Atalia: Saya Tak Tutupi Kasus Pesantren, Kami Fokus Pemulihan Kondisi Korban
Istri Gubernur Jabar, Atalia Praratya menyampaikan klarifikasi soal tudingan tak mengekspos kasus kekerasan yang menimpa sejumlah santri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Istri Gubernur Jawa Barat, Atalia Praratya menyampaikan sejumlah klarifikasi soal tudingan tidak mengekspos kasus kekerasan yang menimpa sejumlah santriwati oleh Herry Wirawan.
Atalia Praratya membantah menutupi kasus tersebut. Namun ada banyak faktor, salah satunya berupaya memahami kondisi psikologis korban.
Diketahui, sebelumnya Atalia Praratya telah mengungkapkan mengetahui kasus tersebut sejak Mei lalu. Namun pernyataanya tersebut dinilai sebagai upaya menutup-nutupi oleh banyak pihak dan netizen.
"Sesungguhnya saya sangat memahami kemarahan netizen terhadap kondisi ini,” ujar Atalia, Senin, 13 Desember 2021.
Baca Juga: Begini Kondisi Terkini 11 Santriwati Garut Korban Rudapaksa HW Guru Pesantren di Bandung
Menyikapi tudingan tersebut, dia memaparkan sejumlah klarifikasi. Pertama, menurut Atalia, Polda Jabar, UPTD PPA Jabar, P2TP2A kota kabupaten, kejaksaan tinggi, LPSK, dan pihak lainnya telah bekerja dengan profesional sejak ditemukannya kasus ini.
"Penjangkauan, pemeriksaan, pendampingan, trauma healing dan lain-lain bagi korban dan proses hukum bagi pelaku sudah dilakukan. Bahkan saat ini persidangan telah digelar untuk yang keenam kalinya. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” paparnya.
Pihaknya juga ingin menghindari predikat pahlawan kesiangan dan cari sensasi, Atalia mengaku memilih fokus pada pemulihan kondisi para korban.
"Saya tidak menutupi kasus ini dari media maupun publik. Tidak mengekspos bukan berarti menutupi. Sebagai Bunda Forum Anak Daerah Jabar, tugas saya memastikan para korban usia anak ini mendapat haknya dan mendapatkan perlindungan terbaik sesuai dengan UU Perlindungan Anak. Fokus pada solusi bukan sensasi,” tegasnya.
Dia menilai dinamika yang berkembang saat ini, dengan gencarnya pemberitaan di media massa dan media sosial seperti yang pihaknya khawatirkan, patut disayangkan.
“Karena tiba- tiba ada banyak pihak yang berusaha mencari identitas dan mendekati para korban/orang tuanya untuk menggali cerita mereka, mengusik kembali hidup mereka,” ujarnya.
Dia meminta semua pihak perlu memperhatikan kondisi psikologis para korban dan orangtua mereka. Ada 5 korban yang belum sekolah dan 3 korban dikeluarkan dari sekolah karena diketahui telah memiliki anak.
Baca Juga: Jeritan Hati Keluarga Korban Rudapaksa HW sang Guru Pesantren di Bandung, 'Harapan Kami Mati Suri'
“Kondisi mereka yang awalnya sudah mulai menerima keadaan, kini kembali cemas dan trauma. Bahkan ada yang ingin keluar dari sekolah dan pindah dari kampung halamannya,” katanya.
Menurutnya perlindungan bagi korban, termasuk dari pemberitaan, penting agar korban lain pada kasus lain, berani melapor.
“Sampai saat ini saya telah berkoordinasi dengan banyak pihak memastikan langkah cepat dan paling aman agar para korban dibawah umur ini mendapatkan hak periindungan sesuai dengan UU Perlindungan Anak, memastikan masa depannya, pendidikannya serta pengakuan hukum atas bayi yang dilahirkannya,” katanya.
Baca Juga: Kemenag Kota Bandung Pindahkan 35 Santriwati dari Pesantren Oknum Guru Cabul Berinisial HW
Pihaknya juga mengajak semua pihak, baik masyarakat maupun media massa untuk bersama-sama saling membantu memberikan rasa aman pada korban dengan fokus pada hukuman berat bagi pelaku, sehingga hal biadab seperti ini tidak terjadi. (rianto nurdiansyah)
Editor : inilahkoran


