57 Aduan Masuk di Bale Pananggeuhan Pada Hari Pertama Diluncurkan, Masalah Pendidikan dan Kesehatan Mendominasi
Hari pertama operasional Pos Layanan Pengaduan Bale Pananggeuhan di Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Kota Bandung, langsung diserbu masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Hari pertama operasional Pos Layanan pengaduan Bale Pananggeuhan di Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Kota Bandung, langsung diserbu masyarakat.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya laporan atau pengaduan yang masuk, di Bale Penanggeuhan pada hari pertama digulirkan, sebanyak 57 aduan tercatat.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Pemprov Jabar, Akhmad Taufikurrahman menyampaikan, bahwa seluruh proses pelayanan pada hari pertama berlangsung tertib dan kondusif.
“Disampaikan laporan kegiatan pelayanan penyampaian aspirasi atau pengaduan di Bale Panangeuhan Setda Provinsi Jawa Barat, secara umum dapat dilaporkan layanan pengaduan berjalan kondusif, lancar, dan terlayani dengan baik,” Akhmad, dikutip Selasa 7 Oktober 2025.
Menurutnya, Pemprov Jabar menempatkan sejumlah petugas untuk memastikan setiap aduan warga tertangani dengan cepat dan efektif. Sistem antrean serta alur pelayanan juga diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan penumpukan.
Dari total 57 aduan yang diterima, 23 di antaranya berkaitan dengan persoalan pendidikan dan kesehatan, 15 laporan menyangkut konsultasi hukum pertanahan, 2 pengaduan hukum pribadi, dan 17 lainnya berupa kunjungan umum maupun persoalan sosial.
Salah satu warga yang datang ke Bale Pananggeuhan di hari pertama adalah pasangan suami istri, Andri dan Yanti dari Kabupaten Bandung Barat.
Dia datang untuk mengadukan permasalahan hukum yang menimpa keluarganya, tepatnya kasus kecelakaan di Tol KM 13,5 Moh Toha 5 September lalu.
Ketika itu, kendaraan yang mereka gunakan tengah mogok, namun ditabrak oleh pengendara lain. Sampai akhirnya salah satu keluarga meninggal dunia.
"Mereka sampai sekarang tak tanggung jawab, katanya mau diselesaikan secara kekeluargaan, tapi sampai saat ini enggak ada itikad baik. Semoga dengan mengadukan ke sini masalah cepat selesai. Kami meminta ganti unit mobil dan tanggung jawab ke anak almarhum yang menjadi yatim sekarang. Waktu itu mereka menyanggupi tapi ternyata sampai sekarang belum dan justru saling lempar antara sopir dengan bosnya," katanya.
Editor : Ahmad Sayuti
