Foto Essay: Molis Booth Dongkrak Laba Penjual Ketan Cetak

Hasil tidak mengkhianati usaha. Itu dirasakan Yulianti, wanita 43 tahun yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah TK dekat rumahnya.

Foto Essay: Molis Booth Dongkrak Laba Penjual Ketan Cetak

INILAHKORAN, Bandung - Hasil tidak mengkhianati usaha. Itu dirasakan Yulianti, wanita 43 tahun yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah taman kanak-kanak dekat rumahnya di kawasan Cinambo, Kota Bandung.

Mengetahui pendapatan yang tak seberapa untuk menghidupi keluarganya, Yuli beserta suaminya memutar otaknya agar dapat menghidupi kebutuhan bersama empat anaknya. Berbagai usaha ia lakukan dari berjualan tanah liat hingga pernak-pernik aksesori di sekolah.

Namun usaha yang ia lakukan tak melulu berbuah manis. Saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 lalu, ia pun merasakan dampaknya. Melihat kondisi tersebut tidak membuat mereka menyerah. Ia banting setir dengan membuat produk makanan Ketan Cetak Bu Yuli.

Usaha yang ia tekuni hingga kini menjadi salah satu pendapatan untuk melanjutkan hidup bersama keluarganya. Pukul 03.00 pagi Yuli mulai meninggalkan rumahnya dengan mengandalkan angkutan umum dan berjalan kaki. Ia rela menanggalkan rasa malunya untuk menjajakan dagangannya dengan menyusuri pasar Ujungberung, pasar Gedebage, dan keluar masuk perumahan agar laku.

Sampai ia mendapatkan informasi dari kantor kelurahan mengenai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang memberikan bantuan gerobak motor listrik atau Molis Booth bagi sejumlah pelaku usaha mikro kecil (UKM) di Kota Bandung. PLN UID Jawa Barat menyerahkan sebanyak 12 molis booth untuk pelaku UKM dengan tujuan meningkatkan taraf ekonomi para pelaku UKM serta berkontribusi dalam menciptakan udara bersih dengan menggunakan alat transportasi berbahan bakar listrik.

Beruntung ia terpilih menjadi salah satu peserta yang mendapatkan Molis Booth PLN. Berkat hasil kerja kerasnya berkeliling untuk menjual produk ketan cetaknya, dimana menjadi salah satu kriteria yang dipersyaratkan pada program TJSL. Dengan adanya molis booth, pelaku UKM seperti Yuli dapat lebih menghemat biaya operasional serta meningkatkan penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Hal itu yang dirasakan Yuli, sangat terbantu meringankan usahanya dari segi biaya operasionalnya oleh program PLN tersebut. Dalam sepekan ia mengeluarkan biaya operasionalnya hanya Rp11.000, lebih murah tujuh kali lipat dari biaya sebelum menggunakan molis.

Otomatis omzet yang ia peroleh pun meningkat, karena selain berjualan tempat langganannya, ia dapat berkeliling di lokasi yang strategis untuk berjualan seperti pasar kaget dan tempat keramaian lainnya.

Dengan adanya bantuan tersebut Yuli berharap usaha yang ia jalani saat ini makin berkembang agar ia dapat membiayai kehidupan serta membiayai cita-citanya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Juga dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi sekitarnya agar tidak mudah menyerah di zaman yang penuh tantangan ini. (Syamsuddin Nasoetion)


Editor : inilahkoran