Aksi Dari Bandung untuk Perantau Sumatera

Hujan deras dan tanah yang runtuh di Pulau Sumatera tak hanya menyisakan lumpur dan puing. Dampaknya merambat jauh, menyeberangi laut, hingga mengetuk kehidupan para mahasiswa perantau di Kota Bandung. Di tengah keterbatasan, empati menjelma dalam bentuk paling sederhana, sepiring makanan hangat dan uluran tangan tanpa syarat.

Aksi Dari Bandung untuk Perantau Sumatera
Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Air bah bercampur gelondongan kayu menghantam permukiman warga, merenggut ratusan nyawa, memaksa ratusan ribu orang mengungsi, serta memutus akses jalan dan aktivitas ekonomi. Di banyak tempat, kehidupan berhenti mendadak. (cesar yudistira)

INILAHKORAN.ID - Hujan deras dan tanah yang runtuh di Pulau Sumatera tak hanya menyisakan lumpur dan puing. Dampaknya merambat jauh, menyeberangi laut, hingga mengetuk kehidupan para mahasiswa perantau di Kota Bandung. Di tengah keterbatasan, empati menjelma dalam bentuk paling sederhana, sepiring makanan hangat dan uluran tangan tanpa syarat.

Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Air bah bercampur gelondongan kayu menghantam permukiman warga, merenggut ratusan nyawa, memaksa ratusan ribu orang mengungsi, serta memutus akses jalan dan aktivitas ekonomi. Di banyak tempat, kehidupan berhenti mendadak.

Namun bencana itu tidak berhenti di lokasi kejadian. Di Bandung, ratusan kilometer dari kampung halaman mereka, para mahasiswa asal Sumatera ikut merasakan imbasnya. Kiriman uang yang biasa datang di akhir bulan terhenti. Orang tua mereka kehilangan ladang, warung, atau pekerjaan. Sebagian bahkan kehilangan rumah. Para mahasiswa itu bertahan dengan sisa bekal, dihantui kecemasan, dan menunggu kabar dari rumah yang kerap terputus.

Di tengah kegelisahan itu, empati warga Bandung mengalir tanpa sorotan. Salah satunya datang dari sebuah kedai lontong sayur Medan di Jalan Dipatiukur. Pemiliknya, Togar Lubis membuka pintu kedainya bagi para perantau yang terdampak. Ia mempersilakan mereka makan tanpa membayar sepeser pun.

Togar bukan orang asing dengan kehidupan rantau. Ia lahir di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan datang ke Bandung pada 1984 untuk menempuh pendidikan. Ia paham betul beratnya hidup jauh dari keluarga, terlebih ketika kabar dari kampung dipenuhi ketidakpastian.

Tanpa banyak pertimbangan, setelah berbincang dengan anaknya, ia memutuskan menggratiskan jualannya. Pada Kamis, 4 Desember 2025, sebuah spanduk hijau ia pasang di depan kedai. Isinya sederhana, ajakan makan gratis bagi perantau yang terdampak banjir di Sumatera.

Keesokan harinya, empat mahasiswa datang. Mereka menyantap makanan hangat yang disajikan Togar. Tak ada syarat, tak ada pertanyaan berbelit. “Tidak perlu menunjukkan KTP atau kartu mahasiswa. Silakan datang, makan gratis,” ujar Togar.

Baginya, menanyakan terlalu banyak hal justru akan menambah beban pikiran para mahasiswa. Ia merasa cukup ketika seseorang datang dan menyebut berasal dari Aceh, Padang, atau Tapanuli. Dari situlah ia mengerti.

Hari-hari berikutnya, mahasiswa datang silih berganti dari berbagai kampus di Bandung Raya. Ada yang menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan dari UPI Cibiru, hanya untuk menikmati sepiring makan hangat. Togar tak lagi menghitung berapa banyak piring yang keluar dari dapurnya.

Kepedulian itu tak berjalan sendiri. Pemasok bahan makanan ikut menggratiskan dagangan. Bantuan uang datang dari orang-orang yang tersentuh oleh niat baik tersebut. Dari sebuah kedai kecil, lahir jejaring solidaritas yang tumbuh perlahan.

Di bagian lain Kota Bandung, kepedulian serupa tumbuh dari kegelisahan seorang warga bernama Ika Merdekawati. Ia mengikuti kabar banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan perasaan tak tenang. Awalnya, ia dan suaminya ikut berdonasi untuk korban di lokasi bencana.

Namun pikirannya terusik oleh satu hal. Ia membayangkan anak-anak dari daerah terdampak yang sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah, termasuk di Bandung

"Jika orang tua mereka kehilangan mata pencaharian, bagaimana nasib para mahasiswa itu di tanah rantau," kata dia.

Bandung menjadi rumah sementara bagi banyak mahasiswa dari Sumatera. Bencana datang di akhir bulan, waktu yang biasanya menjadi penopang hidup mahasiswa. Ketika kiriman uang terhenti, keguncangan ekonomi pun ikut menjalar.

Berangkat dari keprihatinan itu, Ika dan suaminya mengambil inisiatif pribadi. Tanpa organisasi besar dan tanpa kampanye luas, ia memulai dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Sekeloa, kawasan yang dikelilingi kampus negeri dan swasta. Atas saran rekan-rekannya, jangkauan bantuan diperluas hingga Jatinangor.

Bantuan yang disiapkan berupa makanan dan uang saku. Ika ingin para mahasiswa setidaknya bisa bertahan selama satu minggu. Informasi bantuan disebarkan melalui media sosial. Unggahan di Instagram menyebar dari satu akun ke akun lain, hingga menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.

Pesan masuk melalui pesan langsung. Setiap pengajuan diverifikasi. Kartu mahasiswa dan KTP diperiksa, alamat asal dicocokkan dengan wilayah terdampak, hingga status akademik dipastikan melalui laman perguruan tinggi. Setelah data terkumpul, pekerjaan belum selesai.

Ika memetakan lokasi para mahasiswa yang tersebar di berbagai wilayah Bandung Raya. Dari pemetaan itu, ia menghubungi katering di masing-masing daerah agar distribusi makanan berjalan efektif. 

"Ada makanan yang diantar langsung, ada pula yang dititipkan di mess mahasiswa," katanya.

Hingga pertengahan Desember 2025, sebanyak 87 mahasiswa telah menerima bantuan. Setiap mahasiswa memperoleh uang saku sebesar Rp500 ribu serta makanan dua kali sehari selama tujuh hari. Bantuan itu menjadi penopang hidup bagi sebagian mahasiswa yang sempat tak memiliki uang sama sekali.

Cerita-cerita pilu kerap menyertai proses penyaluran bantuan. Melalui panggilan video, para mahasiswa menunjukkan rumah yang terendam banjir, kebun yang hanyut, atau orang tua yang harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian. Ada pula keluarga yang selamat, namun ekonomi mereka runtuh seketika.

Bagi Ika, cerita itu menjadi pengingat bahwa bencana tidak berhenti di lokasi kejadian. Dampaknya menjalar jauh, hingga ke anak-anak yang berjuang bertahan di perantauan.

Sebagian besar dana bantuan berasal dari kantong pribadi Ika dan keluarganya. Donasi mulai berdatangan belakangan, namun ia memilih menyalurkannya perlahan dan dengan kehati-hatian. Permintaan bantuan sempat datang dari berbagai kota lain, tetapi ia sadar tak mungkin menjangkau semuanya.NILAHKORAN.ID - Hujan deras dan tanah yang runtuh di Pulau Sumatera tak hanya menyisakan lumpur dan puing. Dampaknya merambat jauh, menyeberangi laut, hingga mengetuk kehidupan para mahasiswa perantau di Kota Bandung. Di tengah keterbatasan, empati menjelma dalam bentuk paling sederhana, sepiring makanan hangat dan uluran tangan tanpa syarat.

Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Air bah bercampur gelondongan kayu menghantam permukiman warga, merenggut ratusan nyawa, memaksa ratusan ribu orang mengungsi, serta memutus akses jalan dan aktivitas ekonomi. Di banyak tempat, kehidupan berhenti mendadak.

Namun bencana itu tidak berhenti di lokasi kejadian. Di Bandung, ratusan kilometer dari kampung halaman mereka, para mahasiswa asal Sumatera ikut merasakan imbasnya. Kiriman uang yang biasa datang di akhir bulan terhenti. Orang tua mereka kehilangan ladang, warung, atau pekerjaan. Sebagian bahkan kehilangan rumah. Para mahasiswa itu bertahan dengan sisa bekal, dihantui kecemasan, dan menunggu kabar dari rumah yang kerap terputus.

Di tengah kegelisahan itu, empati warga Bandung mengalir tanpa sorotan. Salah satunya datang dari sebuah kedai lontong sayur Medan di Jalan Dipatiukur. Pemiliknya, Togar Lubis, membuka pintu kedainya bagi para perantau yang terdampak. Ia mempersilakan mereka makan tanpa membayar sepeser pun.

Togar bukan orang asing dengan kehidupan rantau. Ia lahir di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan datang ke Bandung pada 1984 untuk menempuh pendidikan. Ia paham betul beratnya hidup jauh dari keluarga, terlebih ketika kabar dari kampung dipenuhi ketidakpastian.

Tanpa banyak pertimbangan, setelah berbincang dengan anaknya, ia memutuskan menggratiskan jualannya. Pada Kamis, 4 Desember 2025, sebuah spanduk hijau ia pasang di depan kedai. Isinya sederhana, ajakan makan gratis bagi perantau yang terdampak banjir di Sumatera.

Keesokan harinya, empat mahasiswa datang. Mereka menyantap makanan hangat yang disajikan Togar. Tak ada syarat, tak ada pertanyaan berbelit. “Tidak perlu menunjukkan KTP atau kartu mahasiswa. Silakan datang, makan gratis,” ujar Togar.

Baginya, menanyakan terlalu banyak hal justru akan menambah beban pikiran para mahasiswa. Ia merasa cukup ketika seseorang datang dan menyebut berasal dari Aceh, Padang, atau Tapanuli. Dari situlah ia mengerti.

Hari-hari berikutnya, mahasiswa datang silih berganti dari berbagai kampus di Bandung Raya. Ada yang menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan dari UPI Cibiru, hanya untuk menikmati sepiring makan hangat. Togar tak lagi menghitung berapa banyak piring yang keluar dari dapurnya.

Kepedulian itu tak berjalan sendiri. Pemasok bahan makanan ikut menggratiskan dagangan. Bantuan uang datang dari orang-orang yang tersentuh oleh niat baik tersebut. Dari sebuah kedai kecil, lahir jejaring solidaritas yang tumbuh perlahan.

Di bagian lain Kota Bandung, kepedulian serupa tumbuh dari kegelisahan seorang warga bernama Ika Merdekawati. Ia mengikuti kabar banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan perasaan tak tenang. Awalnya, ia dan suaminya ikut berdonasi untuk korban di lokasi bencana.

Namun pikirannya terusik oleh satu hal. Ia membayangkan anak-anak dari daerah terdampak yang sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah, termasuk di Bandung

"Jika orang tua mereka kehilangan mata pencaharian, bagaimana nasib para mahasiswa itu di tanah rantau," kata dia.

Bandung menjadi rumah sementara bagi banyak mahasiswa dari Sumatera. Bencana datang di akhir bulan, waktu yang biasanya menjadi penopang hidup mahasiswa. Ketika kiriman uang terhenti, keguncangan ekonomi pun ikut menjalar.

Berangkat dari keprihatinan itu, Ika dan suaminya mengambil inisiatif pribadi. Tanpa organisasi besar dan tanpa kampanye luas, ia memulai dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Sekeloa, kawasan yang dikelilingi kampus negeri dan swasta. Atas saran rekan-rekannya, jangkauan bantuan diperluas hingga Jatinangor.

Bantuan yang disiapkan berupa makanan dan uang saku. Ika ingin para mahasiswa setidaknya bisa bertahan selama satu minggu. Informasi bantuan disebarkan melalui media sosial. Unggahan di Instagram menyebar dari satu akun ke akun lain, hingga menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.

Pesan masuk melalui pesan langsung. Setiap pengajuan diverifikasi. Kartu mahasiswa dan KTP diperiksa, alamat asal dicocokkan dengan wilayah terdampak, hingga status akademik dipastikan melalui laman perguruan tinggi. Setelah data terkumpul, pekerjaan belum selesai.

Ika memetakan lokasi para mahasiswa yang tersebar di berbagai wilayah Bandung Raya. Dari pemetaan itu, ia menghubungi katering di masing-masing daerah agar distribusi makanan berjalan efektif. 

"Ada makanan yang diantar langsung, ada pula yang dititipkan di mess mahasiswa," katanya.

Hingga pertengahan Desember 2025, sebanyak 87 mahasiswa telah menerima bantuan. Setiap mahasiswa memperoleh uang saku sebesar Rp500 ribu serta makanan dua kali sehari selama tujuh hari. Bantuan itu menjadi penopang hidup bagi sebagian mahasiswa yang sempat tak memiliki uang sama sekali.

Cerita-cerita pilu kerap menyertai proses penyaluran bantuan. Melalui panggilan video, para mahasiswa menunjukkan rumah yang terendam banjir, kebun yang hanyut, atau orang tua yang harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian. Ada pula keluarga yang selamat, namun ekonomi mereka runtuh seketika.

Bagi Ika, cerita itu menjadi pengingat bahwa bencana tidak berhenti di lokasi kejadian. Dampaknya menjalar jauh, hingga ke anak-anak yang berjuang bertahan di perantauan.

Sebagian besar dana bantuan berasal dari kantong pribadi Ika dan keluarganya. Donasi mulai berdatangan belakangan, namun ia memilih menyalurkannya perlahan dan dengan kehati-hatian. Permintaan bantuan sempat datang dari berbagai kota lain, tetapi ia sadar tak mungkin menjangkau semuanya.

Harapannya sederhana, gerakan kecil ini dapat menginspirasi warga di kota lain untuk melakukan hal serupa. Di tengah lumpur dan kehilangan, solidaritas membuktikan bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya, bahkan dari sepiring makanan di sebuah kedai kecil di Kota Bandung.


Editor : Doni Ramdhani