Agentic AI Dinilai Jadi Kunci Perkuat Jaringan Listrik Indonesia

Agentic AI dinilai dapat memperkuat keandalan jaringan listrik Indonesia sekaligus mendukung integrasi energi terbarukan dan pemeliharaan prediktif.

Agentic AI Dinilai Jadi Kunci Perkuat Jaringan Listrik Indonesia
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Pemanfaatan Teknologi analitik berbasis kecerdasan buatan atau Agentic AI dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat keandalan jaringan Listrik nasional, terutama dalam menghadapi peningkatan integrasi Energi Terbarukan di Indonesia.

CEO Kayak Analytics Gilbert Espinosa, perusahaan teknologi energi yang memanfaatkan AI dan analitik data, mengatakan pengembangan teknologi kelistrikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

"Ambisi energi Indonesia patut didukung teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan Indonesia," kata Gilbert, dikutip di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, penguatan sistem kelistrikan melalui digitalisasi dan analitik tingkat lanjut semakin dibutuhkan untuk mendukung proyek energi berskala besar yang tengah dikembangkan pemerintah.

Salah satunya program pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026.

Pengembangan energi terbarukan dalam skala besar, kata Gilbert, membutuhkan sistem pemantauan yang mampu mengawasi kinerja pembangkit surya, kondisi penyimpanan baterai, hingga kesehatan berbagai aset jaringan listrik.

Pemantauan tersebut penting agar potensi gangguan pasokan listrik dapat diidentifikasi dan diantisipasi secara lebih cepat dan presisi.

AI Dukung Pemeliharaan Prediktif

Gilbert menilai pengolahan data operasional secara mandiri oleh tenaga ahli dalam negeri menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kapabilitas infrastruktur kelistrikan nasional dalam jangka panjang.

Penerapan teknologi analitik terpadu memungkinkan data operasional dari berbagai sumber, mulai dari gardu induk, pembangkit tenaga surya, pembangkit angin, tenaga air hingga sistem penyimpanan energi berbasis baterai, dihimpun dalam satu platform pemantauan.

Dengan pendekatan kecerdasan buatan, sistem dapat membantu mengidentifikasi perilaku abnormal secara otomatis, menghimpun data rekayasa teknis, serta menyusun rekomendasi tindakan bagi operator sebelum terjadi kerusakan pada aset.

Model rekayasa yang menggabungkan data operasional terkini dengan data historis juga dapat mendukung penerapan pemeliharaan prediktif pada berbagai infrastruktur vital, termasuk gardu induk dan transformator utama.

Melalui pemeliharaan prediktif, potensi gangguan pada aset dapat diketahui lebih awal sehingga tindakan perawatan dapat dilakukan sebelum kerusakan berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.

Kedaulatan Data Jadi Perhatian

Kendati demikian, Gilbert menilai penerapan teknologi kelistrikan modern di Indonesia tetap harus dibangun berdasarkan kolaborasi teknis dan prinsip kedaulatan data nasional.

Menurut dia, tata kelola data operasional serta akses terhadap sistem dalam kerja sama teknologi energi berbasis AI perlu ditempatkan pada infrastruktur terdistribusi di dalam negeri.

Langkah tersebut juga perlu dibarengi dengan program alih pengetahuan atau transfer of knowledge secara berkelanjutan kepada tenaga ahli lokal.

Dengan demikian, pemanfaatan teknologi AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem kelistrikan, tetapi juga dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi di dalam negeri.***


Editor : JakaPermana