INILAH,Bandung- Para pedagang dan warga yang selama ini mengais rejeki di kawasan objek wisata alam Kawah Cibuni atau Kawah Rengganis di Desa Patengang Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung mengeluhkan ditutupnya tempat tersebut sejak sekitar empat bulan lalu. Padahal, tempat itu adalah satu-satunya mata pencaharian mereka.
Berdasarkan pantauan INILAH, objek wisata air panas yang selama ini dikelola oleh penduduk asli Kampung Kawah Cibuni itu nampak lengang. Warung-warung yang biasanya ramai oleh pembeli nampak sepi, bahkan beberapa diantaranya tutup. Beberapa anak kecil bermain-main di halaman warung yang juga merangkap area parkir sepeda motor. Sesekali beberapa orang pengunjung terlihat lalu lalang disekitaran kolam pemandian air panas.
"Sejak sekitar empat bulan tutup karena PPKM. Tempat ini ditutup, jalan masuk juga diportal dan dijaga oleh satpam. Pengunjung enggak boleh masuk. Nah baru seminggu terakhir ini saja mulai lonnggar, katanya sih satpamnya lagi sakit," kata Rian Pratap (36) salah seorang pedagang yang juga salah seorang tokoh muda di kampung itu saat berbincang dengan Inilahkoran di kediamannya yang merangkap warung itu, Kamis (7/10/2021).
Dikatakan Rian, di kampung Kawah Cibuni itu dihuni oleh 18 orang Kepala Keluarga (KK). Semua warga disini, menggantungkan hidup di tempat pemandian air panas yang juga dikeramatkan itu. Ada yang membuka warung seperti dirinya, ada juga yang bekerja merawat dan membersihkan lokasi objek wisata, penjaga parkir motor hingga jasa ojek motor. Namun sejak adanya kebijakan PPKM, objek wisata tersebut ditutup oleh sekelompok orang yang katanya pemegang Hak Guna Usaha (HGU) kawasan Kawah Cibuni tersebut.
"Karena ditutup sama sekali enggak ada pengunjung. Kami yang sehari-hari mencari nafkah disini cuma bisa ngelus dada. Warung sepi anak-anak yang bekerja menjaga kebersihan, merawat kolam, parkir dan lainnya jadi nganggur enggak ada pekerjaan. Saya suka sedih dan ngelus dada apalagi saat anak minta uang jajan dan bekal sekolah," ujar Rian.
Menurut Rian, sepanjang diberlakukannya PPKM, ia dan warga lainnya sama sekali tidak pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos) apapun dari pemerintah. Jadi selama ini, mereka berkutat dengan kesusahannya sendiri akibat dampak dari diberlakukannya PPKM. Disisi lain, tempat mereka mengais rejeki pun saat ini ditutup oleh pihak swasta pemegang HGU lembah Gunung Patuha yang mengandung belerang dan sumber air panas itu.
"Kalau dalam keadaan normal, rata-rata dalam sepekan itu penghasilan warung kami sekitar Rp 1 juta. Begitu juga dengan pendapatan kawan-kawan yang berjaga disini yah adalah sekitar Rp 800 ribu perbulannya, itu setelah sharing penghasilan dengan pihak Desa Patengan, kaum jompo dan lainnya. Nah karena sekarang tutup, sebagai rakyat kecil yah cuma bisa meratapi nasib saja. Soalnya percuma mau ngadu ke pemerintah juga enggak pernah didengarkan," katanya.
Hal senada dikatakan Ika (25) salah seorang pedagang lainnya di tempat itu. Kata dia, sejak diberlakukannya PPKM, objek wisata pemandian air panas dan jiarah tersebut ditutup. Otomatis usaha warung yang diwariskan orang tuanya itu sepi. Karena tak ada pengunjung, penghasilanya pun anjlok hampir 100 persen.
"Baru seminggu ini mulai ada lagi pengunjung, sebelumnya kan ditutup sama sekali enggak boleh ada pengunjung. Yah kami pedagang kerepotan enggak ada penghasilan. Semoga saja keadaan ini segera berakhir, kalau terus-terusan seperti ini kami enggak akan kuat lagi," katanya.
Rian dan masyarakat di Kampung Kawah Cibuni ini berharap agar pemerintah memerhatikan nasib mereka. Keinginan mereka pun tak muluk-muluk, hanya meminta agar objek wisata air panas dan jiarah itu segera dibuka kembali. Agar mereka bisa kembali mencari nafkah untuk keluarganya.
"Yang namanya urusan isi perut kan enggak bisa menunggu yah. Ini satu-satunya tanah air tempat kami lahir dan mencari nafkah, kalau dilarang kami mau kemana lagi dong," kata Rian.*** (rd dani r nugraha).