Baso Laswi, Rasa Tradisi dengan Sentuhan Kekinian
Dari gerobak sederhana hingga outlet luas, Baso Laswi kini jadi favorit warga Bandung. Resep bakso kampung dengan daging melimpah jadi kunci kesuksesannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dari gerobak sederhana hingga outlet luas, Baso Laswi kini jadi favorit warga Bandung. Resep bakso kampung dengan daging melimpah jadi kunci kesuksesannya.
Berawal dari iseng, Ajie Pangestu kini menikmati hasil yang tak pernah dia bayangkan. Usaha kuliner yang dia geluti, Baso Laswi, kini meraup omzet rata-rata Rp300 jutaan per bulan, meski usianya baru seumur jagung.
“Awalnya, saya mulai usaha Baso Laswi ini pertengahan 2023,” kata Ajie saat ditemui di outlet utamanya di Jalan Laswi, Kota Bandung, Rabu 4 Februari 2026.
Sebelumnya, pria penyuka warna biru ini sempat menggeluti bisnis tas dan aksesoris fesyen, namun berhenti karena berbagai faktor.
Ide membuat bakso lahir dari rasa iseng. Bersama partnernya, Ajie mencoba meracik bakso bercitarasa jadul, atau bakso kampung, dengan daging yang melimpah.
“Dari awal kita pengin membuat bakso jadul, bakso kampung. Tapi bakso ini pakai dagingnya banyak,” ujarnya.
Outlet di Jalan Laswi memang menjadi titik awal, yang dulu hanya berupa gerobak sederhana. Kini, setelah empat tahun berjalan, outlet itu lebih luas dan nyaman.
Baso Laswi bahkan sudah memiliki cabang di Margacinta dan Cimahi, namun outlet asli tetap memiliki tempat istimewa di hati Ajie dan pelanggannya.
Kesuksesan Baso Laswi tak lepas dari dukungan keluarga dan lingkungan. Ajie mengaku, pelajaran dari orang tua tentang kerja keras dan mandiri menjadi modal utama.
“Dari dulu, bapak sama ibu selalu mengajarkan kalau pengen sesuatu itu harus dibarengi usaha sendiri,” kenangnya.
Popularitas Baso Laswi juga menarik perhatian bank bjb. Melalui kemitraan dalam skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan aktivasi bisnis, Baso Laswi diberi suntikan modal sekaligus fasilitas pembayaran cashless dengan QRIS.
Bahkan, brand Baso Laswi sempat membuka booth di Proliga 2026 di GOR Sabilulungan, Kabupaten Bandung, yang mendongkrak penjualan 10–20% sekaligus meningkatkan brand awareness.
Selain menguntungkan pemilik, Baso Laswi juga membuka lapangan pekerjaan. Di outlet Jalan Laswi, Ajie kini mempekerjakan 13 orang, meningkat pesat dari awal hanya empat orang. Jumlah pekerja pun bertambah jika digabungkan dengan outlet Margacinta dan Cimahi.
Segmentasi pasar Baso Laswi pun cukup luas. Konsumen terbagi antara generasi muda dan senior, dengan tren meningkatnya keluarga sebagai pembeli setia.
Produksi dilakukan melalui dapur sentral di Jalan Gatot Subroto, Maleer, yang mengolah 50 kg daging sapi per hari dengan pengawasan kualitas ketat.
Ajie pun menilai ekosistem kreatif Bandung sangat mendukung pertumbuhan bisnisnya.
“Banyak orang kreatif yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Ini sangat membantu saya dan rekan mengembangkan bisnis baso ini,” ujarnya.
Selain mempertahankan resep klasik, Ajie terus berinovasi. Beberapa menu baru seperti bakso keju dan bakso pedas menjadi favorit pelanggan muda.
“Kami ingin Baso Laswi tetap punya cita rasa kampung, tapi bisa diterima generasi sekarang yang suka rasa lebih berani,” jelasnya.
Tak hanya soal rasa, Ajie juga fokus pada pengalaman pelanggan. Dari interior outlet yang nyaman hingga pelayanan cepat, dia ingin setiap pengunjung merasa senang dan betah berlama-lama.
Pendekatan ini pun membuat banyak pelanggan kembali dan merekomendasikan Baso Laswi ke teman atau keluarga.
Ke depan, Ajie memiliki visi untuk memperluas jaringan Baso Laswi hingga ke kota-kota besar di Jawa Barat. Dia berharap, Baso Laswi bisa menjadi simbol kuliner kampung yang modern, menggabungkan tradisi rasa lokal dengan manajemen bisnis profesional.
Kini, Baso Laswi bukan sekadar bisnis kuliner. Baso Laswi menjadi simbol keberhasilan, kerja keras, dan kreativitas, sekaligus menghidupi keluarga mungil Ajie dengan cita rasa masa kini yang tetap bernuansa kampung.
Editor : Doni Ramdhani

