Angka Kematian Ibu Disorot Kemenkes, Dinkes Jabar: Rasio Terus Turun

Dinkes Jabar menjelaskan rasio kematian ibu di Jawa Barat turun menjadi 88 per 100.000 kelahiran hidup, di bawah angka nasional.

Angka Kematian Ibu Disorot Kemenkes, Dinkes Jabar: Rasio Terus Turun
Kepala Dinkes Jabar Raden Vini Adiani Dewi

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat memberikan penjelasan terkait sorotan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengenai tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat.

Kepala Dinkes Jabar Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, persoalan tersebut perlu dilihat secara proporsional dengan membedakan jumlah kasus secara absolut dan rasio kematian ibu berdasarkan 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Vini, rasio angka kematian ibu di Jawa Barat justru menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.

"Saya menyampaikan, kenapa angka kematian ibu kita itu tinggi, itu prevalensi. Ya, karena prevalensinya itu dihitung dari 100.000 kelahiran," kata Vini di Kota Bandung, Jumat (25/9/2026).

Vini menyebut, rasio angka kematian ibu di Jawa Barat saat ini berada di angka 88 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 97 per 100.000 kelahiran hidup.

"Ya, dari tahun kemarin kita 97, turun sekarang udah di 88 per 100.000 kelahiran hidup," ujarnya.

Ia mengatakan, rasio tersebut juga berada di bawah angka nasional yang menurut data Dinkes Jabar berada di kisaran 120 hingga 122 per 100.000 kelahiran hidup.

"Nasional sekarang 120-an per 100.000, kita udah di 88," katanya.

Vini menjelaskan, tingginya jumlah kasus kematian ibu di Jawa Barat secara absolut tidak terlepas dari jumlah penduduk yang besar. Sekitar 20 persen penduduk Indonesia berada di Jawa Barat.

Dengan jumlah penduduk yang besar, jumlah kasus kematian ibu secara absolut dapat terlihat tinggi. Namun, indikator yang digunakan untuk mengukur kematian ibu adalah rasio per 100.000 kelahiran hidup.

"Jadi Kemenkes itu menyatakan kenapa tertinggi, ya karena jumlah penduduk kita tertinggi. Jadi kalau Jawa Barat mah semua tertinggi, karena jumlah penduduknya tertinggi," ucap Vini.

Vini mencontohkan, besarnya jumlah penduduk Jawa Barat membuat jumlah kasus secara absolut tinggi meski rasio kematian ibu disebut lebih rendah dibandingkan angka nasional.

"20 persen (penduduk) Indonesia ada di Jawa Barat dan dihitungnya per 100.000, berarti kan otomatis prevalensinya jadi tertinggi. Tapi secara data riil kita justru jauh. Kemenkes secara nasional kita 122, kita di 88," tuturnya.

Selain rasio, Vini menyebut jumlah kasus kematian ibu di Jawa Barat juga mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat penurunan sekitar 100 kasus kematian ibu dari 2024 ke 2025.

"Tahun ini tuh turun sampai 100 kasus aja dari 2024 ke 2025. Malah 2026 ini kita semoga turun terus, kan dihitungnya per tahun ya," kata Vini.

Sorotan Menkes

Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (14/9/2026).

Budi mengatakan, kematian ibu dan bayi masih menjadi tantangan kesehatan Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

"Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya," kata Budi dalam rapat tersebut.

Dalam rapat itu, Budi menyebut angka kematian bayi di Indonesia mencapai sekitar 30 ribu kasus per tahun, sedangkan kematian ibu berada di kisaran 4.000 kasus per tahun.

Jawa Barat turut mendapat perhatian karena disebut sebagai salah satu daerah dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi.

"Jawa Barat tuh termasuk yang paling tinggi angkanya. Dan itu jadi di rumah sakit paripurna. Ada tiga kota, tiga kabupaten di Jawa Barat yang paling tinggi," ucap Budi.


Editor : Ahmad Sayuti