Bait-bait Sajak Membaca Arah Pembangunan

PEMBANGUNAN Jabar dibaca dari sudut yang berbeda. Bukan melalui laporan panjang, melainkan lewat sajak-sajak sederhana.

Bait-bait Sajak Membaca Arah Pembangunan
KRITIK PEMBANGUNAN: Kritik terhadap arah pembangunan Jawa Barat dituangkan anggota DPRD Jabar, Daddy Rohanady melalui dua buku berbentuk sajak.

Kritik terhadap pembangunan tak selalu lahir dari ruang sidang. Di tangan Anggota DPRD Jawa Barat Daddy Rohanady, kritik itu justru menemukan bentuknya dalam bait-bait sajak.

Dua buku menjadi medium bagi Daddy untuk merekam gagasan, kegelisahan sekaligus pandangannya terhadap politik dan arah pembangunan Jawa Barat. Keduanya adalah Sajak-sajak Perjuangan: Antara Perut dan Maut dan Sajak-sajak Pembangunan: Kertajati.

Kedua buku tersebut dibedah dalam rangkaian Festival Literasi Jawa Barat 2026 di Dispusipda Jabar, Kota Bandung, Selasa (15/9).

Seratusan pelajar SMA hadir, mendengarkan bagaimana politik dan pembangunan diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana: sajak.

Bagi Daddy, sajak bukan sekadar permainan kata, tapi menjadi cara untuk menyimpan pengalaman sekaligus menyampaikan kritik.

“Sebenarnya dua-duanya buku politik. Hanya satu mengarah ke pemerintahan, satu mengarah ke partai tempat saya bernaung,” kata Daddy usai bedah buku.

Buku pertama lebih banyak merefleksikan perjalanan politik dan perjuangan partai yang menjadi tempatnya bernaung. Sementara buku kedua membawa pembaca menelusuri berbagai persoalan pembangunan di Jawa Barat.

Di dalamnya ada perhubungan, infrastruktur, lingkungan hidup hingga sumber daya mineral. Berbagai sektor itu dicatat Daddy melalui sajak-sajak yang lahir dari perjalanan dan pengamatannya.

“Saya menulis beraneka ragam sektor, ya. Mau perhubungan, mau bina marga, mau lingkungan hidup, mau sumber daya mineral, semua saya tuliskan di situ. Tapi juga memang sesederhana mungkin,” tuturnya.

Kesederhanaan menjadi pilihan. Daddy tidak ingin pesan pembangunan tenggelam dalam kata-kata yang terlalu rumit. Terlebih, buku tersebut juga diarahkan agar dapat dibaca generasi muda.

Baginya, sajak harus mampu membawa pembaca langsung pada persoalan yang ingin disampaikan. Tentang Citarum, misalnya. Tentang Gerakan Citarum Harum. Tentang proyek-proyek pembangunan yang menurutnya perlu dilihat kembali.

“Saya ingin mengingatkan poin-poinnya supaya, ‘Oh, ternyata di Jawa Barat itu bidang pembangunan lingkungan hidup ada ini.’ Lingkungan hidup ada Citarum, Gerakan Citarum Harum, GCH. Silakan dilihat,” ujarnya.

Dia juga menyinggung proyek Caringin yang berkaitan dengan sektor sumber daya air. Menurut Daddy, proyek tersebut menjadi salah satu contoh persoalan pembangunan yang perlu mendapat perhatian.

“Jabar udah keluar Rp40-an miliar, tapi ternyata pusatnya bilang mau turun Rp400, (miliar) batal,” katanya. Di situlah sajak menemukan fungsi lain. Bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk mengingatkan.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran