Awas Tertukar, Ini Bedanya Sholat Syuruq dan Sholat Dhuha

Banyak yang bertanya tentang perbedaan sholat syuruq dan sholat dhuha. Maklum, karena banyak juga yang menganggapnya sama.

Awas Tertukar, Ini Bedanya Sholat Syuruq dan Sholat Dhuha
SALAT hukumnya wajib bagi setiap muslim. Salat merupakan amalan yang akan pertama kali dihisab oleh Allah di hari Akhir nanti. Salat merupakan pembeda antara muslim dengan kafir./net

INILAHKORAN, Bandung- Banyak yang bertanya tentang perbedaan sholat syuruq dan sholat dhuha. Maklum, karena banyak juga yang menganggapnya sama. Begini penjelasannya:

Ustaz Ammi nur Baits dikutip konsultasisyariah.com menjelaskan, Dhuha adalah nama untuk waktu. Secara bahasa “Dhuha” diambil dari kata ad-Dhahwu [arab: الضَّحْوُ] artinya siang hari yang mulai memanas. (Al-Ain, kata: ضحو).

Baca Juga: Air Mani Perempuan, Bagaimana Ciri-cirinya dalam Islam?

Allah berfirman:

“Di surga kamu tidak akan menglami kehausan dan kepanasan karena sinar matahari” (QS. Thaha: 119).

Kaitannya dengan makna bahasa kata dhuha, pada ayat di atas, Allah menyebutkan kenikmatan ketika di surga, salah satunya tidak kepanasan karena sinar matahari, yang itu diungkapkan dengan kata: [وَلَا تَضْحَى].

Baca Juga: Awas! Inilah 5 Jenis Gangguan Setan Ketika Kita Salat

Sedangkan menurut ulama ahli fiqh, Dhuha artinya,

“Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari). (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221).

Nama “shalat dhuha” dikaitkan kepada waktu. Seperti shalat dzuhur, atau shalat maghrib, dst. Nama-nama ini dikaitkan dengan waktu. Sehingga shalat dhuha berarti shalat yang dilaksanakan di waktu dhuha.

Sebagaian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa waktu mulainya shalat dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.

Baca Juga: Akhiri Salat dengan Doa Ini, Insya Allah Terlindung dari Lilitan Utang

Sebagian ulama syafi’iyah lainnya berpendapat bahwa shalat Dhuha dimulai ketika matahari sudah setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi’i dan Ibn Rif’ah.

Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ketika beliau menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab: “Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” (Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167). Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Shalat Syuruq

Syuruq artinya terbit. Syaraqat as-Syamsu [شَرَقَتِ الشَّمْسُ] artinya matahari terbit.

Istilah shalat syuruq juga dikaitkan dengan waktu. Shalat syuruq berarti shalat yang dikerjakan di waktu matahari terbit.

Diantara syarat dalam pelaksanaan shalat syuruq yang perlu diperhatikan, shalat ini dikerjakan ketika matahari sudah meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata manusia. Karena ketika matahari tepat di garis terbit, kita dilarang melakukan shalat.

Baca Juga: Usai Salat Subuh Jangan Tidur Lagi! Baca Doa Ini Agar Rezeki Lancar

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:

“Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami: [1] ketika matahari terbit sampai tinggi, [2] ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan [3] ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim 1926)

Berdasarkan penjelasan di atas, berarti mulainya waktu dhuha dan waktu syuruq itu sama, yaitu ketika matahari telah terbit setinggi satu tombak. Sehingga kesimpulannya “shalat syuruq adalah shalat dhuha di waktu yang paling awal.”

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

Shalat sunah syuruq termasuk shalat dhuha, hanya saja dikerjakan di awal waktu, ketika matahari terbit, dan sudah naik sekitar satu tombak, itulah syarat isyraq. Namun jika dilakukan di akhir waktu atau di pertengahan waktu maka statusnya shalat dhuha. (Liqa’at Bab al-Maftuh, 24/141).

Baca Juga: Dua Salat Sunah yang tak Ditinggalkan Rasulullah

Sehingga orang yang mengerjakan shalat syuruq hakekatnya dia mengerjakan shalat dhuha.

Bagi orang yang sudah mengerjakan shalat syuruq, bolehkah mengerjakan shalat dhuha?

Ustaz Ammi nur Baits menyimpulkan, shalat dhuha tidak harus dilakukan di satu titik waktu, tapi boleh dikerjakan di sepanjang rentang waktu dhuha, yaitu sejak matahari setinggi satu tombak hingga sebelum waktu istiwa’ (matahari tepat di tengah).

Baca Juga: Kerja Sering Lembur, Bablas Nggak Salat Subuh, Bagaimana Hukumnya?

Karena itu, bagi yang sudah mengerjakan shalat dhuha di awal waktu, dia boleh mengerjakan shalat dhuha di akhir waktu, misal jam 6:30 mengerjakan shalat syuruq, sewaktu di kantor mengerjakan shalat dhuha.***

 


Editor : inilahkoran