INILAHKORAN- Jumlah kamera pengintai atau CCTV disejumlah ruas jalan di Kabupaten Bandung masih terbilang minim.
Padahal, keberadaan kamera CCTV sangat berguna untuk berbagai keperluan, termasuk pengungkapan suatu peristiwa yang terjadi di jalanan.
Kamera CCTV hanya ada beberapa titik di Kabupaten Bandung, diantaranya Simpang Pemda, Simpang Desa Soreang, terus di Tol Seroja, Simpang Gading, di Rancamanyar, daerah Sadu dan Nagreg. Kondisinya dalam keadaan baik.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Isnuri mengakui adanya kekurangan jumlah CCTV yang cukup banyak. Hal tersebut disebabkan oleh ketersediaan anggaran. Dijelaskan Isnuri, CCTV itu memerlukan kabel optik sehingga memerlukan anggaran yang cukup besar. Tapi sebenarnya, untuk penyediaan kabel optik dan servernya sudah ada dukungan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).
“Memang idealnya sih harus banyak, karena kita punya banyak simpang, kita punya banyak ruas yang harus kita pantau, mungkin diatas 100 an,” kata Isnuri di Soreang, Rabu (29/12/2021).
Dikatakan Isnuri, untuk mengatasi kekurangan CCTV tersebut, Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung selalu berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat dan juga Kementerian Perhubungan agar bisa mendapatkan bantuan teknis tentang CCTV tersebut. Penggunaan CCTV di persimpangan juga dipantau oleh Polresta Bandung, Kodim hingga Dishub Provinsi Jabar.
“Sebenarnya CCTV ini bisa menjadi sumber untuk nanti ataupun barang bukti kronologis kejadian juga bisa, soalnya sudah beberapa kali juga dari pihak kepolisian meminta untuk rekaman tentang kejadian-kejadian,” ujarnya.
Jika melihat rencana kerja (renja) untuk satu hingga dua tahun ke depan, lanjut Isnuri, memang belum ada rencana penambahan atau pengadaan untuk belanja CCTV tersebut. Padahal pihaknya berkeinginan memiliki CCTV yang bisa langsung mendeteksi plat nomor.
“Kami masih hitung untuk penganggarannya, karena langsung ke plat nomor untuk yang e-tilang, persiapan kesana ya. Jadi, kalau sudah ada CCTV, kita ke e-tilangnya lebih mudah,” katanya.
Isnuri juga menyinggung traffic light Simpang Pemda Soreang yang sudah ketinggalan jaman alias berusia tua. Sehingga, ketika ada kerusakan pihaknya kesulitan mencari suku cadangnya. Kata dia, traffic light tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika bisa diganti maka diganti, tapi bilamana tidak bisa diganti maka hanya akan dilakukan perbaiki.
“Kalau ada anggaran sih bagusnya diganti dengan yang digital, itu sudah komputerisasi seperti yang di Simpang Seroja, tinggal dikasih internet maka ATCS berjalan. Satu titik ATCS itu bisa Rp1 miliar sampai Rp2 miliar dengan semua perangkatnya. Sampai sekarang belum ada rencana diganti karena anggarannya,”ujarnya.(rd dani r nugraha).***