Sanggup Bertahan Hingga Generasi Ke empat Sejak Berdiri Tahun 1916, Ternyata Ini Rahasia Wajit Cililin

Wajit Cililin Hj Siti Romlah ternyata memiliki rahasia besar dengan menjaga keaslian hingga mampu bertahan di generasi ke empat

Sanggup Bertahan Hingga Generasi Ke empat Sejak Berdiri Tahun 1916, Ternyata Ini Rahasia Wajit Cililin
Poster Wajit Cililin yang merupakan makanan khas Kabupaten Bandung Barat dan telah hadir sejak tahun 1916. Kini di tengah beragam kekayaan kuliner khas, Wajit Cililin masih menjadi idola masyarakat dan mampu bertahan hingga generasi ke empat.

INILAHKORAN, Ngamprah,- Sanggup bertahan hingga generasi ke empat sejak berdiri sekitar tahun 1916, ternyata ini rahasia Wajit Cililin.

Wajit Cililin merupakan makanan khas Kabupaten Bandung Barat yang berasal dari Cililin dan telah hadir sejak tahun 1916 hingga kini memasuki generasi ke empat. Untuk tetap bertahan ternyata ada rahasia yang hingga kini terus dijaga.

Wajit Cililin memang memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak tahun 1916 hingga generasi ke empat di tahun 2021 ini masih menjadi makanan khas kebanggaan yang diminati masyarakat.

Baca Juga: Indonesia Juara Piala AFF 2020? Ini Catatan Shin Tae Yong Menangi Laga-laga Mustahil Termasuk Bungkam Jerman

Melambungnya nama Wajit Cililin tak lepas dari peran dua orang asli Cililin yang bernama Juwita dan Uti. Keduanya merupakan sosok-sosok yang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916.

Kemudian dilanjutkan Irah yang kemudian mengganti brand dengan nama Wajit Cililin Ibu Hj. Siti Romlah, diteruskan kepada anaknya Faisal dan berlanjut kepada Syamsul Ma'arif sebagai generasi keempat pembuat Wajit Cililin.

"Saya generasi ketiga penjual wajit, awal bikin tahun 1916 terus dijual secara serius tahun 1936 setelah dipegang sama ibu irah. Dari situ wajit terus berkembang secara bisnis," kata Syamsul Ma'arif yang merupakan generasi ke empat pembuat Wajit Hj Siti Romlah, Senin 27 Desember 2021.

Baca Juga: Selewengkan Dana BLT, Kades Tenjomaya Diringkus Polisi

Menurut Syamsul Ma'arif, pascadikomersilkan, penganan wajit kini menjamur dan diproduksi oleh sebagian besar warga Cililin. Kendati demikian, dengan maraknya pembuat wajit berdampak pula terhadap kepercayaan konsumen terhadap keaslian Wajit Cililin.

"Sekarang kenapa wajit banyak yang disebut engga asli, karena ketannya mereka sudah dicampur dengan bahan bahan lain, engga tahu apa," ungkapnya.

"Kemudian mungkin beras, umbi-umbian, buah-buahan saya engga tahu. Cuman ada beberapa laporan kalau ada wajit rasa buah ini, sepeti ada umbi ini, saya juga belum pernah membuktikan dari konsumen yang bilang seperti itu," imbuh Syamsul Ma'arif.

Baca Juga: Masa Angkutan Nataru, Hingga Hari Ini Daop 2 Bandung Tidak Berangkatkan KA Tambahan

Kendati demikian, ia mengaku, belum bisa membuktikan keaslian informasi tersebut lantaran tidak memiliki bukti.

Namun, jika konsumen yang mengatakan hal itu patut dipercayai lantaran mereka mencari barang yang bagus dan mencari kepuasan.

Ia menilai, hal tersebut bisa menjadi ancaman bagi penganan Wajit Cililin lantaran masyarakat mengeneralisasikan nama Cililin yang secara otomatis bakal berdampak kepada para pengusaha wajit.

Baca Juga: Profil Anya Geraldine yang Berperan Sebagai Lydia di Film Series Layangan Putus

"Kalau misalkan orang atau produsen yang buatnya balik lagi seperti dahulu lebih mengutamakan kualitas dan kekhasan, karena setiap pabrik itu punya ciri khas yang seharusnya jangan dihilangkan," ujarnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, wajit sebetulnya memiliki sifat heterogen lantaran memiliki ciri khas masing-masing untuk dijual ke konsumen nantinya.

Disinggung strategi menyiasati agar Wajit Hj Siti Romlah tetap terjaga, ia menyebut, dirinya akan terus mempertahankan proses pembuatannya seperti zaman dahulu.

Baca Juga: Inilah Fokus Komisi I DPRD Jabar Terhadap Kinerja Pemprov pada 2022

Kendati saat ini berbagai teknologi sudah masuk, dirinya akan mencoba memakai mesin namun dengan tetap menjaga kualitas.

"Nantinya akan membuat atau merancang mesin sendiri yang sesuai dengan kebutuhan tanpa menghilangkan ciri khas atau keaslian wajit itu sendiri," sebutnya.

Dengan demikian, tambah dia, produk yang dihasilkan bisa lebih banyak tanpa mengurangi kualitas wajitnya.

Baca Juga: Waduh!! Dewan Sebut Ada Dugaan Pungli di PT Longrich

"Sekarang permintaan wajit lebih banyak sebetulnya. Kalau misalkan ada yang rajin buat statistik tiap tahun peningkatan wajit itu meningkat," ujarnya.

"Tiap tahun permintaan wajit meningkat, indikasinya ada di mana, pemakaian bahan baku semakin meningkat tiap tahun, gula, ketan dan segala macamnya," pungkas Syamsul Ma'arif.***(agus satia negara)


Editor : inilahkoran