Canangkan SSK, Sonya Fatmala: Anak-anak di KBB Perlu Tahu Bonus Demografi
Ketua P2TP2A KBB Sonya Fatmala berharap anak-anak di wilayahnya mendapatkan edukasi melalui Sekola Siaga Kependudukan (SSK).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) KBB, Sonya Fatmala menilai anak-anak di wilayahnya perlu mendapat edukasi melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
Menurut Sonya Fatmala, anak-anak itu harus tahu bonus demografi agar ke depannya mereka bisa merencanakan kehidupannya masing-masing di kemudian hari.
"Supaya mereka bisa merencanakan pernikahan diumur berapa, termasuk agar memicu mereka lebih peduli terhadap masalah kependudukan yang ada di KBB," kata Sonya Fatmala kepada wartawan, Kamis 21 April 2022.
Baca Juga: Kunjungi Pasar di Kabupaten dan Kota Bogor, Presiden Jokowi Gelontorkan Bantuan
Oleh karenanya, terang dia, dengan dicanangkannya SSK di berbagai sekolah di wilayah KBB bisa mewujudkan cita-cita Indonesia 2045 dan mewujudkan Indonesia emas.
"Jadi sudah tidak ada lagi stunting, tidak ada lagi pernikahan dini, pengangguran semakin sedikit, anak-anak semakin kreatif, inovatif dan mau memajukan dirinya sendiri," terangnya.
Sementara itu, Guru SMPN 2 Ngamprah sekaligus Tim Penulis Buku Panduan Provinsi, Hilman Latief menyebut, program SSK ini sudah ada sejak 2014 silam.'
Dari 184 SMP di KBB, SMPN 2 Ngamprah masuk menjadi salah satu dari 17 sekolah SSK.
"Tujuan SSK ini supaya siswa lebih memahami permasalahan penduduk di lingkungan sekitar mereka," bebernya.
Ia menjelaskan, SSK ini terintegrasi dengan mata pelajaran IPS dan telah dibuatkan rencana pelaksanaan pembelajarannya.
Baca Juga: Musim Depan, Persib Kembali Promosikan Pemain Junior
"Misalnya, kondisi penduduk di sekitar lingkungan mereka bisa mencatat jumlah penduduk, berapa golongan orang tuanya dan menikah di umur berapa. Dengan begitu, mereka bisa mengenal lingkungan sekitar," jelasnya.
Dalam pelaksanaan pelajaran SSK IPS, terang dia, para siswa ini dikelompokkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Baca Juga: Rawat Toleransi di Kota Bogor, Vihara Dhanagun Tebar Sembako untuk Anak Yatim
"Dengan demikian para siswa terlibat langsung dalam suatu kegiatan proyek untuk menghasilkan suatu produk," pungkasnya.***(agus satia negara).
Editor : inilahkoran


