok menghadirkan ornamen dengan bentuk dan tema berbeda, mencerminkan gagasan serta kreativitas yang tumbuh di wilayah masing-masing.
Namun, Jampana bukan sekadar benda hias yang dipamerkan. Di bagian dalamnya tersimpan berbagai jenis makanan yang dibagikan kepada masyarakat ketika arakarakan berlangsung.
Ada sesuatu yang sederhana sekaligus akrab dalam tradisi itu: perayaan tidak berhenti pada apa yang bisa dilihat, tetapi juga menghadirkan sesuatu yang bisa dinikmati bersama.
“Jampana itu adalah arak-arakan yang dipanggul oleh empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat, dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” kata Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam keteragan persnya.
Bagi Farhan, pilihan menghadirkan Jampana merupakan upaya menggelar pesta rakyat yang sederhana, tetapi tetap meriah dan memiliki akar budaya.
Perayaan Hari Jadi Kota Bandung kali ini tidak lagi bertumpu pada konsep City of Light dengan mobilmobil hias pada malam hari. Pemerintah kota memilih jalan berbeda: menghidupkan tradisi dan memberi ruang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat.
Gagasan itu berangkat dari pengamatannya terhadap kegiatan yang digelar kecamatan selama rangkaian HJKB. Pada 5–6 September, sehari setelah upacara Hari Jadi Kota Bandung, Farhan melihat bagaimana masyarakat menampilkan potensi dan kreativitas wilayahnya masing- masing.
Dari sana, muncul keinginan untuk merangkai berbagai ekspresi tersebut ke dalam sebuah karnaval.
Bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga ruang perjumpaan antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda.
Sejumlah institusi pendidikan, seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Taruna Nusantara, turut dilibatkan. Kolaborasi itu memperluas partisipasi, menjadikan perayaan kota sebagai ruang bersama bagi beragam kelompok.
“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujar Farhan.
Prinsip itu menemukan bentuknya dalam proses kurasi penampilan dari 30 kecamatan di Kota Bandung.
Berbagai gagasan yang tumbuh di tingkat wilayah dipilih untuk menjadi bagian dari karnaval. Dengan begitu, perayaan tidak sepenuhnya dirancang dari balik meja, tetapi juga bertolak dari denyut kehidupan masyarakat.
Di antara ragam penampilan, keberagaman budaya menjadi salah satu warna yang menyita perhatian.
Kecamatan Mandalajati, misalnya, menghadirkan nuansa budaya Tionghoa melalui busana merah yang dikenakan para pesertanya. Di tengah tampilan tersebut, para perempuan tetap mengenakan hijab.
Bagi Farhan, pemandangan itu memperlihatkan bagaimana beragam identitas dapat hadir berdampingan dalam satu ruang perayaan.
Budaya tidak selalu tampil dalam bentuk yang seragam. Dia dapat berbaur, saling menyapa, dan menemukan ekspresi baru tanpa kehilangan ciri masyarakat yang membawanya.
“Mandalajati itu semuanya bergaya China.
Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” jelasnya.
Keberagaman semacam itu memberi makna lebih pada sebuah karnaval.
Setiap kelompok datang dengan cerita, warna, dan identitasnya sendiri. Ketika semuanya bergerak dalam satu arak-arakan, perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan bagian dari wajah Bandung yang terus tumbuh. (gin)
Editor : Inilahkoran
