Angka Kematian Ibu di Jabar Masih Tinggi, 88,78 Kasus Tiap 100 Ribu Kelahiran

Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Barat masih terbilang tinggi. Tercatat, 646 kasus terjadi, atau 88,78 kasus tiap 100 ribu kelahiran hidup.

Angka Kematian Ibu di Jabar Masih Tinggi, 88,78 Kasus Tiap 100 Ribu Kelahiran
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - angka kematian ibu (AKI) di Provinsi Jawa Barat masih terbilang tinggi. Tercatat, 646 kasus terjadi, atau 88,78 kasus tiap 100 ribu kelahiran hidup.

Kondisi ini diungkap Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat, dalam seminar daring, Rabu (22/4/2026).

Kepala DP3AKB Jabar, Siska Gerfianti mengakui, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengendalian jumlah penduduk dan pembangunan keluarga.

Mulai dari target Total Fertility Rate (TFR) yang meleset, dari harapan 2,02 justru hanya mampu di 2,07 di 2025.

“Ini mungkin banyak yang terlewat dalam pencatatan KB-nya, sehingga angka kelahiran menjadi tinggi. Kita perlu pelajari bersama kenapa angka TFR ini bisa naik,” ujar Siska.

Selain AKI masih tinggi, angka kematian Bayi (AKB) juga turut disorot. Sebab telah terjadi 5.037 kasus atau 6,92 per 1.000 kelahiran hidup. Menyikapi persoalan ini, ia menekankan pada program Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP).

Empat keutamaan KBPP, yakni mengatur jarak kelahiran secara ideal, mencegah kehamilan berisiko tinggi, menurunkan AKI dan AKB, serta mendukung pencegahan dan percepatan penurunan stunting harus dilakukan.

“Dengan jarak kehamilan yang optimal, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu sering, ibu dapat memulihkan kondisinya dengan baik sebelum mempersiapkan kehamilan berikutnya,” ucapnya.

Penguatan KBPP harus dilakukan mulai dari peningkatan akses dan kualitas pelayanan yang merata, penguatan pendampingan kepada sasaran secara optimal, serta pengembangan sinergi lintas sektor yang terintegrasi. 

Ia mendorong kader PKK, bidan, penyuluh KB, dan seluruh tenaga lini lapangan untuk aktif menjangkau keluarga-keluarga yang memerlukan layanan KB pasca persalinan.

Pengendalian kelahiran melalui program KB juga harus digenjot, baik melalui kontrasepsi jangka panjang seperti vasektomi maupun jangka pendek, dengan menggunakan kondom.

Selain itu, pekerjaan rumah (PR) lainnya di Jabar kata Siska, mengenai ketahanan keluarga. Sebab angka perceraian di Jawa Barat mencapai 98.903 ribu kasus pada 2025 lalu.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak juga masih tinggi, sekitar 3.500 kasus pada tahun lalu, sesuai data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni). 

Penyebabnya, dipicu oleh maraknya pinjaman online (Pinjol) dan judi online (Judol) yang menjerat banyak keluarga.***


Editor : JakaPermana