Banjir Parah Landa Aceh Timur, Kerugian Sementara Ditaksir Tembus Rp5,39 Triliun
BPBD Aceh Timur mencatat nilai kerugian sementara akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai Rp5,39 triliun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Timur menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Timur mencatat nilai kerugian sementara akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai Rp5,39 triliun.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Afifullah, mengatakan estimasi kerugian tersebut mencakup kerusakan rumah warga, fasilitas umum, infrastruktur vital, hingga dampak ekonomi masyarakat. Banjir yang terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Aceh Timur membuat proses pendataan masih terus berjalan.
“Angka ini masih bersifat sementara karena sejumlah wilayah belum sepenuhnya terjangkau akibat kondisi akses yang terputus,” ujar Afifullah dikutip Senin 15 Desember 2025.
BPBD mencatat kerusakan rumah warga tergolong masif. Sebanyak 6.717 unit rumah mengalami rusak berat, 4.671 unit rusak sedang, dan 7.040 unit rusak ringan. Selain hunian warga, banjir juga merusak berbagai fasilitas publik, mulai dari jembatan, jalan, rumah ibadah, sekolah, meunasah, dermaga, hingga fasilitas pelayanan masyarakat lainnya.
Ratusan Ribu Warga Terdampak
Banjir yang dipicu curah hujan tinggi dan meluapnya sejumlah sungai besar sejak akhir November 2025 berdampak pada 267.714 jiwa dari 64.610 kepala keluarga yang tersebar di 433 gampong pada 24 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, 44.941 jiwa dari 11.897 keluarga terpaksa mengungsi di 689 titik pengungsian. Sementara 3.434 jiwa dari 1.024 keluarga memilih bertahan di rumah meski dengan keterbatasan kondisi.
Korban Jiwa dan Kendala Penanganan
Ketinggian banjir dilaporkan bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai tiga meter di wilayah terparah. Bencana ini juga menimbulkan korban manusia, dengan 52 orang meninggal dunia, 894 warga mengalami luka ringan, dan 306 orang luka berat.
Dalam penanganan darurat, BPBD menghadapi sejumlah hambatan, antara lain pemadaman listrik, terganggunya transportasi akibat keterbatasan bahan bakar minyak, terputusnya jaringan komunikasi, serta minimnya perahu karet untuk evakuasi dan distribusi bantuan.
“Masih ada wilayah yang terisolasi karena jembatan rusak, longsor, dan akses jalan terputus. Ini menjadi tantangan besar dalam penanganan darurat,” jelas Afifullah.
Editor : Firda Rachmawati

