Atasi Kenaikkan Harga Daging Sapi, Albapsi Minta Pemerintah Turun Tangan
Albapsi Kabupaten Bandung menlai harus ada campur tangan pemerintah dalam mengatasi kenaikkan harga daging sapi jika perlu melakukan import
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Aliansi Pedagang Bandar dan Pedagang Daging Sapi Indonesia (Albapsi) Kabupaten Bandung, mendesak pemerintah untuk segera melakukan campur tangan soal terus naiknya harga daging sapi sejak dua pekan terakhir ini.
Albapsi Kabupaten Bandung menilai jika kenaikkan harga dibiarkan berlarut-larut, harga daging sapi bisa terus melambung dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat.
Ketua Albapsi Kabupaten Bandung, Yayat Sumirat mengatakan, harga daging dipasaran saat ini antara Rp 120 ribu hingga Rp 130 ribu per kilogram. Kenaikan ini terus merangkak sejak dua pekan lalu. Harga dua pekan lalu itu antara Rp 80 ribu sampai dengan Rp 110 ribu perkilogram dan terus merankak naik hingga hari ini Rp 130 ribu perkilogram.
Baca Juga: Sepekan, Sebanyak 14 Orang Pasien Positif Covid-19 di Garut Meninggal Dunia
Kenaikan harga ini tentu sangat menyulitkan para pedagang, karena meski pembelian naik mereka tidak bisa seenaknya ikut menaikan harga jual kepada konsumen.
"Dengan harga pembelian kami hari ini yah idealnya harga jual di Rp 140 ribu perkilogram. Namun karena menyesuaikan dengan daya beli masyarakat, tetap kami juga di harga Rp 120 hingga Rp 130 per kilogram. Sehingga pendapatan kami menurun dan omzet penjualan turun sekitar 30 persen," kata Yayat melalui sambungan telepon, Senin 28 Februari 2022.
Dikatakan Yayat, pasokan atau ketersediaan sebenarnya cukup banyak. Namun harga jual terus naik, sehingga tergantung keberanian pedagang untuk membeli dari bandar atau peternak.
Ia menduga kenaikan ini terjadi karena permainan oknum-oknum pengusaha besar yang sengaja menimbun sapi mereka. Sehingga terjadi kenaikan harga diluar kewajaran. Apalagi, untu komoditas daging sapi ini perdagangannya diserahkan kepada mekanisme pasar.
"Kalau saya hitung tidak ada komponen yang bisa menyebabkan kenaikan. Karena untuk daging itu antara suplay dan demandnya tetap. Saat ini juga memang banyak peternak yang menunda penjualan sapi jantannya karena untuk dijual saat Idul Adha, itu memang ada pengaruh terhadap kondisi saat ini, tapi rasanya tidak signifikan yah,"ujarnya.
Mencermati keadaan saat ini, lanjut Yayat, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk segera melakukan campur tangan. Yakni impor daging beku ataupun impor sapi hidup siap potong dari negara-negara eksportir seperti India dan Australia. Dengan begitu, diharapkan dapat menstabilkan harga daging di dalam negeri.
"Pemerintah melalui Kementrian Pertanian dan Dirjen Peternakannya harus segera ambil langkah cepat. Kalau tidak sekarang dilakukan impor, harga saat bulan puasa dan Idul Fitri bisa diatas Rp 150 ribu pe r kilogramnya," katanya.
Baca Juga: Operasi Pasar Minyak Goreng, 60 Ribu Liter untuk 31 Kecamatan di Kabupaten Bandung
Mengenai ajakan untuk mogok dagang sebagai aksi protes, Yayat menilai tidak perlu dilakukan. Karena meski tidak berdagang, operasional seperti upah pekerja tetap menjadi tanggungjawab pedagang.
Namun demikian, jika kondisi semakin memburuk dan memerlukan aksi mogok dagang sebagai ungkapan kekecewaan, ia dan para pedagang yang tergabung dalam wadah Albapsi pun siap menggelar aksi solidaritas sesama pedagang daging sapi. (Rd Dani R Nugraha).
Editor : inilahkoran


