Bantu Korban Kekerasan Daycare, Pemkot Yogyakarta Bentuk Tim Psikologis
Pemerintah Kota Yogyakarta kini bentuk tim psikologis khusus untuk membantu korban kekerasan dan penelantara dari Daycare Little Aresha.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Usai terkuaknya kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kini fokus pada psikologis korban.
Pemkot Yogyakarta kini membentuk tim untuk mendampingi secara psikologis anak-anak korban kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan bahwa orang tua korban minta perlindungan untuk anaknya, termasuk pendampingan psikologis anak-anak karena telah mengalami kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha.
"Karena anak-anak yang sekarang ini dirasakan ada beberapa anak dengan tanda-tanda yang kurang sehat secara psikologis, sehingga kami sudah diskusi dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dengan dinas segera setelah ini langsung rapat untuk membentuk tim pendampingan," ubgkap Hasto Wardoyo.
Tim pendampingan psikologis ini dibentuk dengan melibatkan berbagai ahli yang dibutuhkan, seperti ahli psikologi anak, ahli tumbuh kembang anak, ahli gizi untuk asupan anak, termasuk ahli pengasuhan..
"Sudah kami catat perlakuan-perlakuan yang diindikasikan dilakukan kepada anak-anak mereka," katanya
Dia melanjutkan, "mereka bersedih kami juga ikut sangat bersedih, karena apa yang dia ceritakan membuat kita sebagai orang tua itu bisa membayangkan seperti apa anak yang tidak bisa protes, dan anak yang belum punya 'bergaining position' seperti apa tapi ada perlakuan itu," ungkapnya.
Tidak hanya anak-anaknya, orang tua juga mengalami gangguan karena stres dengan kondisi yang mengejutkan tersebut, sehingga orang tua menangis dan menginginkan pendampingan secara psikologi kepada orang tuanya.
"Sehingga kita pun juga bersama-sama menyiapkan pendampingan, dan kita punya psikolog-psikolog yang ada di psikolog klinis di puskesmas jumlahnya ada 18 psikolog juga kita siapkan," terangnya.***
Editor : Irma Nurfajri

