Adakah Tanda Jelang Kematian dari 100, 40 Hingga 7 Hari dalam Islam?
Benarkah pemahaman tentang tanda kematian dari 100, 40, hingga 7 hari sesuai Alquran dan hadist dalam islam?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Kita pernah mendengar tentang tanda kematian dari 100, 40, hingga 7 hari. Benarkah pemahaman tersebut dalam islam?
Menurut Ustaz Ammi nur Baits dalam artikelnya di konsultasisyariah.com, kita harus benar-benar memastikan pemahaman tentang tanda kematian itu berasal dari Alquran dan hadist.
Pertama, Allah menegaskan dalam al-Quran "Tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengetahui dengan detail." (QS. Luqman: 34)
Baca Juga: Tangis Rasulullah Pecah Ketika Melihat Kaum Wanita Disiksa
Jika kita ditanya, mana yang lebih memungkinkan untuk diupayakan terwujud, merencanakan waktu kematian atau tempat kematian?.
Misalnya si A merencanakan waktu kematian, saya ingin mati di usia 63 tahun. Sementara si B merencanakan, saya ingin mati di jogja.
Mari kita perhatikan, merencanakan usia, 100 % tidak mungkin bisa dilakukan manusia. Karena bertambah dan berkurangnya umur manusia, di luar kemampuan dan upaya manusia.
Sementara merencanakan tempat mengakhiri hayat, lebih memungkinkan untuk diupayakan manusia.
Karena seseorang mungkin saja berencana mati di kota A dan selama hidupnya, dia berusaha untuk tidak keluar dari kota A.
Dengan demikian, kita bisa menjawab pertanyaan di atas, bahwa tempat kematian lebih memungkinkan untuk diupayakan terwujud. Meskipun keduanya murni ada dalam kekuasaan Allah.
Baca Juga: Dua Ayat Terakhir Al Baqarah untuk Hidup Berkecukupan, Bacakan di Waktu Khusus Ini
Kita kembali kepada ayat di atas. Pada ayat di atas, Allah menegaskan, "tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.." Allah tidak berfirman, "manusia tidak mengetahui kapan dia akan mati.." tapi yang Allah firmankan, "manusia tidak mengetahui dimana dia akan mati."
Jika Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa mengetahui tempat kematiannya, maka jelas manusia akan lebih tidak mengetahui berkaitan dengan waktu kematiannya.
Karena merencanakan tempat kematian itu lebih memungkinkan untuk lebih memungkinkan untuk diupayakan, dari pada merencanakan waktu kematian.
Baca Juga: Cukup Ucapkan Satu Kata Ini, Setan Takkan Berani Bersemayam di Rumah
Sehingga ayat itu sejatinya memberikan pelajaran bagi kita, jika tempat saja manusia gak tahu, apalagi waktunya.
Tanda kematian, 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian, jelas sangat bertentangan dengan ayat di atas.
Karena semua tanda di atas berbicara tentang kematian dalam batas waktu.
Kedua, dalam tulisan tersebut digambarkan lauhul mahfudz layaknya pohon. "Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur.."
Di mana dalil bahwa lauh mahfudz berupa pohon berdaun?. Padahal Allah sebut lauh mahfudz berupa kitab, "Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, dan semuanya terdapat dalam kitab." (QS. Al-Hajj: 70).
Baca Juga: Gelombang Ketiga Covid 19 Mengancam, Amalkan Doa dari Nabi Ini untuk Perlindungan
Ibnu Athiyah mengatakan, "Kitab itu adalah al-Lauh al-Mahfudz." Allah juga menegaskan, "Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh)." Ibnu Abbas mengatakan, "Itu adalah lauhul mahfudz." (al-Bahr al-Muhith, 9/237).
Di ayat lain, Allah juga menegaskan, "Seperti itulah yang mereka dapatkan dari jatah mereka yang telah tertulis dalam al-kitab."
Al-Baghawi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, "Jatah mereka yang telah tertulis tentang mereka di al-Lauh al-Mahfudz." (Tafsir al-Baghawi, 3/227).
Baca Juga: Hidup Insya Allah Serba Berkecukupan dengan Baca Surat Ini Setiap Malam, Ajaran dari Sahabat
Memahami keterangan di atas, informasi masalah kematian dan tanda-tandanya, yang sama sekali tidak menyebutkan sumber, tidak selayaknya diperhatikan, apalagi diyakini kebenarannya. Tulisan yang sangat tidak bertanggung jawab dan 100% dusta.***
Editor : inilahkoran

