AS Perluas Latihan Bantuan Bencana RIMPAC 2028, Fokus Respons Kemanusiaan Global

Amerika Serikat akan memperluas latihan bantuan kemanusiaan RIMPAC 2028 usai dinilai sukses meningkatkan kesiapan dan kerja sama 30 negara.

AS Perluas Latihan Bantuan Bencana RIMPAC 2028, Fokus Respons Kemanusiaan Global
Personel Marinir TNI AL menggelar simulasi mempertahankan desa sekaligus mengevakuasi warga sipil dari serangan musuh dalam ajang Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 di Pulau Griffon, MOUT 1, Marine Corps Training Area Bellows (MCTAB), Hawaii, Sabtu (25/07/2026)./antarafoto

INILAHKORAN.ID-Amerika Serikat memastikan akan memperluas operasi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) atau bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana dalam latihan militer multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2028.

Keputusan itu diambil setelah pelaksanaan HADR pada RIMPAC 2026 dinilai berhasil meningkatkan kesiapan dan koordinasi negara-negara peserta dalam menghadapi krisis kemanusiaan.

Commander Combined Task Force (CCTF) RIMPAC 2026, Jeffrey T. Jablon, mengatakan latihan HADR menjadi salah satu aspek paling sukses dalam RIMPAC 2026 sehingga akan diperluas pada edisi berikutnya.

"Latihan ini begitu berhasil sehingga kami akan memperluas operasi HADR dalam RIMPAC 2028," kata Jablon dalam pengarahan media virtual yang diikuti ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurut Jablon, latihan HADR pada RIMPAC 2026 mempertemukan unsur militer, lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), serta pengamat internasional untuk melatih berbagai skenario penanganan bencana.

Materi latihan mencakup penanganan korban dalam jumlah besar, triase medis, koordinasi logistik, hingga distribusi bantuan kemanusiaan secara cepat ke wilayah terdampak.

"Kegiatan-kegiatan ini meningkatkan kemampuan kami untuk merespons dalam waktu yang sangat singkat dan memperkuat kepercayaan serta interoperabilitas yang kami andalkan ketika masyarakat di seluruh Pasifik dan dunia membutuhkan bantuan," ujarnya.

Jablon menjelaskan bahwa peningkatan interoperabilitas menjadi kunci keberhasilan latihan bersama tersebut. Interoperabilitas merupakan kemampuan berbagai sistem, organisasi, dan personel dari negara berbeda untuk saling terhubung, bertukar informasi, serta bekerja sama secara efektif dalam situasi darurat.

RIMPAC 2026 Libatkan 30 Negara

RIMPAC 2026 menjadi salah satu latihan militer multinasional terbesar di dunia dengan melibatkan 30 negara, lebih dari 30.000 personel, 31 kapal perang, lima kapal selam, serta lebih dari 190 pesawat yang berlatih di kawasan Hawaii selama beberapa pekan.

Indonesia juga turut ambil bagian dalam latihan tersebut dengan mengirimkan 35 personel Marinir TNI Angkatan Laut.

Selama pelaksanaan latihan, peserta menjalankan lebih dari 500 kegiatan maritim, sekitar 2.400 sorti penerbangan, serta menghadapi lebih dari 5.000 skenario latihan yang mencakup operasi maritim, udara, amfibi, hingga siber.

Selain fokus pada bantuan kemanusiaan, RIMPAC 2026 juga menguji lebih dari 35 eksperimen teknologi baru, termasuk penggunaan sistem nirawak, pencetakan komponen menggunakan printer 3D di kapal, pengiriman logistik melalui drone otonom, hingga pengisian ulang perbekalan di laut tanpa awak.

Jablon menegaskan kerja sama multinasional melalui RIMPAC menjadi semakin penting karena tantangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik tidak dapat dihadapi oleh satu negara saja.

"Ketika negara-negara saling mengenal, berlatih bersama, dan berkomunikasi dengan baik, mereka dapat merespons dengan lebih cepat dan lebih efektif, baik terhadap tantangan keamanan, krisis kemanusiaan, maupun bencana alam," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana