Batik Difabel, Seni yang Menembus Batas
BELASAN penyandang disabilitas di UPTD Griya Harapan Difabel menorehkan keindahan melalui batik. Mereka menggabungkan kreativitas, tradisi, dan sejarah Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - BELASAN penyandang disabilitas di UPTD Griya Harapan Difabel menorehkan keindahan melalui batik. Mereka menggabungkan kreativitas, tradisi, dan sejarah Jabar.
Di balik kekurangan selalu ada kelebihan. Ungkapan itu menggambarkan potensi belasan penyandang disabilitas di UPTD Griya Harapan Difabel.
Goresan demi goresan tangan-tangan terampil para penyandang disabilitas membentuk motif indah di atas helaian kain. Corak beragam yang dihasilkan, mampu menghipnotis bagi siapa yang melihat.
Keahlian mereka tak terlepas dari program kelas batik yang digagas UPTD Griya Harapan Difabel, di bawah naungan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Barat.
"Ini merupakan salah satu program pemberdayaan bagi pembatik Jawa Barat dan kita bikin Batik Griya Difabel," kata Kepala Pusyansos UPTD Griya Harapan Difabel, Andina Rahayu, Rabu 11 Februari 2026.
Andina mengatakan, produk-produk batik yang dihasilkan di UPTD seluruhnya dibuat anak-anak disabilitas dengan berbagai kekurangan, mulai dari tunawicara, tunadaksa dan lainnya.
"Nah, mereka itu tadinya alumni dari UPTD Griya Harapan Difabel. Kita kan punya kelas lukis, kita punya kelas batik. Kita cari nih anak-anak yang unggul itu buat jadi pembatik," ujarnya.
Dalam kelas batik ini, lanjut Andina, mereka juga harus belajar tentang sejarah dan budaya. Sebab, batik yang mereka buat nantinya bertemakan sejarah dan budaya, khususnya di Jawa Barat.
Andina mengaku tak kesulitan membina dan membimbing anak-anak didiknya. Sebab, kelas batik yang digelar selama sepekan sekali itu mengajarkan mereka lebih dalam untuk membuat batik.
"Jadi kita ada kelas itu seminggu sekali buat mereka. Kelas melukis seminggu sekali, kelas membatik seminggu sekali. Mereka belajar dulu. Nah nanti kalau sudah lulus alumninya, nanti kita pilih yang mana nih yang bagus buat ngebatik," terangnya.
Bahkan, sebut Andina, batik hasil tangan kreatif anak-anak disabilitas tersebut sudah pernah dipakai salah satu girlband papan atas Korea, yakni Twice.
"Oh, sudah dipakai sama Twice, K-Pop Korea ya. Iya, waktu itu tuh ada acara Twice datang ke Indonesia. Nah, dipakai sama mereka. Kemudian juga udah sekarang pemasarannya di lingkup pemerintahan. Kemarin dipesan oleh Kemensos juga, gitu. Sama perangkat daerah yang di Jawa Barat, buat ngebantu mereka," bebernya.
Namun untuk skala nasional, Andini mengakui penjualan Batik Difabel ke berbagai provinsi di Indonesia belum bisa terealisasi. Dia berharap hal itu bisa segera terlaksana.
"Kalau di nasional belum. Kalau yang keluar provinsi ya, yang pulau-pulau belum, belum ada. Kita belum memasarkan sampai ke situ. Makanya tolong dong di ini, dibantu biar dikenal," ucapnya.
Andina menyebut, kebanyakan para penyandang disabilitas itu merupakan anak-anak tidak mampu dan mendapat pelatihan selama 15 tahun di UPTD Griya Harapan Difabel.
"Terus, mereka direhabilitasi sosial, mereka dikasih bimbingan sosial, bimbingan mental, kemudian juga dikasih keterampilan inti di sini itu," sebutnya.
Lebih lanjut Andina menambahkan, Batik Griya Difabel itu sudah berjalan sejak 2020. Produk yang dihasilkan pun tak sebatas batik, tapi merambah ke tumbler, notebook, fesyen lain hingga tas.
"Perusahaan-perusahaan juga bisa pesan ke kita dan untuk logonya dari mereka," katanya.
Sementara untuk harga, lanjut Andina, sejumlah produk tersebut dijual cukup bervariatif. Sebut saja batik tulis dijual seharga Rp350 ribu, notebook Rp100 ribu dan tumbler Rp175 ribu.
Sebenarnya, lanjut Andina, usaha batik tulis tersebut didekasikan untuk mereka (anak-anak disabilitas) agar memiliki penghasilan.
"Kalau kita mah enggak mengambil keuntungan sama sekali, tapi semuanya buat kesejahteraan para pembatik itu," imbuhnya.
Andina menambahkan, para pembatik yang diasuhnya ada 15 orang mulai dari usia 18-35 tahun. Bahkan, ada juga yang sudah membuka usaha secara mandiri.
"Ada yang udah mandiri dan bikin gambar vektor. Kalau anak-anak lebih membuat corak dengan tema budaya," tegasnya.
Andina pun berpesan agar masyarakat bangga menggunakan produk lokal atau UMKM dan mencintai produk-produk dalam negeri. "Mari melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

