Bangunan SMPN 1 Sindangkerta Terancam Digusur Lantaran Dijadikan Koperasi Merah Putih

Unggahan di akun Instagram @smpn1sindangkerta menarik perhatian banyak pihak, setelah mengungkapkan SMPN 1 Sindangkerta sebagai sekolah yang telah berdiri puluhan tahun terancam digusur.

Bangunan SMPN 1 Sindangkerta Terancam Digusur Lantaran Dijadikan Koperasi Merah Putih
Kabarnya, gedung SMPN 1 Sindangkerta bakal dialihfungsikan menjadi bangunan Koperasi Merah Putih yang diprogramkan Presiden Prabowo Subianto. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Unggahan di akun Instagram @smpn1sindangkerta menarik perhatian banyak pihak, setelah mengungkapkan SMPN 1 Sindangkerta sebagai sekolah yang telah berdiri puluhan tahun terancam digusur.

Kabarnya, gedung SMPN 1 Sindangkerta bakal dialihfungsikan menjadi bangunan Koperasi Merah Putih yang diprogramkan Presiden Prabowo Subianto. 

Alhasil, kabar ini menuai keprihatinan karena sekolah masih aktif digunakan sebagai sarana pendidikan bagi puluhan bahkan ratusan siswa SMPN 1 Sindangkerta di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
 
Menurut keterangan di akun Instagram tersebut, rencana pembongkaran akan dilakukan pada awal Januari 2026 oleh pihak Pemerintahan Desa Sindangkerta. Lokasi sekolah yang berada di Jalan Raya Sindangkerta akan diubah fungsi menjadi gedung Koperasi Merah Putih.
 
Padahal, sebagian bangunan SMPN 1 Sindangkerta telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama bertahun-tahun, berdiri di atas tanah milik desa dan masih beroperasi secara penuh. Ruangan yang akan terkena dampak antara lain Ruang Tata Usaha, Ruang Guru, 2 Ruang Kelas Siswa, Dapur, Toilet, hingga Gerbang Depan Sekolah.
 
Rencana ini membuat banyak pihak khawatir akan mengganggu jalannya proses belajar mengajar dan membahayakan hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 

Dalam unggahannya, akun @smpn1sindangkerta menyatakan bahwa pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan dikorbankan untuk keperluan lain.
 
“Kita khawatir jika pembongkaran dilakukan, aktivitas sekolah akan terganggu parah. Siswa bisa saja kehilangan ruang kelas, dan guru serta staf tidak punya tempat untuk bekerja,” tulis akun tersebut.
 
Tak hanya masyarakat, sebagian besar alumni SMPN 1 Sindangkerta juga telah mengumpulkan diri untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pembongkaran. 

Mereka berharap pihak desa dapat mencari alternatif lain, seperti memanfaatkan tanah kosong milik desa yang belum terpakai, tanpa harus mengganggu sekolah yang masih berjalan.
 
“Sekolah ini adalah tempat kita menimba ilmu dulu. Kita tidak bisa melihatnya hanya hilang begitu saja tanpa solusi yang jelas. Harapannya, ada kesempatan untuk berdialog dan menemukan titik temu yang mengedepankan kepentingan anak-anak kita,” lanjutnya.
 
Masyarakat dan komunitas pendidikan di wilayah Sindangkerta berharap pihak terkait dapat membuka ruang dialog yang sinergis. Mereka menekankan bahwa kebijakan harus selalu mengutamakan masa depan generasi muda, karena pendidikan adalah pondasi kemajuan suatu daerah.
 
“Saat ini kita masih menunggu tanggapan resmi dari pemerintah desa dan pihak terkait. Semoga keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi semua pihak, terutama bagi siswa dan dunia pendidikan di sini,” lanjutnya.


Editor : Doni Ramdhani