Ancaman 80 Ton Sampah, Farhan Pastikan Distribusi ke TPA Lancar

Pemkot Bandung mengantisipasi risiko penumpukan sampah dengan memastikan distribusi ke TPA tetap lancar dan mengoptimalkan pengolahan biodigester

Ancaman 80 Ton Sampah, Farhan Pastikan Distribusi ke TPA Lancar
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, potensi penumpukan sampah di Kota Bandung masih bisa terjadi jika pengangkutan ke tempat pembuangan akhir (TPA) mengalami kemacetan.

Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengantisipasi risiko tersebut dengan memastikan distribusi sampah ke TPA tetap lancar dan mengoptimalkan pengolahan melalui teknologi biodigester.

“Karena itu, langkah antisipasi pertama yang kita lakukan adalah memastikan tidak boleh ada kemacetan pengangkutan ke TPA,” kata Farhan, Sabtu 7 Februari 2026.

Menurut ia, apabila delapan truk sampah tidak dapat membuang muatan ke TPA dan terpaksa menginap. Maka sekitar 80 ton sampah berpotensi menumpuk di dalam Kota Bandung.

“Sekarang kalau delapan truk mogok dan menginap, berarti ada potensi 80 ton sampah menumpuk di Kota Bandung,” ucapnya.

Menghindari kondisi tersebut, Pemkot Bandung mulai mengoptimalkan teknologi biodigester sebagai solusi pengolahan sampah di dalam kota. Farhan menekankan, keberhasilan biodigester sangat bergantung pada ketersediaan lokasi penampungan dan pengolahan.

“Yang paling penting dari biodigester, adalah tersedianya tempat penampungan dan tempat pengolahan,” ujar dia.

Ia menjelaskan, volume sampah sebesar 80 ton per hari tidak mungkin ditangani di satu lokasi saja. Karena itu, pengolahan sampah dilakukan dengan cara memecahnya ke beberapa titik di wilayah Kota Bandung.

“Karena 80 ton itu tidak mungkin ditangani di satu lokasi, maka kita pecah ke berbagai titik untuk membantu pengolahan dengan biodigester,” jelasnya.

Farhan pun mengungkapkan, persoalan kemacetan di TPA bukan hal baru bagi Kota Bandung. Pada periode sebelumnya, kondisi serupa pernah diatasi dengan penggunaan insinerator sebagai solusi darurat.

“Sebetulnya insinerator bisa menyelesaikan persoalan ketika TPA selalu macet. Minimal delapan truk kita harus menginap di sana setiap hari. Delapan truk itu berarti sekitar 80 ton sampah,” ujar dia.

Saat itu, ketika sampah tidak dapat dibawa ke TPA. Pemkot Bandung melakukan pemusnahan sampah di dalam kota untuk mencegah terjadinya penumpukan. “Ketika 80 ton tersebut tidak bisa dibawa ke TPA, maka kita lakukan pemusnahan di Kota Bandung. Fungsinya supaya tidak terjadi penumpukan,” ucapnya.

Farhan berharap, optimalisasi biodigester dan pengawasan distribusi ke TPA dapat mencegah krisis sampah. Sekaligus menjadi langkah transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.


Editor : Ahmad Sayuti