AI Lagi Gencar-gencarnya, Pemprov Jabar Bidik Investasi Data Center dan Semikonduktor
Pemprov Jabar susun klasterisasi investasi di 27 kabupaten/kota untuk menangkap arus modal global yang kini condong ke sektor teknologi tinggi dan padat modal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menggeser strategi besar investasinya. Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Pemprov menyusun klasterisasi investasi di 27 kabupaten/kota untuk menangkap arus modal global yang kini condong ke sektor teknologi tinggi dan padat modal.
Kepala DPMPTSP Jabar, Dedi Taufik mengatakan, pihaknya mencermati adanya pergeseran signifikan dalam peta investasi global. “Kami melakukan pendekatan tematik kewilayahan investasi di Jabar,” ujar Dedi Taufik, Senin 23 Februari 2026.
Menurutnya, pada 2025 tren investasi global didominasi oleh Pusat Data (Data Center) dan semikonduktor. Bahkan, pusat data menyumbang seperlima dari nilai proyek baru secara global.
“Sebaliknya, sektor infrastruktur, energi terbarukan, serta industri yang rentan tarif seperti tekstil, elektronik, dan permesinan justru mengalami penurunan investasi yang tajam,” ucapnya.
Ia menjelaskan, lonjakan nilai investasi semikonduktor yang tidak sebanding dengan jumlah proyek kemungkinan besar dipicu booming kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta kebijakan kedaulatan chip seperti CHIPS Act di Amerika Serikat dan kebijakan serupa di Eropa maupun Asia.
“Tren ini mengindikasikan bahwa arus modal global kini lebih selektif, memprioritaskan proyek strategis bernilai tinggi (high-value) dibandingkan ekspansi kuantitas pabrik konvensional,” terangnya.
Dari hasil klasterisasi bersama pemerintah kabupaten/kota, Jawa Barat diposisikan sebagai pusat pengembangan industri elektronik dan semikonduktor hilir.
“Lokasinya antara lain Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Sukabumi,” ungkapnya.
Selain itu, Jabar juga diproyeksikan menjadi hub ekonomi digital dan pusat data nasional dengan lebih dari 30 perusahaan telah berinvestasi. Kawasan industri di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta menjadi magnet utama.
Pada 2025, kawasan Bodekarpur mencatat realisasi investasi sektor informasi dan komunikasi mencapai Rp26 triliun. Sementara wilayah Bandung Raya meraih Rp3,40 triliun di sektor yang sama.
“Kenaikan investasi pada ekonomi digital dan semikonduktor mencerminkan pergeseran minat investor ke sektor yang dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat,” ucapnya.
Kepala Bappeda Jabar, Dedi Mulyadi menambahkan, arah kebijakan investasi Jabar 2025-2029 juga menekankan realisasi modal di kawasan afirmasi 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Pemprov terus mendorong peningkatan iklim investasi dan kemudahan berusaha.
Tak hanya padat modal, potensi besar juga terbuka di sektor pangan. Dengan proyeksi jumlah penduduk Jabar pada 2030 mencapai 52,69 juta jiwa, kebutuhan pangan dipastikan melonjak signifikan.
Dedi memaparkan, proyeksi kebutuhan beras mencapai 4,28 juta ton per tahun, telur 428 ribu ton per tahun, dan daging ayam 578 ribu ton per tahun.
“Jabar itu krusial dan potensial untuk dijadikan pusat penanaman modal di Indonesia. Lima tahun yang akan datang pertumbuhan penduduknya luar biasa, ini salah satu potensi market bukan hanya sekedar industrinya saja yang dibangun tapi sekaligus juga pasar. Kebutuhan ini dan sembako yang lain akan meningkat secara tajam,” ujarnya.***
Editor : JakaPermana

