INILAHKORAN, Ngamprah - Sampah menjadi permasalahan yang tak kunjung usai, bahkan pemerintah pun hingga saat ini masih terus mencari solusi yang tepat untuk mengentaskan permasalahan tersebut.
Di Kabupaten Bandung Barat (KBB) misalnya, hingga akhir tahun 2021 tercatat tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang dalam sehari menerima kiriman sampai mencapai 150 ton dari 10 kecamatan di KBB.
Melihat kondisi tersebut, Nano Sukarno warga Kampung Kandang Sapi RT04/RW01, Desa Bongas, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berinovasi mengubah sampah menjadi Biomas, yakni bahan bakar yang terbuat dari sampah atau limbah.
Nano mengaku, dirinya mulai mengolah sampah menjadi Biomas sejak 2015, namun konsen terhadap inovasi tersebut pada 2019. Menurutnya, pengolahan sampah menjadi bahan bakar merupakan sebuah inovasi baru di KBB.
Ia menyebut, sudah banyak para investor yang melirik inovasi Biomas yang dibuatnya, seperti dari Norwegia, Kamboja dan Brazil.
"Tapi sayang, Pemda KBB belum melirik potensi dari inovasi ini," katanya saat ditemui, Jumat 4 Februari 2022.
Ia menuturkan, permasalahan energi di KBB sebenarnya masih sangat kompleks. Salah satunya berkaitan dengan gas elpiji sebagai bahan bakar utama penunjang kehidupan masyarakat.
"Saat ini kebutuhan bahan bakar gas elpiji menjadi permasalahan yang krusial bagi warga KBB, terutama di wilayah selatan, seperti Rongga," tuturnya.
Menurutnya, hal itu terjadi lantaran minimnya daya beli masyarakat setempat yang notabene bermata pencaharian bertani dan berkebun.
"Mahalnya harga gas ditambah dengan kelangkaan gas menjadi beban bagi masyarakat setempat," tuturnya.
Kendati saat ini pihaknya menunggu dukungan pemerintah, sambung dia, namun pihaknya berencana melakukan pengembangan inovasi Biomas ini.
Sejumlah inovasi yang dibuat merupakan bahan bakar yang berbahan dasar sampah, seperti wood pelet bahan bakar yang terbuat dari limbah kayu.
"Menariknya produk ini lebih dikenal di daerah Klungkung, Bali ketimbang KBB," katanya.
Kemudian, lanjut dia, pihaknya pun berinovasi membuat bahan bakar dari sampah softex, pampers, diapers yang disebut briket sampah.
"Ada juga yang terbuat dari batok kelapa dan arang biasa dari kayu," ujarnya.
Ia menyebut, pihaknya bakal melakukan uji coba di daerah Bongas, Cililin KBB, namun terkendala dengan peralatan. Kendati membutuhkan mesin, namun peralatan dari alam seperti keramba dari bambu tetap dibutuhkan untuk menjaga kualitas produk.
Adapun teknik yang digunakan untuk membuat briket sampah ini dengan metode peuyeumisasi dan alatnya yang disebut bioaktivator. Kendati demikian, sebelumnya sampah tersebut dicacah kasar hingga halus.
"Sampah kemudian dimixer dan ditambah zat perekat, seperti tepung kanji dan ditambahkan bakteri khusus untuk selanjutnya dibentuk," terangnya.
"Untuk Wood pelet dijual seharga Rp 2.000-Rp 2.500 per kilogram, briket sampah Rp 1.500- Rp 2.000, sementara arang batok Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram," sambungnya.
Lebih jauh ia menuturkan, pihaknya pun juga membuat inovasi kompor guna melengkapi produk bahan bakar Biomas.
"Kompor juga sama terbuat dari sampah dan dijual dikisaran harga Rp 600 hingga Rp 800 ribu," ujarnya.
Ia mengaku, harga kompor sedikit lebih mahal dari kompor gas pada umumnya, namun ada kelebihan lantaran ada sentuhan teknologi elektrik juga di dalamnya.
"Mudah-mudahan, Pemda KBB bisa turut mendorong dan mendukung inovasi ini, karena ini menjadi solusi terhadap permasalahan sampah yang selama ini belum terselesaikan," tandasnya. *** (agus satia negara).